#28 – Sepenggal Kasih Hari Minggu: Review “Kenang-kenangan Seorang Wanita Pemalu” oleh W.S. Rendra

Saya merasa kasihan kepadanya. Saya ingin mengatakan bahwa saya pun mencintainya. Sangat, sangat, sangat, sangat mencintainya. Dan, saya merasa bahwa sayantelah terangkat ke awang-awang waktu ia mencium telapak tangan saya. Seharusnya ia tahu itu. Saya tak usah mengatakannya. Saya tak tahu bagaimana mengatakannya.

—Kenang-kenangan Seorang Wanita Pemalu, hlm. 8.

Saya adalah seorang wanita pemalu yang mendambakan Ahmad Karnaen, pemuda desa simpatik yang senang tersenyum dan pandai melucu. Kata mereka, Karnaen suka pada Saya, tetapi alih-alih mendekatkan diri, Saya justru repot-repot menjauhinya. Saya dalam cerpen Rendra kali ini hanya bisa terus mendamba tanpa pernah memiliki.

Cerpen “Kenang-kenangan Seorang Wanita Pemalu” ini juga sama saja. Sederhana, mengulak-alik emosi, dan melankolis khas gaya cerpen-cerpen Rendra sebelumnya. Ia menulis dengan gaya monolog seperti menceritakan pengalaman secara langsung, tanpa pembangunan gagasan tertentu. Lugas dan sederhana, menuampaikan sebagaimana ia tertulis. Dalam konteks ini, yang menjadi bahasan adalah perasaan tak tersampaikan sang wanita pemalu tentang Karnaen yang menjadi pujaannya.

Kisah Saya dan Karnaen bisa terjadi pada siapa saja dan di mana saja. Di sinilah keunggulan cerpen-cerpen Rendra. Ia tidak berbicara tentang hal muluk-muluk, melainkan menceritakan sesuatu apa adanya hingga bisa menyentuh begitu banyak orang. Saya bisa saya asal mengambil dan menyodorkan buku-buku Rendra pada pengemis di jalanan atau pegawai white-collar di gedung-gedung pencakar langit dan semuanya akan merasakan emosi yang sama.

Jujur saya tidak pernah suka karya-karya Rendra. Bukannya jelek, hanya bukan saya sekali—terlalu melankolis dalam cenderung menceritakan kisah sehari-hari. Sebagian teman-teman pembaca Kahil Gibran mungkin akan menyukai karya-karya Rendra yang selalu mampu mengusik emosi terdalam manusia. Katanya, itu semua berasal dari pengalaman diri. Tetapi bagi saya, kisah-kisah bentukan kompleksitas ide dan gagasan seperti karya-karya Seno Gumira Ajidarma, A.A. Navis, dan Kuntowijoyo lebih memikat hati.

Lintang Cahyaningsih

Share

Leave a Reply