Pers dalam Era Konvergensi Media: Meninjau Penerapan Prinsip Verifikasi Jurnalisme Online

Pesatnya perkembangan telekomunikasi menyebabkan penyebaran informasi tak lagi satu arah. Berbeda dengan media-media konvensional yang menggunakan prinsip top-down, internet menawarkan ruang yang memungkinkan adanya kesetaraan di antara orang-orang yang menggunakannya. Karakter tersebut menyebabkan para pengguna media baru tak hanya dapat menerima informasi. Masyarakat umum, yang dulunya sebatas menjadi target produk-produk jurnalistik, kini dapat melakukan fungsi produsageberperan ganda sebagai produsen dan konsumen informasi. Fungsi tersebut dapat dilihat melalui karya-karya citizen journalism yang dimuat dalam media sosial, blog, maupun rubrik yang disediakan sejumlah media profesional.

Kemudahan masyarakat umum untuk melakukan produksi informasi mengubah praktik kerja jurnalis. Pertama, kegiatan reportase yang mulanya menjadi tahapan wajib pemberitaan menjadi tak lagi ditekankan. Kini, jurnalis dapat menulis berita tanpa keluar dari ruang kerja dengan mengadopsi User Generated Content (UGC) yang diproduksi masyarakat umum. Konten citizen journalism diolah sebagai sumber data sesuai dengan framing yang ingin diangkat media. Seringkali, perusahaan-perusahaan media justru memunculkan regulasi yang memungkinkan pemuatan konten secara mentah tanpa adaptasi. Fenomena adopsi informasi ini telah menimbulkan sejumlah kasus kerusuhan publik karena kebenaran konten yang tidak bisa dipastikan.

Kedua, muncul tuntutan untuk penyampaian informasi yang beragam secara cepat terhadap perusahaan-perusahaan media. Kemudahan produksi dan konsumsi informasi antarwarga menuntut media profesional, bila ingin mempertahankan kredibilitasnya, untuk bergerak lebih cepat dari masyarakat umum. Orientasi kecepatan ini menjadi karakter khusus bagi jurnalisme online.

Ketiga, praktik daur ulang konten menjadi lazim dalam praktik jurnalisme. Tuntutan kecepatan menyebabkan tingginya tingkat pembelian konten pada perusahaan media maupun adaptasi informasi. Tak jarang, proses pemberitaan tersebut dilakukan oleh seorang jurnalis untuk sejumlah media. Akibatnya, pemberitaan di sejumlah media online banyak mengangkat informasi serupa, dengan beberapa adaptasi kebahasaan. Kesamaan framing pemberitaan ini menimbulkan efek pewacanaan dan pembangunan makna publik yang lebih masif dibandingkan jurnalisme konvensional.

Ketiga dampak yang muncul dalam era konvergensi media itu lantas menimbulkan pertanyaan–apa yang membedakan praktik citizen journalism dengan jurnalisme yang dilakukan praktisi profesional? Ashadi Siregar (2008) menilai bahwa, sejatinya, kerja jurnalistik dengan jurnalisme itu berbeda. Praktik jurnalistik seperti menulis dan menyebarkan informasi dapat dilakukan oleh semua orang, sedangkan jurnalisme khusus bagi mereka yang telah menempuh pendidikan kewartawanan. Jurnalisme, berbeda dengan jurnalistik, mengedepankan prinsip verifikasi berupa gate keeping di produk-produk media profesional. Kovach dan Rosentiel (2001) mengatakan bahwa disiplin verifikasi menjadi pembeda jurnalisme dari produk-produk media lainnya seperti propaganda dan fiksi. Namun, apakah kecenderungan praktik jurnalisme online saat ini, dengan banyaknya adopsi UGC dan daur ulang konten, telah menerapkan prinsip verifikasi? [*]

Lintang Cahyaningsih

———————

Dibuat sebagai pengantar TOR pembicara Seminar Nasional HUT ke-30 BPPM Balairung, “Redefinisi Pers Menuju Masyarakat Melek Media” pada 31 Oktober 2015. Seminar akan diisi oleh Daniel Dhakidae, Amir Effendi Siregar, Abdul Hamid Dipopramono, dan Imam Wahyudi.

Share

Leave a Reply