#7 – Tentang Perempuan

Kamu jangan mau dipanggil wanita—kamu itu perempuan. Wanita itu artinya wani ditata. Kalau perempuan asalnya dari kata empu, yang mengayomi dan dihormati.

—Taufiq, 2015

 

Sekitar seminggu lalu ada teman yang mengirimkan sebuah tautan artikel ke saya. Dari tautan itu saya mulai mengenal sosok Sheila Abdus-Salaam, perempuan Muslim African-American pertama yang berposisi sebagai hakim di Amerika Serikat.

Setelah sebuah pencarian singkat, saya langsung dibuat kagum oleh catatan-catatan tentang Sheila. Ia adalah representasi dari kelompok-kelompok yang sering menjadi momok di Amerika—perempuan, Muslim, dan berkulit hitam. Dalam sepak terjang karirnya, ia menjadi advokat untuk kaum-kaum minoritas lain. Salah satunya adalah dengan rajin melakukan advokasi hak-hak pasangan LGBT.

Karena catatan-catatan itu juga saya sedih. Sheila, yang berhasil melawan pandangan-pandangan negatif masyarakat dan menjadi panutan bagi kelompok-kelompok minoritas, telah berhasil dibungkam selamanya. 

 

Baca juga:

CNBC.com – United States First Female Muslim Judge Found Dead in Hudson River

Theroot.com – Reports of Suicide Still Swirling, NYPD Now Calls NY Judge Sheila Abdus-Salaam’s Drowning Death ‘Suspicious’

Bostonglobe.com – A Lesson in the Death of Sheila Abdus-Salaam

 

Sheila adalah salah seorang sosok yang berani menunjukkan kalau perempuan itu lebih dari sekadar objek manifestasi keinginan laki-laki. Perempuan bukanlah wanita yang wani ditata, melainkan orang yang juga bisa menata dan membuat perubahan.

Tapi sosok itu hilang—atau lebih tepatnya dipaksa untuk hilang. Sheila ditemukan meninggal dengan dugaan bunuh diri akibat depresi akut, meski sejumlah teori mengatakan bahwa bukti yang tak lengkap menunjukkan indikasi adanya pembunuhan terencana.

Kematian Sheila membuat saya mempertanyakan ulang konsep wanita dan perempuan.

Apakah pandangan neofeminisme, tentang perempuan yang merasa lebih memiliki kekuatan dan kepercayaan diri akibat selebrasi kesetaraan gender yang mendobrak paham-paham konvensional tidak sepenuhnya benar? Apakah justru di balik kisah-kisah kesetaraan gender hanya ada sosok-sosok perempuan yang tidak pernah merasa sepenuhnya aman? Dan apakah memang, perempuan tidak bisa keluar dari pandangan umum tentang wanita

Saya bukan aktivis gender cum feminis progresif seperti Lamia Putri Damayanti, tetapi saya adalah satu dari sekian banyak perempuan yang ingin membuktikan bahwa tidak ada kelompok manusia satupun yang benar-benar diciptakan untuk melayani lainnya. Dan semoga, di kemudian hari akan ada lebih banyak orang yang memiliki pandangan serupa, sehingga tak akan ada lagi Sheila-Sheila yang terpaksa menghilangkan diri. 

Saya ingin melihat perempuan-perempuan yang benar-benar kuat, bukan hanya yang berusaha untuk terlihat kuat.

Selamat Hari Perempuan Indonesia!

Lintang Cahyaningsih

Share

1 Comment

  1. Maksude pie e Tang 🙁

Leave a Reply