#9 – Jurnalisme Sastrawi dan Catatan Bencana Kemanusiaan: Review “Hiroshima: Ketika Bom Dijatuhkan” oleh John Hersey

Pagi hari sekali, tanggal 7 Agustus, untuk pertama kalinya penyiar radio Jepang menyampaikan pengumuman yang singkat. Sangat sedikit orang yang dapat mendengarnya, mereka adalah penduduk Hiroshima yang selamat. Kata penyiar iitu, “Hiroshima mengalami kerusakan cukup parah karena serangan beberapa pesawat B-29. Diperkirakan mereka menggunakan sebuah bom jenis baru. Perinciannya sedang diselidiki.”

—“Hiroshima”, hal. 89.

 

Bagaimana rasanya hidup dengan rasa takut bahwa sewaktu-waktu sekumpulan bom akan mendarat di halaman depan rumah Anda?

Begitulah kehidupan orang-orang di Hiroshima, sebuah kota yang terletak di wilayah strategis yang sedang berkembang pesat pada pertengahan abad ke-20. Menjelang berakhirnya Perang Dunia II, kota-kota besar di Jepang telah diserang oleh bom yang mendarat dari pesawat-pesawat militer Amerika Serikat, namun Hiroshima tidak—atau lebih tepatnya belum. Pesawat pengebom B-29 menjadikan Danau Biwa di sebelah timur laut Hiroshima sebagai titik temu, dan jejak-jejak udara mereka makin menambah kecemasan warga kota kecil itu. Kabarnya, orang-orang Amerika sedang menyiapkan kejutan istimewa untuk Hiroshima.

 

Saya masih ingat kali pertama dikenalkan dengan nama John Hersey. Sekiranya minggu kedua November 2012, waktu saya masih menjadi satu di antara sekian calon awak baru BPPM Balairung UGM. Waktu itu akhir minggu, dan saya justru duduk-duduk di aula Teater Gadjah Mada, Gelanggang Mahasiswa UGM. Agendanya, Mas Wisnu Prasetya Utomo, alumni Balairung sekaligus lulusan Ilmu Komunikasi UGM, akan memberikan materi diklat tentang ‘Kebalairungan‘.

Yang paling saya ingat dari diklat itu bukan materinya, atau orang-orang saya baru temui dan ajak kenalan pagi itu, tetapi justru buku yang dibawa Mas Wisnu. “Hiroshima” judulnya, yang kemudian ia bagikan pada para penanya aktif di sesi diklat. Setelah membagikan buku, ia bercerita kalau buku itu adalah laporan naratif tentang pengeboman di Kota Hiroshima yang mengakhiri Perang Dunia II. Saya langsung jengkel dalam hati. Tau gitu tadi tanya, kan! 

Singkat cerita, buku itu tidak jadi saya miliki. Kemudian saya lupa, hingga akhirnya diingatkan kembali di sebuah pameran buku pada Mei 2015 (saya selalu menyimpan catatan akusisi buku setiap membeli). Saat itu saya sudah angkatan tiga di Balairung, berkali-kali bertemu Mas Wisnu, tapi tidak pernah membicarakan “Hiroshima” lagi karena topik pembicaraan bergeser ke buku yang mulanya ia tulis sebagai bahan skripsi, “Pers Mahasiswa Melawan Komersialisasi Pendidikan“. Akhirnya, setelah melihat buku yang ngangeni itu dijual dengan harga miring, langsung saya beli dan bawa pulang. Tapi sayang, saya kelupaan pernah punya buku ini karena bentuknya yang mungil dan sering ketimpa buku-buku lainnya. Baru kemarin Jumat, setelah saya obrak-abrik rak buku, ketemulah buku satu ini.

 

 

Hiroshima: Ketika Bom Dijatuhkan” adalah translasi Indonesia yang dibukukan dari hasil reportase John Hersey tentang kehidupan warga Hiroshima saat dan setelah peristiwa bom atom pada 6 Agustus 1945. Catatan reportase sepanjang 30,000 kata yang ditulis menggunakan format naratif ini mulanya diterbitkan oleh The New Yorker dalam edisi Agustus 1946. Catatan itu kemudian dibukukan dan mendapat penghargaan Pulitzer Prize sebagai naskah jurnalistik terbaik Amerika di abad ke-20. Di Indonesia, salah satu pihak yang menerbitkan dan menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia adalah Komunitas Bambu. Yang saya punya adalah versi cetakan pertamanya pada Mei 2008.

Saya mengawali buku ini dengan ekspektasi luar biasa. Bagaimana tidak—catatan ini disebut-sebut sebagai karya jurnalistik terbaik abad ke-20 dan didukung dengan sejumlah ulasan yang luar biasa positif. Namun ternyata, bisa dibilang bahwa catatan ini cukup berbeda dari bayangan saya.

Hersey memulai catatannya dengan mengilustrasikan kisah enam orang yang selamat dari bencana bom atom—seorang ahli bedah muda, seorang pastur, seorang penjahit yang sudah menjanda dengan tiga anak, seorang dokter yang sukses dengan rumah sakitnya sendiri, seorang personalia di sebuah pabrik kaleng, dan seorang pendeta Jerman. Kisah keenam orang inilah yang nantinya akan dinarasikan balik oleh Hersey, berfokus pada pengalaman mereka ketika dan setelah bom dijatuhkan.

Dalam mengilustrasikan keenam tokoh itu, Hersey menggunakan pendekatan khas novel-novel kriminal yang berbasis waktu. Di satu bagian ia menceritakan kisah tentang Pendeta Tanimoto yang sibuk memindahkan barang dari rumahnya, kemudian berganti pada kisah Nyonya Nakamura yang membangunkan ketiga orang anaknya saat sirine bahaya berbunyi di tengah malam. Begitulah selanjutnya, fokus cerita terus berganti antara keenam tokoh hingga akhirnya semuanya berada pada titik yang sama—saat bom atom itu dijatuhkan.

Saya menyenangi pendekatan berbasis kronologis yang digunakan dalam membahas tiap tokoh. Pendekatan itu membuat catatan jurnalistik ini menjadi lebih realistis—semua berpacu pada waktu, dan tanpa sadar saya selalu menanti-nanti nasib tokoh-tokoh lain diceritakan dalam tiap babak. 

Saya juga menyukai data-data statistik yang disampaikan dalam catatan ini. Hersey jelas terlihat telah melakukan reportase dalam waktu cukup lama dan mendalam, karena karyanya sangat berbeda dengan catatan-catatan jurnalisme sastrawi yang saya temui sebelumnya. Banyak karya jurnalisme sastrawi yang hanya mengeksplorasi secara deskriptif tanpa memberikan data-data yang akurat. Karya Hersey, bila menggunakan klasifikasi jurnalisme masa sekarang, memiliki proses penyajian serupa dengan jurnalisme data.

Yang kurang saya sukai, catatan ini menggunakan pendekatan khas jurnalisme masa lampau—cenderung kaku, bersifat jauh dan dingin, dan tidak menggali aspek-aspek lebih dalam daripada sebatas mengilustrasikan apa yang terjadi. Saya cukup familiar dengan paham ‘show, don’t tell‘ dalam setiap tulisan jurnalisme yang cukup panjang, termasuk jurnalisme sastrawi. Sayangnya, pendekatan showing yang digunakan dalam tulisan ini masih sekadar meliputi apa yang bisa dicerna oleh indera, dengan berbasis pada ingatan keenam orang yang selamat tersebut.

Saya pribadi lebih menyenangi eksplorasi emosional seperti yang digunakan Elie Wiesel dalam catatannya—meskipun tentu saja itu lebih bersifat autobiografi karena ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama. Eksplorasi emosional akan lebih mampu menjawab pertanyaan why yang sering muncul dalam perubahan perilaku seseorang saat terlibat bencana kemanusiaan. Dalam buku ini, yang paling menarik bagi saya adalah bagian di mana orang-orang yang sekarat dan tidak mungkin diselamatkan lagi memilih untuk memberi penghormatan terakhir pada kaisarnya. Pertanyaan yang muncul kemudian—mengapa? Mengapa mereka justru terlihat lebih mencintai negaranya saat jelas-jelas keputusan kenegaraanlah yang membuat Hiroshima hancur? Hingga akhir buku, pertanyaan besar itu tidak terjawab. The rationale was missing.

Hersey sebenarnya sangat mampu untuk mengeksplorasi dan mereka ulang ingatan-ingatan emosional dalam tiap aktor dengan wawancara mendalam. Namun memang, tren new journalism yang cenderung lebih lentur dan naratif baru mulai berkembang sekitar sepuluh tahun dari waktu catatan ini diterbitkan. Peristiwa pengeboman yang terjadi belum cukup lama juga membuat topik tersebut cenderung sensitif untuk ditanyakan.

Lebih lanjut tentang jurnalisme sastrawi akan saya bahas dalam review “#Narasi” di sesi selanjutnya.

Saya juga kurang menyenangi translasi yang dilakukan oleh Komunitas Bambu. Saat membaca ulasan-ulasan tentang Hiroshima, saya baru ngeh kalau catatan ini dikenal dengan diksinya yang sederhana tetapi tidak kaku, hanya emotionless layaknya karya-karya jurnalisme pada masa itu. Sedangkan yang saya baca, catatan ini sungguh kaku. Makanya saya kemudian coba membandingkan versi cetak yang saya miliki dengan versi aslinya di sini—ternyata yang asli jauh lebih mengalir dan lentur dibandingkan Bahasa Indonesianya. Pemilihan sejumlah diksi yang kurang pas belum bisa menangkap rasa dalam laporan ini. Saya sarankan Anda untuk membaca laporan aslinya saja ketimbang membeli versi terjemahan Bahasa Indonesia.

Mengenai kontennya, saya secara khusus menyenangi bagian-bagian akhir di mana Hersey mengembalikan pola penuturan seperti feature pada umumnya dan tidak lagi terlalu naratif. Di bagian akhir, ia menceritakan mengenai tanggapan orang-orang yang ditemuinya mengenai bom atom tersebut. Kehidupan mereka kini jauh berbeda, tetapi uniknya, mereka tidak ingin mengetahui lebih lanjut tentang bom yang sudah menghancurkan kampung halaman mereka itu. Justru, orang-orang Kota Hiroshima lebih memilih untuk merencanakan hidup mereka ke depan. “Shikata ga nai. Tidak bisa diubah lagi. Ya sudah, mau bagaimana lagi?” kata Nyonya Nakamura.

 

“Sehari sebelum bom meledak, saya pergi berenang. Pagi itu saya sedang makan kacang. Saya melihat cahaya. Saya terlempat ke tempat tidur adik perempuan saya. Ketika saya diselamatkan, Saya hanya melihat sejauh trem. Ibu saya dan saya sendiri mulai mengepak barang-barang kami.Para tetangga yang terbakar dan berdarah berjalan di sekeliling kami. Hataya-san meminta saya untuk berlari bersamanya. Saya berkata kalau saya ingin menunggu ibu saya. Kami pergi ke taman. Sebuah angin puting beliung datang. Pada malam hari, sebuah tangki bahan bakar terbakar dan saya melihat bayangannya di sungai. Kami tinggal di taman selama satu malam. Keesokan harinya saya pergi ke jembatan Taiko dan bertemu teman perempuan saya yang bernama Kikuki dan Murakami. Mereka sedang mencari ibu mereka. Tapi Ibu Kikuki terluka dan sayang sekali, Ibu Murakami sudah tewas.”

—Esai Toshio Nakamura, 10 tahun, dalam “Hiroshima”, hal. 163.

 

Saya tidak akan berbohong, catatan ini lumayan sulit untuk dicerna. Bukan hanya karena banyaknya data, namun juga karena kedataran penuturan yang seringkali membuat bosan. Tetapi memang bagaimanapun juga buku ini layak disebut sebagai karya jurnalistik terbaik di abad ke-20. Hersey berhasil menampilkan data-data akurat serta hasil investigasi mendalam dan menyusunnya dalam rangka berpikir yang mengalir.

Saya sungguh menyukai tipe penulisan investigatif-naratif seperti ini ketimbang tulisan Allan Nairn yang sempat ngetren tempo hari. Tulisan seperti inilah yang dibutuhkan dunia sekarang—yang mengingatkan kita pada penderitaan-penderitaan nyata di lahan perang, bukan justru menyulut api dengan informasi terbatas dan logika setengah utuh. Saya yang dulunya sempat skeptis terhadap konsep jurnalisme damai jadi sadar, kalau damai bukan berarti menghindari peliputan konflik. Damai di sini berarti non-provokatif—sesuatu yang amat sulit dilakukan bila si penulis memiliki keterikatan tersendiri dengan objek pemberitaan. Di sinilah keunggulan catatan jurnalistik Hersey—karya jurnalisme sastrawi ini berhasil membingkai perang tanpa memicu adanya perang lain lagi. If anything, the report itself promoted peace in general.  

Please do read this one.

 

Lintang Cahyaningsih

Share

Leave a Reply