Catatan Penyingkap Luka: Review “Laut Bercerita” oleh Leila S. Chudori

 

“Asmara, kukirimkan semua pesan ini melalui sayap-sayap ikan pari; melalui bunyi rintik hujan ketika menyentuh tanah dan melalui bunyi kepak burung gereja yang hinggap di jendela kamarmu. Aku yakin kau akan bisa menangkap pesanku, membaca ceritaku. Dan aku percaya kau akan menceritakan kisahku kepada dunia.”

—Laut pada Asmara, dalam “Laut Bercerita”, hlm. 370

 

Siapa yang mengira Laut ternyata bisa semudah itu dilenyapkan?

Kali ini saya tidak akan bercerita tentang Laut layaknya senja sepotong-sepotong yang dikirimkan Sukab untuk Alina, meski potongan prosa di atas memang mirip betul dengan surat panjang dari karakter utama besutan SGA itu. Lenyapnya Laut di sini bukan bagian dari puisi-puisi panjang untuk menggoda sang gadis cantik di seberang lautan. Biru Laut, si aktivis mahasiswa dari kampus Bulaksumur Yogyakarta, tak pulang-pulang.

Sebagian orang bilang ia dan dua belas temannya telah mati, tapi mereka akan lahir berkali-kali. 

 

Saya selalu suka membaca catatan-catatan panjang tentang krisis maupun bencana kemanusiaan. Catatan otobiografi Elie Wiesel, “Night“, dan laporan longform journalism Hersey, “Hiroshima“, contohnya, adalah dua dari setumpukan buku yang paling sering saya baca—dan yang tidak henti-hentinya saya rekomendasikan pada teman-teman. Bagi saya, catatan-catatan itu bertindak sebagai bentuk penolakan terhadap fakta-fakta singkat dalam buku pelajaran sejarah—yang selalu membuat peristiwa-peristiwa itu menjadi jauh dan dingin. Catatan-catatan Wiesel dan Hersey mengajak saya niti laku ke masa Perang Dunia Kedua, dengan menjadi si bocah Yahudi cilik yang kehilangan Tuhannya dalam kamp penyiksaan, atau seorang ibu yang menggali puing-puing rumah untuk mencari ketiga anaknya. 

Fiksi maupun non-fiksi, catatan-catatan semacam ini memiliki tugas besar untuk mereka ulang peristiwa-peristiwa yang terlupakan. Saya selalu menganggap bahwa karya sastra yang baik adalah yang mempu menghadirkan emosi paling raw, sementah-mentahnya, untuk menghidupkan kembali karakter-karakter di dalamnya. Semakin tercampuraduknya emosi pembaca maka semakin baiklah sebuah karya. Tiap kali saya menangis terisak dengan beban kesedihan si tokoh utama, saya malah makin yakin kalau buku itu layak mendapat penghargaan. 

Masalahnya mereka ulang perasaan dan memberikan jiwa pada kata-kata itu bukan perkara mudah. Dalam “Ketika Jurnalisme Dibugkam Sastra Harus Bicara”, SGA pernah berkata kalau menulis adalah cara kita menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Menyalurkan rumitnya perasaan dan dalamnya kepiluan karakter adalah bentuk penghargaan terhadap mereka yang hilang dalam peristiwa-peristiwa itu, namun seringkali kata-kata tidak bisa menampung luapan perasaan yang tercampuraduk.

Banyak catatan kemanusiaan yang menurut saya gagal dalam proses translasi ini. Banyaknya peristiwa penting yang terjadi seringkali membuat penulis tersangkut pada aspek-aspek what dibandingkan why dan how. Yang paling saya sayangkan adalah karya-karya Herman Wouk dalam serial novelnya tentang Perang Dunia Kedua. Bagus, memang, tetapi sudut pandang orang ketiga yang minim karakterisasi membuat saya selalu menganggap Kapten “Pug” sebagai sebuah karakter rekaan yang hambar. 

Biru Laut, di sisi lain, memiliki nyawa.

 

“Asmara adikku,

Saat ini aku berada di perut laut, menunggu cahaya datang.

Ini adalah kematian yang tidak sederhana. Terlalu banyak kegelapan. Terlalu penuh dengan kesedihan.”

—Laut pada Asmara, dalam “Laut Bercerita”, hlm. 364

 

Awal Desember lalu, waktu dapat kesempatan main ke kantor Tempo, saya bolak-balik ke ruangan Budi Setyarso di lantai empat. Di ujung lorong yang dipenuhi kantor-kantor kecil berjajar milik Pemimpin Redaksi, Redaktur Eksekutif, dan Direktur itu ada satu ruang yang lampunya tidak pernah dinyalaka. Itu ruangan Leila S. Chudori, katanya, yang baru saja pensiun di pertengahan 2017. “Dia habis nulis novel baru, besok Selasa peluncurannya,” jelas Mas Buset. 

Saya selalu suka karya-karya Leila sejak “Dunia Tanpa Koma“, dengan Raya yang cantik, pintar, dan beruntung bukan main sebagai tokoh utama. “Pulang”, yang dulu pertama kali saya beli (kemudian hilang dipinjam-pinjam) karena salah satu tokohnya seorang perempuan bernama Lintang, seremeh itu, malah sekarang jadi salah satu yang saya sayang-sayang (setelah membeli lagi). Nina dan Nadira dalam “9 untuk Nadira” juga sangat mudah dinikmati dengan konflik yang saya rasa bisa direlasikan ke banyak orang.

Karya-karya Leila selalu menghadirkan eksplorasi karakter yang dalam dengan ketangguhan luar biasa, dan tokoh perempuan yang kuat. Begitu juga dengan buku terbarunya, “Laut Bercerita“.

 

 

Membaca kisah Biru Laut dan teman-teman aktivisnya membawa saya ke masa akhir pemerintahan Orde Baru. Sembilan orang aktivis pulang dan tiga belas lainnya ditangkap tak kembali, di antaranya Biru Laut. Kecuali nama dan atribut, penculikan aktivis yang digambarkan dalam “Laut Bercerita” ini persis dengan yang terjadi pada masa pemerintahan Soeharto dulu, meski tidak bercerita tentang tentang satu orang yang ditemukan meninggal. Mereka disiksa, disetrum, diinjak-injak, kemudian ditahan selama tiga bulan. Keluarganya hanya bisa menanti, yang selalu dijawab dengan ketidakpastian dan harap-harap tak beralasan.

Saya dikenalkan kembali dengan tokoh-tokoh SMID dan PRD seperti Nezar Patria, Andi Arief, dan Budiman Sudjatmiko yang hidup lagi dalam Biru Laut dan kawan-kawannya. Dikisahkan, laut adalah Sekjen Winatra, organisasi mahasiswa yang menuntut pemerintahan sosial-demokrat dan berafiliasi dengan Wirasena. Ia dan aktivis mahasiswa lainnya terpaksa bersembunyi dari kota ke kota menggunakan nama samaran karena, katanya, Winatra dan Wirasena dinyatakan sebagai organisasi terlarang. 

 

Menjelang 1998 adalah periode yang riuh bagi para aktivis, tetapi Leila di sini tidak mencoba mengerangkai seluruh keriuhan itu secara utuh. Ia malah justru mempersempit kacamata pembaca pada kisah satu aktivis penyuka sastra bernama Biru Laut. Sosok Laut, yang sering terdampar dalam banjir wacana lewat buku-buku panjang atau diskusi bersama teman, bagi saya sangat mampu mewakili aktivis-aktivis di kampus Bulaksumur. Ia datang ke Yogyakarta untuk berdialektika dengan mahasiswa-mahasiswa kritis, terpapar diskusi-diskusi sosial-politik, dan tiba-tiba saja tergabung ke dalam organisasi antarkampus yang mengantarkannya jadi buronan pemerintah. Namun dalam buku ini, diskusi-diskusi panjang Laut tidak menjadi fokus cerita, melainkan hanya pengantar singkat menuju masa penangkapan dan hilangnya si aktivis berambut ikal itu.

Dan hilangnya Laut bukan perkara sederhana.

 

“Yang penting kita ingat…. setiap langkahmu, langkah kita, apakah terlihat atau tidak, apakah terasa atau tidak, adalah sebuah kontribusi, Laut. Mungkin saja kita keluar dari rezim ini 10 tahun lagi atau 20 tahun lagi, tapi apa pun yang kamu alami di Blangguan dan Bungurasih adalah sebuah langkah. Sebuah baris dalam puisimu. Sebuah kalimat pertama dari cerita pendekmu….”

—Kinan ke Laut, dalam “Laut Bercerita”, hlm. 183

 

Saya ditarik ke dalam catatan-catatan Biru Laut semasa ia menjadi buronan, tahanan, dan kilas-kilas balik kehangatan keluarga dengan ritual makan bersama tiap akhir minggu. Bekas-bekas siksaan tak beradab maupun kerinduan tak teradu yang menjadi teman dalam ruang tahanan itu, saya merasakannya. Begitu pula dengan kesedihan tak henti-henti dari seorang adik kecil yang dipaksa lebih cepat dewasa karena kehilangan si kakak tertua dan kedua orang tuanya. Semua kesedihan itu pun terlipatgandakan dalam catatan-catatan Asmara Jati di bagian kedua.

Membaca kumpulan catatan kakak-beradik ini membuat hati saya remuk seremuk-remuknya, baik menjadi yang dihilangkan atau yang menanti kabar di rumah sana. Tetapi catatan-catatan Asmara itu pada akhirnya bertindak juga jadi obat penyembuh. Setelah perasaan tercampuraduk bukan main dengan rasa takut, sedih, dan sakit luar biasa, Asmara mengajarkan saya untuk merelakan, meski bukan berarti melupakan. Keputusan Asmara merelakan karir cemerlang untuk agenda-agenda Kamisan bagi saya bukan sebuah kegagalan, tetapi terapi penyembuhan rasa hampa tak berujung akibat kehilangan sahabat.

Di sini kita diingatkan, bahwa Laut dan para korban ’98 lainnya bukanlah sekadar seorang aktivis yang tidak gentar menyuarakan apa yang baginya patut diperjuangkan. Ia juga seorang anak, kakak, kekasih, dan teman yang dirindukan dan terus hidup dalam semua yang pernah ditemuinya.

Cerita dalam buku ini begitu cantik, dengan kesedihan tak tuntas-tuntas dibalut bayang-bayang semu jingga yang menghangatkan.

 

Kesempitan cakupan peristiwa yang diangkat dalam novel ini membuat saya setengah yakin kalau Leila memang tidak berniat membuat model fiksi sejarah seperti Herman Wouk. Titik-titik penting dalam periode aktivisme ’98 seperti Bom Tanah Tinggi justru tidak dibahas sama sekali. “Laut Bercerita” hanyalah sebuah catatan kecil dari salah satu babak paling menyedihkan negeri ini, berteriak dengan lantang terhadap luka yang selama ini disembunyikan. Sebuah catatan apik yang bisa menjadi jawaban para aktivis muda ketika mereka ditanya, oleh orang lain maupun diri sendiri, “Kenapa?

Catatan ini adalah sebentuk tanggapan nyata terhadap tesis Chomsky yang menyatakan bahwa masyarakat luas merupakan objek pasif dalam skema pembuatan keputusan—yang pada akhirnya membuat kita terlarut dalam kesibukan keseharian dibandingkan mengurusi apa yang benar-benar penting. “The general population doesn’t know what’s happening, and it doesn’t even know that it doesn’t know.” Pengetahuan adalah kekuatan, dan karenanya harus disebarluaskan sebagai bentuk perlawanan.

 

Pendekatan humanis dengan pendalaman satu tokoh dari dua perspektif ini sangat baru dan menyegarkan bila dibandingkan dengan karya-karya kreatif mengenai Orde Baru sebelumnya. Tidak serumit karya-karya Eka Kurniawan maupun penuh kiasan seperti SGA, Leila hanya menceritakan suatu peristiwa dengan apa adanya, dengan kejujuran yang melucuti habis seluruh kesemuan permukaan. Biru Laut dalam narasi Leila membawa versi paling raw dari sesosok aktivis ’98 yang menurut saya bisa beresonansi dengan semua pembaca yang pernah merasakan kehilangan.

Budiman Sudjatmiko, Mantan Ketua PRD yang menjadi simbol perlawanan ’98 dan direpresentasikan dalam sosok Arifin Bramantyo, juga sangat jarang dibahas. Saya yang dulu sempat terkagum-kagum dengan sosok Budiman setelah membaca “Anak-anak Revolusi” dan tulisan-tulisannya yang lain jadi sedikit kecewa. Tetapi saya rasa semangat dan cara pandang yang akademis-kritis khas Budiman turut mencampuri perkembangan karakter Laut, meski fondasinya merupakan adaptasi dari sosok Nezar Patria, Mantan Sekjen SMID yang sekarang menjadi Pemimpin Redaksi TheJakartaPost.com. 

 

“Matilah engkau mati

Engkau akan lahir berkali-kali”

—Sang Penyair, dalam “Laut Bercerita”, hlm. 196

 

Selain dua tokoh itu, ada juga beberapa aktivis ’98 yang dimasukkan dan disamarkan Leila sebagai tokoh pembantu dalam novel ini. Sang Penyair, contohnya, yang banyak menuliskan puisi perjuangan untuk kegiatan-kegiatan Wirasena diangkat dari Wiji Thukul, aktivis PRD yang hingga kini tidak kedengaran kabarnya. Aswin, pegiat LBH yang mendorong Asmara membentuk Komisi Orang Hilang juga terlihat jelas menjadi representasi Munir, pendiri Kontras yang dibunuh dalam penerbangan ke Belanda. Yang membuat saya yakin adalah satu pernyataan singkat dalam catatan Asmara, “tak ada orang yang lebih baik, lebih tulus, dan lebih peduli pada hak asasi manusia selain Aswin.”

Saya kok kurang melihat representasi sosok Andi Arief, Mantan Ketua SMID, dalam novel ini—apakah mungkin karena yang menduduki posisinya adalah seorang perempuan?

 

Sampai selesai membaca buku ini pun saya masih belum yakin apakah keputusan Laut untuk menukar buku-buku Inggris klasik era Victoria seperti Dickens menjadi kumpulan buku Pramoedya adalah keputusan bijak. Ya, keputusan itu menjadi langkah kecil yang pada akhirnya mengantarkan kita pada Indonesia yang lebih baik, tetapi dengan pengorbanan apa? Keraguan yang dihadapi Laut saat menjadi buronan adalah keraguan kita semua—apa perlawanan tanpa darah memang hanya sebuah utopia?

 

Di bawah ini saya lampirkan catatan Nezar Patria dalam Majalah Tempo, 4 Februari 2008. Belakangan saya baru tahu kalau tulisan ini menjadi salah satu referensi penulisan Leila untuk “Laut Bercerita”. 

 

PERISTIWA itu terjadi sepuluh tahun lalu, tapi semuanya masih tetap basah dalam ingatan. Kami berempat: Aan Rusdianto, Mugiyanto, Petrus Bima Anugerah, dan saya adalah anggota Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). Baru sepuluh hari kami bertempat tinggal di rumah susun Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur itu. Tak seorang tetangga pun tahu bahwa kami anggota gerakan antikediktatoran.

 

Saat itu, Maret 1998, politik Indonesia sedang panas. Di tengah aksi protes mahasiswa, Sidang Umum MPR kembali mengangkat Soeharto sebagai Presiden RI. Di kampus, gerakan menentang rezim Orde Baru kian marak. Setiap hari, kemarahan membara di sekujur negeri. Kota-kota dibungkus selebaran, spanduk, dan poster. Indonesia pun terbelah: pro atau anti-Soeharto.

 

Sejak dituding sebagai dalang kerusuhan 27 Juli 1996 (tapi tak pernah terbukti di pengadilan), SMID dan semua organisasi yang berafiliasi ke Partai Rakyat Demokratik (PRD) dinyatakan oleh pemerinah sebagai organisasi terlarang. Sejak itu, hidup kami terpaksa berubah. Kami diburu aparat keamanan Orde Baru. Maka, tak ada jalan lain kecuali bergerak gaya bawah tanah. Nama asli berganti alias. Setiap kali berpindah rumah, harus menyaru sebagai pedagang buku atau lainnya.

 

Tapi petualangan bawah tanah itu berhenti pada 13 Maret 1998. Malam itu, sekitar pukul tujuh, saya baru saja pulang dari Universitas Indonesia, Depok. Ada rapat mahasiswa sore itu di sana. Aan, mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang sudah berada di rumah. Setelah mandi, saya menjerang air. Mugiyanto berjanji pulang satu jam lagi, dan dia akan membeli makan malam. Sementara, Bima Petrus berpesan pulang agak larut.

 

Tiba-tiba terdengar suara ketukan. Begitu Aan membuka pintu, empat lelaki kekar merangsek masuk. Mereka menyergap dan memiting tangan Aan. Saya kaget. Sekelebat saya melongok ke arah jendela. Kami berada di lantai dua, dan di bawah sana sejumlah ‘tamu tak diundang’ sudah menunggu. Mereka memakai seibo (penutup wajah dari wol), tapi digulung sebatas tempurung kepala. Wajah mereka masih terlihat jelas. “Mau mencari siapa?” tanya saya. “Tak usah tanya, ikut saja,” bentak seorang lelaki. Setelah mencengkeram Aan, dua lainnya mengapit saya. Kami digiring menuruni tangga. Saya agak meronta, tapi dengan cepat seseorang mencabut pistol. Sekejap, kesadaran saya bicara: saya diculik! Dan dua mobil Kijang sudah menunggu di bawah.

 

Di dalam mobil, mata saya ditutup kain hitam. Lalu mereka menyelubungi kepala saya dengan seibo itu. Saya juga merasa mereka melakukan hal yang sama pada Aan. Dompet saya diperiksa. Sial, mereka mendapat KTP saya dengan nama asli. “Wah, benar, dia Nezar, Sekjen SMID!” teriak salah satu dari mereka.

 

Di mobil, mereka semua bungkam. Kaca tertutup rapat. Lagu house music diputar berdebam-debam. Lalu kendaraan itu melesat kencang, dan berhenti sejam kemudian. Tak jelas di daerah mana. Terdengar suara handy talkie mencicit, “Merpati, merpati.” Agaknya itu semacam kode mereka. Rupanya, mereka meminta pintu pagar dibuka.

 

Mata kami masih tertutup rapat saat digiring masuk ke ruangan itu. Pendingin udara terasa menusuk tulang. Terdengar suara-suara orang, mungkin lebih dari 10 orang. Saya didudukkan di kursi. Lalu, mendadak satu pukulan melesak di perut. Setelah itu, menyusul bertubi-tubi tendangan. Satu terjangan keras mendarat di badan, sampai kursi lipat itu patah. Bibir terasa hangat dan asin. Darah mengucur.

 

Setelah itu, saya dibaringkan ke velbed. Tangan kiri diborgol dan kaki diikat kabel. Mereka bertanya di mana Andi Arief, Ketua Umum SMID. Karena tak puas dengan jawaban, alat setrum mulai beraksi. Dengan garang, listrik pun merontokkan tulang dan sendi. “Kalian bikin rapat dengan Megawati dan Amien Rais, kan? Mau menggulingkan Soeharto kan?” tanya suara itu dengan garang.

 

Absurd. Saat itu, kami mendukung Mega-Amien melawan kediktatoran. Tapi belum pernah ada rapat bersama dua tokoh itu. Saya tak banyak menjawab. Mereka mengamuk. Satu mesin setrum diseret mendekati saya. Lalu, kepala saya dijungkirkan. Listrik pun menyengat dari paha sampai dada.

 

“Allahu akbar!” saya berteriak. Tapi mulut saya diinjak. Darah mengucur lagi. Satu setruman di dada membuat napas saya putus. Tersengal-sengal. Saya sudah setengah tak sadar, tapi masih bisa mendengar suara teguran dari seorang kepada para penyiksa itu, agar jangan menyetrum wilayah dada. Saya merasa sangat lelah. Lalu terlelap.

 

|  |  |

 

ENTAH pukul berapa, tiba-tiba saya mendengar suara alarm memekakkan telinga. Saya tersentak. Terdengar suara Aan meraung-raung. Ini mungkin kuil penyiksaan sejati, tempat ritus kekerasan berlaku tiap menit. Alarm dibunyikan tiap kali, bersama tongkat listrik yang suara setrumannya seperti lecutan cambuk. Saya juga mendengar jeritan Mugiyanto. Rupanya, dia ‘dijemput’ sejam setelah kami ditangkap. Hati saya berdebar mendengar dia dihajar bertubi-tubi. Sekali lagi, mereka ingin tahu apa betul kami terlibat konspirasi rencana penggulingan Soeharto.

 

Selama dua hari tiga malam, kami disekap di tempat itu. Penyiksaan berlangsung dengan sangat metodis. Dari suara alarm yang mengganggu, pukulan, dan teror mental. Pernah, setelah beberapa jam tenang, mendadak kami dikejutkan tongkat listrik. Mungkin itu tengah malam atau pagi hari. Tak jelas, karena mata tertutup, dan orientasi waktu hilang. Selintas saya berpikir bahwa penculik ini dari satuan profesional. Mereka bilang, pernah bertugas di Aceh dan Papua segala.

 

|  |  |

 

Klik. Suara pistol yang dikokang yang ditempekan ke pelipis saya.

 

“Sudah siap mati?” bisik si penculik. Saat itu mungkin matahari sudah terbenam. Saya diam.

 

“Sana, berdoa!”

 

Kerongkongan saya tercekat. Ajal terasa begitu dekat. Tak seorang keluarga pun tahu bahwa hidup saya berakhir di sini. Saya pasrah. Saya berdoa agar jalan kematian ini tak begitu menyakitkan. Tapi ‘eksekusi’ itu batal. Hanya ada ancaman bahwa mereka akan memantau kami di mana saja.

 

Akhirnya kami dibawa ke suatu tempat. Terjadi serah-terima antara si penculik dan lembaga lain. Belakangan, diketahui lembaga itu Polda Metro Jaya. Di sana kami bertiga dimasukkan ke sel isolasi. Satu sel untuk tiap orang dengan lampu lima belas watt, tanpa matahari dan senam pagi.

 

Hari pertama di sel, trauma itu begitu membekas. Saya takut melihat pintu angin di sel itu. Saya cemas, kalau si penculik masih berada di luar, dan bisa menembak dari lubang angin itu. Ternyata semua kawan merasakan hal sama. Sepekan kemudian, Andi Arief (kini Komisaris PT Pos Indonesia) diculik di Lampung. Setelah disekap di tempat “X”, dia terdampar juga di Polda Metro Jaya.

 

Sampai hari ini, peritiwa itu menjadi mimpi buruk bagi kami, terutama mengenang sejumlah kawan yang hilang dan tak pernah pulang. Mereka adalah Herman Hendrawan, Bima Petrus, Suyat, dan Wiji Thukul.

 

Setelah reformasi pada 1998, satu regu Kopassus yang disebut Tim Mawar sudah dihukum untuk kejahatan penculikan ini. Adapun Dewan Kehormatan Perwira memberhentikan bekas Danjen Kopassus Letnan Jenderal Prabowo sebagai perwira tinggi TNI. Prabowo mengaku hanya mengambil sembilan orang. Semuanya hidup, dan sudah dibebaskan.

 

Pada 1999, majalah ini mewawancarai Sumitro Djojohadikusumo, ekonom dan ayah kandung Prabowo. Dia mengatakan penculikan dilakukan Prabowo atas perintah para atasannya. Siapa? “Ada tiga: Hartono, Feisal Tanjung, dan Pak Harto,” ujar Sumitro. Lalu kini apakah kami, rakyat Indonesia, harus memaafkan Soeharto?

 

Doa saya untuk kawan-kawan yang belum (atau tidak) kembali.

 

—Nezar Patria,  “Di Kuil Penyiksaan Orde Baru“, dalam Tempo Edisi Khusus Soeharto, Februari 2008

 

Lintang Cahyaningsih

Share

Leave a Reply