Para Pemerhati Sepakbola dari Indonesia Timur (Review Novel Jalan Lain ke Tulehu – Zen RS)

Sampul Buku Jalan Lain ke Tulehu - Zen RS
Sampul Novel Jalan Lain ke Tulehu – Zen RS

Judul               : Jalan Lain ke Tulehu: Sepakbola dan Kenangan yang mengejar

Penulis             : Zen RS

Penerbit           : Bentang Pustaka

Cetakan           : I, Mei 2014

Jml hal             : viii+304 hal 19cm

Sepakbola bukan sekadar olahraga. Bagi warga Tulehu, desa muslim di Maluku yang terkenal sebagai Kampung Sepakbola, kegiatan itu lebih bermakna dibandingkan shalat lima waktu. Terkadang justru mereka tak tanggung-tanggung— menyusup ke wilayah musuh saat konflik memanas hanya untuk menonton pertandingan sepakbola Belanda lawan Italia! Mau tak mau kegiatan yang menggiring dan memasukkan bola ke gawang lawan itu menempati peran tersendiri dalam berbagai peristiwa bersejarah Tulehu. Salah satunya adalah saat terjadi konflik antaragama di Maluku.

Mengambil Konflik Maluku tahun 1999 sebagai latar, novel ini menampilkan kisah Gentur, wartawan asal Jakarta, selama masa tinggalnya di Tulehu. Peran Gentur sebagai pendatang tak jarang membuatnya berada dalam berbagai situasi pelik— dari hampir diceburkan hidup-hidup ke lautan, hingga terpaksa mengaku beragama Buddha untuk mempertahankan kepala. Perlahan, Gentur mulai mengadaptasi pemahaman warga Tulehu terhadap sepakbola, bahwa ia tak sekadar olahraga. Sepakbola pun digunakannya sebagai landasan filosofis untuk menyelesaikan konflik pribadi yang selama ini menghantui— tentang tragedi 1998 dan kekasihnya, Eva Maria.

Mengangkat kisah Gentur dan kenangan bersama kekasihnya, Jalan Lain ke Tulehu: Sepakbola dan Ingatan yang Mengejar ini merupakan karya yang berada di tengah-tengah jurnalisme dan sastra. Dengan latar belakang sebagai jurnalis, Zen RS selaku penulis, memadukan hasil riset yang ditemuinya di lapangan pada Juni-Juli 2013 lalu dengan karakter-karakter imajiner karangannya. Perpaduan kedua hal itu membuat adanya suatu batas tak kentara dalam ‘novel fiksi’ ini. Data yang digunakan sebagai nyawa cerita dan pemaparan yang detil membuat jalan cerita justru terkesan seperti laporan perjalanan yang dialaminya tahun lalu di Tulehu. Melalui karya ini, penulis mengajak kita menerka-nerka garis batas itu— antara mana yang nyata dan yang tidak.

Penggunaan jurnalisme sebagai salah satu unsur dominan membuat novel ini berbeda dengan karya sastra lain. Apabila umumnya novel fiksi mengedepankan pendalaman deskriptif pada latar dengan alur yang bergerak perlahan, Jalan Lain ke Tulehu justru bersifat sebaliknya. Jalan cerita yang panjang disertai beragam konflik dijejalkan secara paksa oleh sang penulis dalam 292 halaman. Akibatnya, alur bergerak terlewat cepat di sebagian besar novel, membuat pembaca harus menghela napas dan membolak-balik halaman untuk memastikan tak ada yang terlewat. Pemaparan alur pun diberikan secara sangat ringkas— hanya berupa adegan demi adegan yang ditampilkan melalui narasi panjang orang ketiga. Alhasil, hingga akhir cerita, pembaca tak bisa memahami perawakan si tokoh utama dan alasannya terdampar di Tulehu secara utuh.

Seiringan dengan banyaknya informasi yang ingin disampaikan Zen RS melalui satu buku, pemaparannya jadi tak keruan. Awalnya pembaca dibawa masuk ke keindahan Pulau Maluku, lalu sesaat kemudian dijengkangkan kembali ke perjalanan Gentur sebelum menapak ke tanah Ambon. Pemaparan maju lalu mundur dengan transisi yang tak halus menambah kebingungan pembaca terhadap kisah yang ingin disampaikan. Transisi tak mulus ini terlewat kentara dalam kilasan-kilasan balik Gentur tentang Eva Maria yang penulis coba sisipkan dalam sela-sela kegiatannya di Tulehu. Membaca novel ini bagai mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi namun menggunakan gigi satu, terseok-seok maju mundur akibat kecepatannya menembus jarak yang tertahan. Sayangnya, kali ini para pembaca tidak dibekali sabuk pengaman.

Meski kurang dalam hal pemaparan, detil-detil kebudayaan yang diselipkan secara menyeluruh dalam Jalan Lain ke Tulehu mengajak para pembaca memahami fenomena kefanatikan sepakbola warganya. Begitu pula dengan detil-detil mengenai sepakbola yang menjadi fokus utama cerita. Banyaknya porsi yang diberikan dalam pembahasan budaya sepakbola Tulehu membuat novel ini cocok menjadi bahan bacaan para peminat budaya maupun olahraga.

Share

Leave a Reply