#4 – Belajar Mengarang dari Seno Gumira Ajidarma: Review “Senja dan Cinta yang Berdarah”

Jika ditanya siapa cerpenis paling andal di Indonesia, saya tanpa ragu akan menjawab Seno Gumira Ajidarma. Saya, seperti penikmat-penikmat ‘sastra koran‘ khas SGA lainnya, menyukai ketegangan serta romantisme sepotong-sepotong yang ada dalam tiap cerpennya. Saya justru lebih menyukai cerpen-cerpen Seno ketimbang buku-bukunya—yang selalu ditulis secara pas dan tidak berlebihan. Gaya berceritanya yang fragmentaris berbicara dengan kebenaran yang sederhana. Maka bagi saya, pantaslah ia disebut sebagai cerpenis andal.

Saya selalu mengagumi SGA yang menekuni kesusastraan setelah karirnya di Jakarta Jakarta berakhir. Katanya, ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Itu karena sastra adalah produk literasi paling jujur—berbeda dengan jurnalisme yang bisa diembargo dengan kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi sewaktu-waktu. Cerpen-cerpen Seno mengandung kebenaran-kebenaran yang paling jujur—yang bisa anda temui di pinggir-pinggir jalan namun tidak dalam surat kabar.

 

Sebagai penggemar cerpen-cerpen Seno, saya tidak pernah ketinggalan mencari buku-buku kumpulan cerpennya dengan harga termurah. Kadang, saya mampir ke penerbit tempat saya bekerja dulu, Bentang Pustaka, atau sekadar cari-cari potongan harga di toko-toko buku online. Semua demi menambah koleksi kumpulan cepen-cerpen SGA yang kini kian melunjak harganya. Banyak yang dicetak ulang, diberi sampul baru, dengan harga yang baru pula. Pokoknya berbeda sekali dengan buku ramping Penembak Misterius yang dulu saya beli seharga 15.000 rupiah saja.

 

 

Saya mulai mengkoleksi cerpen-cerpen SGA sejak lima tahun lalu. Dua tahun lalu koleksi saya sudah banyak, namun pelan-pelan rak buku saya makin ramping karena banyak yang membawa pergi dan tidak balik. Makanya, sejak buku “Senja dan Cinta yang Berdarah” terbit, saya kepingin bukan main bawa buku setebal kitab itu pulang.

Mungkin pantas juga ia disebut sebagai Kitab Seno, karena katanya buku ini merupakan kumpulan cerpen-cerpen SGA yang terlengkap ketimbang lainnya. Namun tentu saja, harganya juga termahal. Saya baru mampu beli beberapa minggu lalu.

“Senja dan Cinta yang Berdarah” membuat saya senang sekaligus gemas. Senang, tentunya karena dipertemukan kembali dengan sastra pendek khas Seno yang sulit diduplikasi. Gemas, karena kumpulan cerpen ini hanya memuat cerpen-cerpen yang dulu sempat diterbikan dalam Harian Kompas. Padahal, banyak cerpen-cerpen fenomenal SGA yang masuk dalam surat kabar lain. Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, contohnya, yang diterbitkan Suara Pembaruan.

Yang membuat saya gemas lagi, beberapa cerpen disunting ulang sehingga beberapa mengalami perubahan judul. “Hidung Seorang Pegawai Negeri” menjadi “The Phinnocio Disease, “Salome” menjadi “Malam Panjang No. 19”, dan masih banyak lagi. Bagi saya yang telah membaca cerpen-cerpen itu sebelumnya, penyuntingan ulang justru terasa mengganggu. Rasanya seperti tidak membaca cerpen-cerpen SGA secara utuh. Ada yang hilang.

Dalam “Senja dan Cinta yang Berdarah”, cerpen-cerpen Seno dari 1978-2013 dibagi ke dalam tiga babak secara kronologis. Dari sini saya jadi tau dinamika teknik dan fokus penulisan Seno. Mulanya cerpen-cerpen Seno menghadirkan isu-isu eksistensialisme secara lugas, yang kemudian bergeser ke kritik-kritik sosial yang dikemas dengan sudut pandang imajinatif. Transisi yang sangat kentara ini membuat saya takjub. Ternyata pernah, toh, SGA menulis selayaknya anak kuliahan masa kini.

Favorit saya tentu saja cerpen-cerpen yang berhasil memikat pembacanya dengan imajinasi luar biasa, namun sekaligus berlaku sebagai kritik sosial. “Grhhh!“, “Dodolitdodolitdodolibret:)“, dan “Aku, Pembunuh Munir” menjadi tiga karya favorit saya dalam buku kumpulan cerpen ini.

 

Pada umumnya para reporter kami melaporkan kejadian yang hampir mirip satu sama lain. Para mayat hidup alias zombie itu berlaku sebagai penjahat. Mereka mencopet dompet, merampas kalung, meminta uang, atau menodong. Namun karena tubuh mereka yang busuk, dan gerakannya yang lamban, mereka tidak bisa menghilang seperti penjahat. Mereka hanya mengacung-acungkan hasil jarahannya sambil mengeluarkan bunyi serak: Grhhh! Grhhh! Mereka muncul begitu saja, entah dari mana. Mungkin langsung dari kuburan. Namun belum ada laporan tentang kuburan-kuburan yang jebol.

—SGA, “Grhhh!”

 

Saya mengenal “Grhhh!” dari Penembak Misterius, dan kemudian langsung terpikat dengan gaya berceritanya dari sekali baca. Gara-gara cerpen ini, saya jadi tertarik dengan isu pembunuhan-pembunuhan misterius masa Orde Baru di tahun pertama kuliah. Rasanya kalau cerpen ini difilmkan mungkin bisa mengalahkan The Walking Dead. Para zombie dalam cerita ini hanya bisa dikalahkan menggunakan rudal!

 

Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai seseorang setelah mampu membaca doa secara benar, akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi, dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air.

—SGA, “Dodolitdodolitdodolibret:)”

 

Saya dalam hati tertawa keras waktu membaca cerpen satu ini. Secara gamblang SGA menggarisbawahi praktik dakwah ‘berdoa yang benar‘ dalam keluguan seorang Kiplik. Dan, pada akhirnya ia menyimpulkan bahwa mereka yang merasa benar, belum tentu benar.

 

Jangan, janganlah kepada diriku dikau bertanya tentang pembunuhan Munir sebagai pembunuhan politik, karena dalam hati kecilku pun kuingkari kejadiannya sebagai pembunuhan politik. Dengan atau tanpa politik aku memang sudah lama empet kepada Munir. Memang betul, sudah pasti itu bukan pembunuhan kriminal dan hanya pembunuhan politik yang membenarkan pembunuhan orang kecil yang tidak sudi digertak itu, tetapi apakah dengan begitu lantas pembunuhan itu menjadi sahih?

—SGA, “Aku, Pembunuh Munir

 

Ini adalah salah satu cerpen yang baru saya baca dalam “Senja dan Cinta yang Berdarah”. Belakangan cerpen-cerpen Seno yang saya temui di Harian Kompas berfokus pada romantisme, dan saya kurang menyukai itu. Bukannya tidak bagus—sungguh roman khas Seno sangat-sangat bagus dibandingkan roman-roman cerpenis lain, seperti “Sepotong Senja untuk Pacarku“—namun saya memang lebih tertarik dengan kritik sosial yang selalu ada dalam karya SGA. Saya jadi malas mencari karya-karya terbaru SGA. Buku kumpulan cerpen ini akan memudahkan para penggemar karya SGA untuk mencari cerpen-cerpen terbarunya.

 

Tambahan yang bagus, namun tak sempurna. Saya tidak akan merasa puas jika koleksi SGA saya belum meliputi karya-karya fenomenal Seno terdahulu, termasuk “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara.” Sayangnya, koleksi yang saya bangga-banggakan dulu masih belum pulang kandang.

Still, it’s worth every penny! 

Lintang Cahyaningsih

Share

Leave a Reply