#12 – Rush Hour

Saya selalu memiliki jam-jam tertentu yang paling pas untuk menulis. Dalam periode itu, rasanya kalau saya diminta menulis draft proposal skripsi juga bisa langsung jadi. Sayangnya, ibarat berangkat kerja, menuju jam-jam paling efektif itu selalu saja ada risikonya—harus rela berdesakan di jalanan, tidak pernah merasa tenang, dan selalu saja ada risiko untuk telat karena kendala teknis. If one thing went wrong—poof! Makanya waktu magang kemarin prinsip saya adalah mencari kosan yang sedekat-dekatnya dengan kantor biar tdak usah pusing memikirkan rush hour.

Waktu paling efektif untuk menulis bagi saya adalah jam-jam menuju tengah malam—yang sama juga banyak risikonya. Kalau mau menulis di jam-jam segitu, setidaknya saya harus menyiapkan kopi segelas, pasang alarm, dan kalau ada orang di rumah meminta tolong untuk dibangunkan. Untuk #31harimenulis ini saya biasa menulis pukul sepuluh dan selesai hampir tengah malam. Sudah seminggu lebih trik ini berhasil, tapi akhirnya kebobolan juga deh. Paduan antara belum tidur dua hari, lampu mati, dan Ibu saya yang kelupaan sukses membuat saya gagal menggenapi tulisan di bulan fiktif ini. Rasanya benar-benar seperti ketinggalan kereta terakhir menuju jam kerja!

Tulisan kali ini benar-benar tidak akan ada ilmunya dan tidak perlu dibaca. Saya cuma merasa sedikit gelo saja padahal sudah menyiapkan tema yang dipikir dari jauh-jauh hari.

Moral lessonjangan pernah menunggu waktu yang ideal untuk menuls.

 

Besok saya akan berangkat ke Jakarta selama seminggu untuk menghadiri pelatihan jurnalistik sekaligus peringatan World Press Freedom Day yang diadakan AJI dan British Council Indonesia. Jadi, selama seminggu ke depan, tulisan-tulisan saya akan lebih banyak menceritakan tentang kegiatan sehari-hari. Semoga saja akan tetap menarik, karena saya akan numpang singgah singkat selama tiga hari di newsroom media tertentu—termasuk pada Hari Buruh Internasional! 

Waktu masih aktif di BPPM Balairung UGM dulu saya hampir selalu ikutan memperingati 1 Mei di Jalan Malioboro, entah untuk melakukan reportase atau menemani teman yang melakukan reportase. Tapi, kok, rasanya Hari Buruh di Jakarta tidak apple-to-apple dengan yang di Yogyakarta. Membayangkan lautan manusia berisi ribuan orang bikin saya jadi takut-takut gemas kalau besok diminta ke lapangan.

Wish me luck!

 

Lintang Cahyaningsih

Share

Leave a Reply