[Filsafat Komunikasi] Ada dan Kemewaktuan: Pembangunan Eksistensi dalam Keriuhan Keseharian (Review Buku Heidegger dan Mistik Keseharian)

ID_KPG2016MTH02HDMK_B

 

Judul buku         : Heidegger dan Mistik Keseharian

Penulis              : F. Budi Hardiman

Tahun terbit       : 2016 (cetakan ketiga)

Penerbit            : Kepustakaan Populer Gramedia (Jakarta)

Jumlah halaman : xiii + 214 hlm

ISBN                : 978-979-91-1018-3

“Try to imagine a life without timekeeping. You probably can’t. You know the month, the year, the day of the week. There is a clock on your wall or the dashboard of your car. You have a schedule, a calendar, a time for dinner or a movie. Yet all around you, timekeeping is ignored. Birds are not late. A dog does not check its watch. Deer do not fret over passing birthdays. an alone measures time. Man alone chimes the hour. And, because of this, man alone suffers a paralyzing fear that no other creature endures. A fear of time running out.”

–Mitch Albom, the Time Keeper–

Martin Heidegger adalah seorang penjinak waktu. Filsuf eksistensialis yang dikenal dengan buku berjudul “Sein und Zeit” itu  tak menggunakan alat-alat pembantu dalam menjalankan tugasnya. Heidegger melihat keseharian dan menarik makna darinya–melihat ontologi melalui fenomenologi. Waktu, baginya, bukan suatu dimensi objektif, diukur melalui piranti-piranti masa kini, maupun bentuk pembatasan tindakan manusia. Waktu merupakan batas-batas pemahaman terhadap Ada–tujuan sejati dari makhluk-makhluk yang mengada, dan untuk menjinakkannya, kita hanya perlu mencandra keseharian.

Pemikiran Heidegger mengenai waktu dan detil-detil eksistensial yang sering terlupakan dalam modernitas menjadi fokus kajian Budi Hardiman. Pengajar Filsafat STF Drikakarya itu menggarisbawahi pendekatan waktu dalam mengkaji Ada yang digunakan oleh Heidegger dalam buku berjudul “Heidegger dan Mistik Keseharian”. Menurutnya, pengungkapan keseharian yang dilakukan oleh Heidegger menjadi titik balik filsafat dunia setelah kehadiran Nietzsche dengan tesisnya–“Allah sudah mati”. Heidegger justru mendorong penemuan relligiusitas di zaman yang tak lagi religius melalui pengamatan keseharian untuk mencari Ada. Budi Hardiman, di sisi lain, mentranslasikan pemikiran Heidegger ke dalam bahasa dan kegiatan sehari-hari yang mudah dipahami. “Heidegger dan Mistik Keseharian” menjadi buku pengantar yang dapat dikonsumsi siapapun untuk memahami eksistensi diri menggunakan waktu.

Budi Hardiman mengadopsi pandangan Heidegger–yang lalu ia katakan sendiri sebagai Heideggeriana. Namun, dalam bukunya, ia tidak berbicara pada Heideggeriana lain, melainkan menjelaskan kerangka berpikir dengan pendekatan serupa pada mereka yang sama sekali buta terhadap filsafat. Dalam bukunya, pertama-tama Budi Hardiman menjelaskan mengenai pendekatan fenomenologis – ontologis yang digunakan Heidegger dalam mengkonstruksi pemikirannya.

Fenomenologi, yang berarti melihat segala sesuatu sebagai hakikat sejatinya, menjadi pintu dalam menemukan jawaban atas pertanyaan ontologi yang paling mendasar, “Apa itu Ada?” Menurut penulis, logika inilah yang sering terlewatkan dalam tesis para filsuf pra-Heidegger–tidak ada yang benar-benar menanyakan apa itu Ada. Descartes, yang dikenal luas karena tesis “cogito ergo sum” (aku berpikir maka aku ada) menempatkan translasi pemikiran manusia di atas Ada itu sendiri. Di sinilah letak perbedaan utama antara pemahaman Descartes dan Heidegger. Ada, yang menurut Heidegger merupakan kesejatian transendental, berbeda dengan bayangannya yang tercipta melalui kesadaran manusia. Ada hadir sebelum kesadaran itu sendiri, dan menjadi alasan terciptanya segala sesuatu yang ‘mengada’. Untuk melihat Ada, diperlukan pendekatan fenomenologis untuk melihat suatu hal sebagai bentuk sejatinya. Budi Hardiman mentranslasikan pendekatan Heidegger sebagai proses “mencandra realitas sedalam-dalamnya sebagai suatu pewahyuan diri Ada.”

Konsep besar yang ditawarkan oleh cara pandang ini adalah manusia merupakan sebentuk Mengada, yaitu suatu yang tercipta akibat adanya Ada–bukan Ada itu sendiri. Manusia berbeda dengan Mengada lainnya seperti hewan atau alat karena hakikatnya, manusia memiliki kesadaran untuk mempertanyakan Ada-nya. Posisi manusia sebagai pemilik kesadaran itu membuat pendekatan objektif tak lagi relevan. Manusia harus dipandang dengan pendekatan subjektif sesuai dengan nilai diri dan identitasnya masing-masing, sehingga tidak dapat digeneralisasi menjadi satu konsep ‘manusia’. Heidegger menggunakan istilah Dasein untuk menjawab kegelisahan ini, yang dapat ditranslasikan secara mentah menjadi ‘Ada-di-sana’.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah “bagaimana manusia bisa ada di sana?” Fenomena keberadaan manusia di dunia ini, bila menggunakan sudut pandang fenomenologis – ontologis tidak bisa dikatakan sebagai “penciptaan oleh Tuhan”. Fenomenologi memaksa kita untuk menggunakan pandangan seolah-olah melihat untuk pertama kali dan menolak logika-logika berpikir yang sudah ditanamkan dari lahir seperti norma maupun agama. Logika yang akan didapatkan begitu menggunakan pendekatan ini adalah bahwa manusia merupakan Mengada yang terlempar ke dunia ini, tanpa sebelumnya ditanyai keinginannya dan tanpa diberi arahan. Peristiwa keterlemparan tanpa tahu asal maupun tujuan ini disebut juga dengan faktisitas oleh Heidegger.

Karena kesadaran yang dimilikinya, manusia mampu menentukan dunia masing-masing, yaitu tempat yang ia rasa memiliki keterikatan dan berfungsi sebagai pemukiman. Budi Hardiman mengadopsi istilah In-der-Welt-sein yang juga digunakan Heidegger untuk mendeskripsikan manusia. Artinya adalah berada-di-dalam-dunia, yang menunjukkan bahwa keberadaan manusia tidak ditandai dengan fase hidup-mati biologis, melainkan ada-tidaknya ia dalam dunia. Suatu manusia yang tidak memiliki kesadaran maupun berinteraksi terhadap sekeliling tidak berstatus sebagai berada-di-dalam-dunia, dan karenanya dapat dianggap sebagai ‘meninggal dunia’. Inilah cara Heidegger menanamkan logika bahwa manusia merupakan makhluk sosial, yang sekaligus menjadi kritik atas individualitas dalam modernitas.

Kesadaran terhadap Ada memungkinkan Dasein untuk melihat segala sesuatu sebagai bentuk Ada-nya yang sejati, termasuk posisi dan interaksi antara segala sesuatu. Menurut Heidegger, dengan kesadaran terhadap Ada, Dasein tidak akan memperlakukan seseorang sebaga alat. Pembudakan adalah suatu contoh pelanggaran terhadap Ada-nya budak yang sejatinya juga berposisi sebagai Dasein. Karena sudut pandang ini, Heidegger sering dianggap sebagai filsuf yang mengadopsi humanisme, meski sebenarnya hanya melihat segala sesuatu dari Ada-nya.

Pemosisian berorientasi penggunaan seperti yang dipakai untuk alat kini telah diadopsi secara luas oleh perkembangan industri. Sistem keseharian tak lebih dari cara melihat segala sesuatu sebagai alat yang bisa dimanfaatkan dan mengabaikan kesadaran terhadap Ada. Fenomena pengaburan terhadap Ada ini dikerangkai Heidegger sebagai das Man, yaitu pengadopsian cara berpikir kolektif pada diri. Keriuhan pendapat yang terjadi dalam keseharian memicu das Man dan mengabaikan Ada yang hanya dapat didekati dalam keheningan diri. Kondisi ini paralel dengan pemikiran Nietzsche yang mensitesiskan bahwa modernitas sudah membunuh Allah meski menggunakan sudut pandang fenomenologis.

Konsepsi das Man menciptakan pemahaman terhadap realitas yang bersifat inotentik, termasuk mengenai ‘Ada-nya manusia’. Dalam konsep industri das Man, manusia dianggap sebagai bagian dari sistem alat kerja. Di sisi lain, Ada yang otentik memahami kesejatian manusia sebagai proses mengada, yang berujung pada kematian. Posisi manusia sebagai Dasein memunculkan banyaknya kemungkinan yang bisa diambilnya dari keterlemparan menuju Ada yang sejati dalam bentuk kematian. Kemungkinan-kemungkinan itulah yang menjadi bentuk eksistensi manusia.

Batasan eksistensi dan kesadaran terhadap Ada menjadi landasan tesis besar kedua dalam “Sein und Zeit” karya Heidegger. Waktu bukan dimaknainya sebagai dimensi pembatas, melainkan pembebas. Waktu tidak mengikat manusia, melainkan sebaliknya, manusia yang mengikat waktu. Pengikatan itu dilakukan melalui Sorge, yaitu kerangka penyikapan terhadap gerak eksistensial yang mencakup kematian, keterlemparan, dan keseharian. Sorge dijalankan sesuai eksistensi Dasein berupa kemungkinan-kemungkinan. Hakikat Dasein terletak pada eksistensinya, dan karenanya memiliki kontrol atas waktu sesuai dengan pemikiran yang ditangkap Budi Hardiman dalam tulisan Heidegger berikut. “Jika Dasein adalah kemungkinan, jika ia adalah ‘Menjadi’ itu sendiri, Dasein tentu tidak sekadar ‘di dalam waktu’, melainkan ‘waktu’  itu sendiri.” Dasein menemukan Ada-nya dalam kemewaktuan.

waktu

Kemewaktuan berbeda dengan waktu objektif. Waktu objektif, seperti yang digunakan oleh piranti-piranti ukur, merupakan waktu inotentik yang tidak sejalan dengan Ada-nya Dasein. Kemewaktuan, di sisi lain, menangkap temporalitas Dasein yang senantiasa aktif mewaktu. Posisi kemewaktuan dan Dasein di sini mirip dengan dunia dan berada-di-dalam, semuanya bergantung pada kesadaran terhadap Ada. Ada Dasein tak lain adalah kemewaktuan yang menjadi makna Sorge itu sendiri.

Budi Hardiman menjelaskan konsep kemewaktuan Heidegger dengan percontohan realitas masa kini. Waktu inotentik digambarkannya melalui riset Robert Levine yang mengkaji tentang kultur “time is money”. Di beberapa negara Eropa Barat, waktu dianggap sebagai komoditas yang memiliki tujuan spesifik tertentu untuk menghasilkan keuntungan. Di sisi lain, negara-negara Afrika, Asia, Timur Tengah, dan Amerika Latin memiliki kecenderungan melambatkan waktu. Perbedaan cara dalam menangkap waktu objektif itu, menurutnya, sudah menunjukkan pembuktian tesis Heidegger bahwa waktu itu berasal dari dalam diri.

Masa lalu, masa kini, dan masa depan tetap ada dalam waktu otentik seperti keberadaannya dalam waktu inotentik. Bedanya, ketiga titik ekstatis waktu tersebut tidak berjalan dalam satu dimensi sebagai garis lurus yang berurutan. Dalam waktu otentik, masa lalu, masa kini, dan masa depan berjalan bersamaan dengan berlandaskan kesadaran atas Ada. Masa depan otentik adalah momen penyadaran Dasein terhadap kemungkinan-kemungkinan, masa kini sebagai momen visi yang membulatkan tekad untuk mencapai kemungkinan, dan masa lalu sebagai momen pengambilan diri kembali dari kemungkinan-kemungkinan melalui penyadaran atas keterlemparan. Kemewaktuan berjalan sebagai sebuah struktur Sorge yang berjalan bersamaan. Ketiganya adalah sama dan merupakan Ada-nya Dasein yang hanya bisa dicari melalui penyadaran keseharian.

Lantas apakah yang disebut dengan manusia otentik? Budi Hardiman menjelaskan bahwa dalam pandangan Heidegger, Dasein tidak mungkin sepenuhnya memfokuskan diri pada proses pencarian Ada. Keseharian Dasein, yang menjadi locus pencarian Ada, terdiri atas proses eksistensialisasi yang juga meliputi perannya sebagai das Man. Dasein, yang Budi Hardiman umpamakan sebagai tokoh utama dalam drama kehidupan Heidegger, adalah Mengada yang secara alami jatuh dalam keseharian. Namun, dalam keseharian tersebut, perlu adanya saat-saat penyadaran terhadap Ada yang menjadikannya terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan. Inilah rahasia antara keterlemparan dan kematian Dasein.

“Heidegger dan Mistik Keseharian” menurunkan manuskrip filsafat Heidegger yang tak sempat terselesaikan sebagai kejadian yang biasa kita temui sehari-hari. Dalam buku ini, Budi Hardiman mengambil poin-poin utama pemikiran Heidegger mengenai Ada dan waktu, mentranslasikan, dan mengonsepsikannya sesuai dengan kondisi modernitas yang lebih mudah dipahami. Buku yang banyak berpatokan pada “Sein und Zeit” ini masih mengadopsi beberapa istilah-istilah Heidegger dalam bahasa Jerman yang sulit untuk ditemukan padanannya dalam bahasa Indonesia untuk konsep-konsep besar seperti Dasein dan das Man. Pengadopsian secara langsung ini sering dipraktekkan oleh para pengkaji pemikiran Heidegger karena karakter filsuf tersebut yang suka membuat kata-kata sendiri. Kata yang diadopsinya pun menggunakan pendekatan fenomenologi dan dibangun ulang dari makna dasarnya. Kecenderungan ini membuat tingginya kesulitan dalam memahami karya-karya Heidegger. Pengantar yang ditulis oleh Budi Hardiman ini memberikan gambaran mengenai makna istilah-istilah tersebut dan cara berpikir Heidegger, mencakup makna implisit dalam teks-teks yang ditulisnya, secara komprehensif.

Dengan latar belakang sebagai dosen, Budi Hardiman membandingkan pola pemikiran Heidegger dengan filsuf ternama lainnya. Di antaranya mencakup Aristoteles, Sartre, Nietzsche, Descartes, dan masih banyak lagi. Pembandingan tersebut memberikan alur perkembangan filsafat ilmu secara kronologis pada pembacanya. Di sisi lain, pembaca dapat pula mendeduksi dari alur kronologis tersebut mengenai faktor-faktor eksternal yang dapat menjadi pemicu kecenderungan pemikiran para filsuf.

Selain berisi mengenai pemikiran Heidegger melalui teksnya, Budi Hardiman juga memaparkan latar belakang filsuf yang menjadi partisipan partai Nazi tersebut. Kontroversi, kehidupan pribadi, dan kondisi sosial-politik dalam kehidupan Heidegger digambarkannya dan dikaitkan dengan logika di balik pemikiran Heidegger. Dalam epilognya, Budi Hardiman menyampaikan bahwa “Sein und Zeit” merupakan refleksi Heidegger atas kondisi perang, dan karenanya cenderung bernada muram dibandingkan buku-buku filsafat lainnya. Inilah yang dimaknainya sebagai kekuatan teks Heidegger karena mampu memberikan makna di balik keriuhan keseharian.

Buku ini disertai pula dengan rekaman percakapan tertulis antara Budi Hardiman dengan beberapa mahasiswanya yang juga termasuk Heideggeriana. Seluruh pembicara dalam percakapan itu adalah mereka yang sudah membaca manuskrip buku ini, “Sein und Zeit”, dan memiliki ketertarikan dengan pemikiran Heidegger. Secara keseluruhan, percakapan tersebut membahas mengenai interpretasi masing-masing pembicara mengenai konsep Ada dan kemewaktuan Heidegger. Rekaman percakapan tersebut memberikan gambaran secara lebih luas mengenai pemikiran Heidegger dalam dunia filsafat. Melalui percakapan ini juga, pembaca dapat menikmati sudut pandang pengkajian yang berbeda dengan bahasa yang mudah dipahami.

Buku “Heidegger dan Mistik Keseharian”, dengan segala keunikannya, bukan hanya dapat dinikmati oleh filsuf masa depan maupun akademisi. Buku ini merangkum pertanyaan-pertanyaan yang ditemui semua manusia dalam keseharian, menggunakan konsep Heidegger, dan mendekatkannya dengan peristiwa-peristiwa abad ke-21. Penulisnya merangkum konsep besar dengan sederhana sambil memberikan contoh-contoh nyata yang memudahkan pemahaman. Buku karya Budi Hardiman menjadi pintu gerbang yang baik dalam mengantarkan pembaca pemula sebelum membaca teks asli Heidegger.[*]

Lintang Cahyaningsih

Share

1 Comment

Leave a Reply