#11 – Bunga-bunga Itu Angkuh: Review “Dilarang Mencintai Bunga-bunga” oleh Kuntowijoyo

Segalanya mengendap. Cobalah lihat, Cucu. Bunga-bunga di atas air ini melambangkan ketentraman, ketenangan, dan keteguhan jiwa. Di luar matahari membakar. Kendaraan hilir-mudik. Orang berjalan ke sana kemari memburu waktu. Pabrik-pabrik berdentang. Mesin berputar. Di pasar orang-orang bertengkar tentang harga. Tukang copet memainkan tangannnya. Pemimpin meneriakkan semboyan kosong. Anak-anak bertengkar merebut layang-layang. Apakah artinya semua itu, Cucu? Mereka semua menipu diri sendiri. Hidup ditemukan dalam ketenangan. Bukan dalam hiruk-pikuk dunia. Tataplah bunga-bunga di atas air itu. Hawa dingin menyejukkan hatimu. Engkau akan menemukan dirimu. Engkau akan tahu, siapakah dirimu. Katakanlah, tak ada yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan ketenangan batin, Cucu.

—Kakek pada Buyung, “Dilarang Mencintai Bunga-bunga”, hal. 16.

 

Setiap kali membaca cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-bunga“, saya selalu teringat pada “The Little Prince“. Bukan pada naskah novella berbahasa Perancis karangan penulis aristokrat-cum-aviator ternama Antoine de Saint-Exupéry, melainkan pada versi adaptasi layar lebarnya yang terbaru. Buyung, tokoh utama yang dilarang menyimpan bunga-bunga, adalah Little Girl yang tak boleh bermain dengan boneka-boneka. Keinginan mereka sama—menemui kakek sebelah rumah yang menyimpan kisah-kisah tentang dunia. Keduanya sama-sama dihadapkan pada pertanyaan tentang Ada. Satu dilatih menjawab dengan berdiam memandangi bunga-bunga, sementara yang lain sibuk mengelilingi dunia.

Saya katakan cerpen ini lebih mirip versi layar lebarnya karena di sini Little Prince tak hidup selamanya. Ia bukanlah sosok yang setia menemani setangkai bunga mawar di Asteroid 325. Ia tumbuh kemudian terhanyut dalam keseharian dunia orang dewasa—sesuatu yang dulu sama sekali tak bisa dipahaminya. Little Prince itu adalah Buyung yang berganti peran. Ternyata bisa juga ia melupakan bunga-bunga, sama seperti Little Prince yang akhirnya setiap hari menggosok lantai di gedung-gedung bertingkat. Yang diperlukan hanyalah kerja dan pergi ke masjid saja. 

Bisa saja Kuntowijoyo memang terinspirasi dari karya Antoine saat menulis cerpen ini—tetapi siapa sangka akan ada versi adaptasinya yang benar-benar serupa hampir 40 tahun dari penerbitannya? Saya rasa kok tidak mungkin penulis naskah film The Little Prince sengaja main ke Indonesia untuk sowan ke mendiang Kuntowijoyo. Lebih mungkin kalau penafsiran ini dianggap sebagai versi paling raw dari pemaknaan novel The Little Prince yang bisa dirasai oleh siapa saja.

Bagi saya, kisah Buyung, Kakek, dan bunga-bunga melebihi pernyataan Sartre tentang pentingnya kebebasan. Cerpen ini menggarisbawahi keseharian manusia yang mengada tetapi tak Ada, serupa dengan catatan-catatan Heidegger tentang keseharian yang melarutkan. Bunga-bunga mengajari Buyung untuk memahami ketenangan, dan karenanya menjadi Ada. I think, therefore I am—translasi paling sederhana dari cogito ergo sum-nya Descartes. Tetapi ia dilarang mencintai bunga-bunga, dan malah diminta terus bekerja dan pergi ke masjid oleh orang tuanya.

Lebih lanjut tentang catatan Heidegger baca di sini.

Dalam cerpen ini Kakek mengatakan bahwa ketenangan menghasilkan kesopanan, dan kecemasan menghasilkan tingkah laku kasar. Seseorang yang terlalu hanyut dalam pekerjaannya akan menjadi cemas. Maka, agama—atau lebih tepatnya kegiatan pergi ke masjid—menjadi solusi praktis atas kecemasan-kecemasan itu. Tetapi ibarat obat syaraf, penanganan rutin diperlukan tanpa solusi permanen. Itu karena kerja dan beribadah dilukiskan sebagai kegiatan-kegiatan mengada, yang sebenarnya tidak perlu tapi diperlu-perlukan. Kalau ketenangan dan kehakikian, Ada, itu telah tercapai, sebenarnya manusia tak akan lagi memerlukan kegiatan-kegiatan struktural yang menghabiskan waktu sehari-hari. Kenyataannya, manusia lebih memilih untik hidup dalam ilusi keseharian.

Tetapi apakah manusia memang harus mencapai Ada-nya? Ada ibarat bunga-bunga di halaman Kakek atau setangkai mawar peliharaan Little Prince—selalu membagikan rasa yang mengusik untuk kembali mencarinya, dan tak mau berbagi kasih dengan yang lain. Bagi buyung kebenaran hakiki datang dengan harga yang tak sebanding. Jadi sudahlah tidak perlu dicari—hanya akan menambah-nambah rasa hilang di tengah kerumunan!

Cerpen ini membuat saya berpikir bahwa mungkin memang kehidupan manusia sudah seharusnya dijalani dengan sambil lalu. Tidak usah dipikir berat-berat, ngglundhung saja bersama-sama.

 

 

Saya selalu suka penggambaran gagasan eksistensialisme yang menjadi ciri khas Kuntowijoyo. Cerpen-cerpen lain dalam buku kumpulan cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-bunga” ini juga memiliki tema yang sama—penggambaran keseharian dengan bahasa-bahasa sederhana yang mudah ditemukan. Favorit saya, selain “Dilarang Mencintai Bunga-bunga” tentunya, adalah “Burung Kecil Bersarang di Pohon” yang sering dikatakan sebagai sebuah ejekan terhadap praktik beragama. Di dalamnya, Kakek dan Buyung hadir kembali dengan karakter yang sama sekali berbeda.

Gara-gara “The Little Prince” saya pernah takut menjadi dewasa. Cerpen ini mengingatkan saya kembali pada ketakutan-ketakutan itu. Bagaimana, jika, pada akhirnya saya hanya akan menjadi satu di antara ratusan juta orang-orang yang hanya hidup untuk bekerja dan bingung bila ditanya punya mimpi apa?

Saya jelas belum siap bila diminta untuk meninggalkan bunga-bunga—bagaimana dengan Anda?

Lintang Cahyaningsih

Share

1 Comment

  1. […] sekali berbeda. Barman di sini jauh berbeda dengan Buyung, cucu kesayangan kakek dalam “Dilarang Mencintai Bunga-bunga“, namun keduanya sibuk saja mempertanyakan kebahagiaan meski sudah tercukupi secara lahiriah. […]

Leave a Reply