Memaknai Batu

Puluhan batu tertumpuk acak di atas panggung. Di dekatnya, orang-orang berpakaian sederhana berkumpul. Banyak di antaranya mengenakan kaus lengan pendek dan celana kain. Mereka menatap batu-batu itu, tak bergerak. Beberapa menit kemudian, sosok mereka tersinari cahaya bersemburat kekuningan. Beberapa di antara mereka mulai bergerak dengan lambat, menuju tumpukan batu itu.

Seorang lelaki merundukkan badan. Ia membungkuk dan meregangkan tangan, mencoba meraih batu abu-abu kehitaman seukuran buah kelapa. Dengan dua tangan, ia mengangkat batu yang semula berada di atas lantai itu hingga setinggi leher. Perlahan, lelaki itu mulai berjalan. Ia berjalan dengan punggung membungkuk. Napasnya memburu, seakan batu yang diambilnya itu terlalu berat untuk disangga. Rambut memutih dan kening berkeriput menunjukkan usianya yang telah lanjut. Ia tak seharusnya membawa beban terlewat besar seperti batu itu.

Sosok batu itu mencerminkan kekuatan, membuatnya seakan tak bisa dikalahkan. Dengan beratnya, ia menahan segala yang mencoba menggerakkan. Ia selalu berada di tempat yang sama, dengan kokoh mempertahankan diri meski sering diterpa angin dan hujan. “Batu itu bukan sesuatu ciptaan manusia, ia kuat dan tak pernah bergerak,” kisah Takumi Harada, salah seorang pemeran.

Mengikuti lelaki tua itu, belasan orang, lelaki dan wanita, bertindak serupa. Seluruhnya membawa batu abu-abu kehitaman dengan berbagai ukuran. Mereka bergerak perlahan, masing-masing  membawanya dengan satu atau dua tangan. Empat belas orang itu penuh konsentrasi, berusaha keras agar batu yang dibawanya tak jatuh dari tangan. Salah seorang di antaranya berjinjit dengan kaki tersilang. Ia berusaha menyeimbangkan badan supaya dapat menahan beban batu yang dibawa. Tatapan mereka lurus ke depan. Raut mukanya tak berubah. Mereka seakan tak lagi  memerhatikan ke mana kaki melangkah.

Beratnya batu yang digunakan dalam pementasan ini membuat orang-orang di atas panggung itu tidak bisa bergerak dengan bebas. Terbebani batu, gerak mereka melambat. Tubuh mereka terhuyung ke berbagai arah. Pada akhirnya, mereka hanya bisa berputar-putar sambil menahan diri supaya tak limbung dan terjatuh.

Batu itu dapat diibaratkan sebagai belenggu tak kasat mata. Ia selalu membatasi perilaku manusia. Belenggu itu dapat berupa kegiatan, pengetahuan maupun orang-orang. Kehadiran batu itu membuat manusia semakin jauh dari tujuan. Mereka hanya berputar-putar di sekitarnya tanpa bahkan mengingat dari mana mereka berasal.

Selang beberapa saat, suara benda keras berhantaman memecah kesunyian. Sebuah batu terjatuh , berhantaman dengan lantai. Batu itu berguling-guling beberapa kali hingga akhirnya diam.

Empat belas orang pembawa batu itu kembali berjalan berputar-putar. Berpuluh menit mereka berjalan di daerah itu-itu saja. Perulangan itu hanya sesekali diiringi jatuhnya satu atau dua batu yang dibawa. Sikap itu seakan menunjukkan mereka tak tahu arah. Orang-orang itu kebingungan dan hanya berputar-putar tanpa tujuan.

Gerakan mengambil batu, membawanya berkeliling panggung dan meletakkannya kembali yang diulang secara terus-menerus menunjukkan sebuah siklus tanpa henti. Para pembawa batu mencerminkan manusia yang terbelenggu oleh rutinitas masa kini. Setiap harinya hanya berisi kegiatan monoton tanpa henti.

Berulangnya kegiatan setiap hari menimbulkan kebosanan. Kebosanan itu ditunjukkan melalui raut muka tanpa emosi milik empat belas orang itu. Kebosanan yang menumpuk tak selalu dapat disembunyikan. Ada kalanya kebosanan membuat orang berperilaku tak tentu. Orang-orang dapat berteriak, tertawa-tawa dan bercakap pada dinding tanpa suatu alasan yang jelas. Perilaku-perilaku ini juga ditampakkan oleh empat belas orang pembawa batu itu.

Musik tarian salsa tiba-tiba mengalun kencang. Seorang wanita meletakkan batu bawaannya. Ia menarik lengan salah satu rekannya, mengajaknya berdansa. Keduanya pun mulai melangkahkan kaki ke depan dan belakang, sesuai dengan irama musik. Sesaat kemudian, mereka bercakap. Percakapan singkat dalam bahasa Inggris itu menunjukkan ketertarikan mereka dalam JISP 2013, ‘Jogja The Dancing City’.

Selingan tak berhubungan itu mengisahkan kejutan-kejutan yang setia menanti dalam kehidupan. Meski terbelenggu dalam rutinitas, sesekali manusia dikejutkan dengan hal yang tak diharapkan. Kejutan-kejutan itu dapat berupa kematian, rejeki, maupun hal-hal sederhana yang tak terencana. Hal-hal tak terencana itulah yang kemudian mengacaukan rutinitas pembelenggu manusia, membuatnya tak beraturan.

Setelah lama berjalan mengitari panggung dengan perlahan, beberapa di antara mereka mulai kehilangan konsentrasi. Seorang lelaki memukulkan batu pada sebuah triplek hitam. Pukulannya yang perlahan menimbulkan bunyi-bunyian pengusik ketenangan. Bunyi-bunyian yang timbul semakin lama kian cepat dan lantang. Kegiatan-kegiatan di atas panggung pun mulai berjalan tak beraturan.

Tiba-tiba seseorang di tengah panggung menjatuhkan batunya. Ia tertawa. Namun, kedua ujung bibirnya yang turun membuatnya tak tampak bahagia. Lainnya pun bertindak sendiri-sendiri. Seorang wanita terlihat asyik bercakap dengan dinding. Ia tak lagi membawa batu. Bahasanya terdengar asing, pun dikatakan dengan tempo cepat tanpa spasi. Seorang lainnya membawa wajan dan berkeliling di atas panggung. Ia mengaduk-adukkan cairan merah di dalam wajan dengan tangan. Kain hitam yang tergantung menjadi sasaran tangannya. Semburat kemerahan pun mulai muncul di antara kegelapan.

Kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan bukan tanpa alasan. Orang-orang di atas pangung itu berada dalam titik balik. Kejenuhan atas rutinitas yang membelenggu membuat mereka tak tahan lagi. Orang-orang itu melepaskan semua beban yang membelenggu, menjatuhkan batu-batu yang tadi dibawanya. Mereka bebas. Kegiatan-kegiatan tak beraturan itu menunjukkan kebebasan mereka tanpa ada suatu yang menghalangi.

Beberapa menit setelahnya, keempat belas orang itu berbaris. Mereka membentuk satu barisan memanjang di atas panggung. Satu per satu mereka mulai memperkenalkan diri. Bahasa yang digunakannya tak mudah dicerna. Mereka menggunakan berbagai bahasa, termasuk Jepang, Inggris, Indonesia dan Cina. Tak hanya sekali, masing-masing orang setidaknya berbicara sebanyak tiga kali, semua dengan bahasa berbeda. Empat belas orang dengan kewarganegaraan berbeda itu membuktikan bahwa bahasa tak menjadi batasan mereka untuk bekerja sama.

Orang-orang itu tergabung dalam Asia Meets Asia, sebuah proyek kolaborasi bangsa-bangsa di Asia. Bersama, mereka menampilkan pementasan berjudul ‘Nowhere’, Minggu (22/09). Pementasan berkonsep sederhana ini merupakan salah satu pengisi acara pada malam pembukaan Jogja International Street Performance (JISP) 2013. Bermodalkan puluhan batu, tiga triplek besar hitam dan sehelai kain hitam memanjang, mereka menyulap auditorium Taman Budaya Yogyakarta sebagai tempat pementasan.

Kesederhanaan konsep yang diusung mereka bertujuan untuk menciptakan suasana tersendiri antara para pemeran dan penonton. Penggunaan obyek-obyek  yang tak lazim dijumpai dalam suatu pementasan berhasil membuat penontonnya sibuk menerka-nerka inti cerita. “Awalnya, sih, bingung,” tutur Pradita Utama, salah satu penonton.

Simbolisasi ketidakberadaan tempat tujuan yang dilukiskan dengan pembawaan batu membutuhkan pemahaman tersendiri. Jalan cerita yang tak mudah dimengerti merupakan salah satu upaya untuk membawa penonton ke dalam atmosfer pementasan. Gerakan-gerakan bertempo lambat yang digunakan pun bertujuan serupa. “Itu digunakan supaya penonton dapat merasakan emosi dan suasana yang ingin kami sampaikan,” ungkap Takumi.

IMG_0214-2 IMG_0244-2 IMG_0322-2Foto: Nurrokhman

Rencananya ini adalah bahan rubrik apresiasi, lalu ganti menjadi bahan ajar ulasan seni. Namun, karena udah sebulan lebih aku nggak menemukan inspirasi, menyerah deh, haha -_-

Share

Leave a Reply