Tujuh Tahun Enam Bulan Tanpa Ingatan

Aku bukan seorang juru tulis, tak bisa menarik hati dengan rangkaian kata yang kugoreskan dalam lembaran kertas ini. Namun, kuharap kisahku yang jarang dijumpai membuatmu menatapnya lekat tanpa ada yang terlewat.

Aku dilahirkan di sebuah kota kecil tanpa nama. Sebenarnya ia tentu bernama, hanya aku tak tahu apa. Bukan hanya tempat lahir yang aku lupakan, tetapi juga seluruh kenanganku sebelum peristiwa itu.

Anak lelaki berusia sekitar tujuh atau delapan tahun, hanya itu yang mereka tahu saat menampungku setelah kebakaran itu. Akhirnya aku  mencoba mengatakan pada diriku sendiri bahwa sekiranya umurku tujuh tahun enam bulan, hanya supaya mereka tak khawatir akan keadaanku. Memang baik sekali keluarga itu, pasangan kakek-nenek yang kehilangan anak cucu mereka dalam kobaran api. Beberapa hari lalu mereka tiba di Jakarta untuk memastikan apakah benar mayat hitam mengering itu Anela, sang cucu kesayangan yang baru berusia tujuh tahun. Setelah banyak umpatan penuh isak dilontarkan di rumah sakit itu, mereka menemukanku.

Pande, lelaki yang kerap menemaniku setelah kebakaran membawa pasangan tua itu ke kamarku. Pande bercerita bagaimana akukehilangan keluarga dalam kebakaran yang sama. Keadaanku  sangat buruk, luka bakar menyelimuti kaki, tangan serta tubuh bagian kananku. Ia berkata pada mereka bagaimana aku tak ingat sama sekali kejadian sebelum kebakaran itu. Aku menutup mata rapat, menarik erat selimut putih bergaris biru yang kemarin dibawakannya untukku. Kuharap mereka tak sadar bahwa aku terjaga.

———-

Kenapa aku terlalu malas menyelesaikan yang lama? Justru kesenangan bikin plotting baru aaa -____-

Share

Leave a Reply