Sayup Elegi Pembebasan: Review “Khotbah di Atas Bukit” oleh Kuntowijoyo

 

“Tinggalkan segala milikmu. Apa saja yang menjadi milikmu, sebenarnya memilikimu. Dan engkau tidak lagi merdeka. Engkau mengira itu kekuasaan, tidak. Itu membuatmu takluk. Membelenggumu!”

—Humam pada Barman, “Khotbah di Atas Bukit”, hlm. 71.

 

Kuntowijoyo identik dengan eksistensialisme. Para pembaca teks gagasan sastrawan lawas itu pasti sudah hapal dengan objek-objek penulisan seputar pemikiran kehidupan yang dirangkum dengan tata bahasa ringkas. Saya yang secara pribadi menyukai perenungan selalu menganggap karya-karya Kuntowijoyo sebagai bentuk pengejawantahan apa yang selama ini saya simpan sendiri—tidak pernah dibagikan pada banyak orang saking takutnya dianggap aneh, beda, dan asing.

Kuntowijoyo bagi saya ibarat kebebasan pikiran yang tak bisa diikat—bebas berlari ke sana ke mari, berceloteh dan menantang setiap yang dirasanya jauh dari konsep ideal kehidupan. Menawan, menghanyutkan, dan membuat pembacanya terasing dari kerumunan.

“Kamu suka buku itu, Mbak?”

Aneh, mungkin. Sebagian besar pembaca fiksi umum tidak akan menyukai buku ini, persis seperti teman KKN saya yang agak kaget mendengar ketertarikan saya setelah tiga hari membaca. Bagi para pembaca Kuntowijoyo, tentu saja, buku “Khotbah di Atas Bukit” ini menjadi salah satu yang pantas dijadikan bacaan akhir minggu.

Menjadi pembaca Kuntowijoyo itu sulit—hanya sekitar satu di antara dua belas orang yang bisa diajak berdiskusi tentang karya-karyanya dengan asyik. Saya sampai kesal, semangat betul ingin bercerita tapi bingung mau pada siapa—apalagi saya pertama kali baca buku ini semasa KKN di Gunungkidul.

Saya masih ingat sekitar dua hari setelah baca buku itu saya mendadak jadi pendiam dan merenung saja, mencoba memproses buku itu dengan diri sendiri saking tidak ada yang bisa diajak berdiskusi.

Teman saya yang sudah membaca buku pinjaman itu beberapa hari sebelum saya malah bergidik jijik. Katanya, “Khotbah di Atas Bukit” itu novel mesum, dewasa, terlalu eksplisit. Saya hanya geleng-geleng saja mendengarnya—pasti belum pernah baca Kuntowijoyo sebelumnya.

 

Sampul buku “Khotbah di Atas Bukit”

 

Kegiatan-kegiatan duniawi, ibarat kerja, bercinta, dan beribadah, selalu digambarkan Kuntowijoyo sebatas sebuah latar. Dalam “Khotbah di Atas Bukit”, Kuntowijoyo bukan berkisah tentang Barman, lelaki pensiunan yang dipaksa hidup di atas bukit, dan Popi, kekasih muda sewaan anaknya, yang rajin bercinta sehari-semalam. Bagi para pembaca kritis, novel ini, sama dengan karya-karya Kuntowijoyo lainnya, bercerita tentang kebebasan pikiran dan hakikat kehidupan.

Dikisahkan kehidupan Barman yang serba kecukupan—simpanan melimpah yang diusahakan dari masa muda, anak yang menjamin segala keperluan, wanita cantik yang siap menemani di kala siang dan malam, dan sebuah rumah kecil di puncak bukit yang penuh dengan ketenangan. Saya rasa sebagian besar masyarakat perkotaan pasti mendambakan masa pensiunan seperti itu—termasuk saya. Tetapi Barman tua malah dibuatnya gelisah bukan main. Ia selalu teringat ajaran Humam, tetangga bukit sebelah, bahwa manusia tak bisa sepenuhnya bebas tanpa keberanian untuk melepaskan diri dari hal-hal duniawi.

Banyak orang menjadikan “Khotbah di Atas Bukit” sebagai tolak ukur novel-novel spiritual-sufistik di Indonesia. Versi terbitan Bentang Budaya justru mengklaim buku ini sebagai “sebuah karya masterpiece tentang perburuan spiritual.” Saya setengah tidak percaya dengan klaim ini.

Bagi saya transendensi Barman, yang menjadi tokoh utama dalam novel ini, hanya setengah jadi. Ia jauh berbeda dengan Humam yang telah paham betul dengan Ada-nya—sebuah perawakan transendensi terakhir perwujudan manusia. Barman berada dalam titik paling buruk dalam proses mengada. Keraguannya terhadap realitas terlewat tinggi, tetapi tidak pernah mencapai kehakikian diri. Ia mencoba membenarkan penarikan dirinya dari Popi sang kekasih dan kehidupan sederhana mereka di atas bukit dengan dalih pencarian jati diri. Padahal, ia malah menjadi semakin berpikir untuk tidak berpikir, melakukan kegiatan-kegiatan untuk mengisolasi diri—yang ironisnya justru saling bertentangan.

Barman tidak pernah benar-benar mencapai kehakikian, dan karenanya klaim masterpiece tentang perburuan spiritual itu bagi saya agak tersendat. Barman belum mencapai titik akhir perjalanan spiritual layaknya Humam si tokoh pendukung.

 

“Seperti bulan, kekuningan yang merasa, seperti itulah ia kini merasa berbahagia. Bukit itu, menurut pikirannya, sangat luas, tak terbatas, lapang seperti keadaan dirinya, dan indah. Sesuatu yang baru dalam dirinya, keindahan atau kebahagiaan, atau kesegaran, atau kebebasan, entahlah, membuatnya tersenyum. Ia telah memenangkan perang melawan kegelisahan setelah bergulat. Ia selalu mengatasi dengan caranya sendiri. Kesepian di sekitarnya telah membuatnya hidup. Karena, ia telah memberikan hidup pada keberadaannya.”

—“Khotbah di Atas Bukit”, hlm. 129.

 

Pada kenyataannya, manusia memang tidak akan pernah bisa mencapai proses transendensi sempurna seperti yang digambarkan Budha atau Humam. Sosok Barman, yang penuh kegelisahan dan terasing karena usaha spiritualnya yang tidak kunjung memberikan ketenangan, justru menjadi bentuk paling masuk akal dari upaya-upaya penafsiran hidup manusia secara eksistensial.

Saya sungguh bisa berempati dengan Barman yang ingin melarikan diri dari kenyamanan duniawi. Memang benar kata Humam, ikatan-ikatan tak tampak itu malah justru mengekang kebebasan pikiran. Tetapi saya juga percaya, bahwa sayup-sayup pembebasan itu justru akhirnya menjadi angan yang makin mengikat mereka yang tak kuat melepaskan diri sepenuhnya. Siapa yang berani melakukan perjalanan sufistik harus rela melepaskan diri, atau tidak sama sekali.

Saya suka bagaimana Kuntowijoyo bercerita secara konsisten dengan plot dan alur yang sama sekali berbeda. Barman di sini jauh berbeda dengan Buyung, cucu kesayangan kakek dalam “Dilarang Mencintai Bunga-bunga“, namun keduanya sibuk saja mempertanyakan kebahagiaan meski sudah tercukupi secara lahiriah. Bedanya, satu bertanya bak pangeran dengan mengendarai kuda tampan berambut putih, dan satu lagi sesederhana mengunjungi bunga-bunga selepas sekolah.

Setiap membaca karya Kuntowijoyo, saya selalu diingatkan bahwa kehakikian hidup adalah kebahagiaan. Tetapi proses penafsiran dan pencarian kebahagiaan sebagai Ada justru membuat kita semakin sadar dan tidak bahagia. 

Terkadang memang ada hal-hal yang tidak perlu dipikirkan terlalu dalam, apalagi disampaikan. 

Saya jadi ingat dengan ulasan pementasan teater yang saya buat semasa peralihan tahun kedua di pers mahasiswa berjudul “Beribu Senin Mempertanyakan Cinta.” Tokoh utama dalam kisah ini mirip dengan Barman, bedanya ia memandang cinta sebagai akar kehakikian hidup. Pementasan Teater Sirat ini ditutup dengan menyimpulkan bahwa tidak sepantasnya segala sesuatu dipertanyakan, karena ada beberapa hal yang lebih mudah untuk dirasakan.

Begitulah juga dengan kebahagiaan.

Lintang Cahyaningsih

Share

Leave a Reply