#6 – Menulis Curriculum Vitae (CV): Bagian Pertama

“Tang, ndelok CV-mu dong.”

“Tang, minta tolong liatin CV boleh?”

“Bedanya CV sama resume apa sih?”

“Ini nggak apa po formatnya begini?

“Aku tau ngopo yo…”

“Mbok aku diajarin, Tang.”

Sejak beberapa tahun lalu saya mendadak punya pekerjaan sampingan—jadi konsultan karir nirlaba bagi yang membutuhkan. Titelnya keren ya, konsultan karir, padahal sebenarnya juga masih mahasiswa yang sedang meniatkan diri mengerjakan skripsi. Tapi memang begitulah kenyataannya—saya sering dimintai tolong dan ditanyai seputar pembuatan CV, cover letter, tips wawancara, info lowongan, prospek karir, dan masih banyak lagi. Dan karena saya selalu percaya pepatah what goes around comes around, saya selalu mencoba meluangkan waktu untuk teman-teman yang perlu dibantu.

Semua bermula dari kebiasaan saya yang kesenangan mendaftar banyak hal. Mulai dari beasiswa, pekerjaan sambilan, pertukaran pelajar, magang—rasanya sudah tak terhitung lagi jumlah aplikasi yang pernah saya sebarkan dan interview yang saya pernah ikuti. Beberapa lolos dan tawarannya saya terima, beberapa lolos dan tawarannya tidak saya terima, dan banyak lagi sisanya yang saya tidak lolos di tahap pengumpulan berkas atau interview. Makanya, kalau ada yang bilang “Lintang kok bisa sih apa-apa keterima,” saya selalu cerita tentang tumpukan kegagalan-kegagalan saya sebelumnya. Semua perlu proses dan pembelajaran—tidak ada yang bisa sukses tanpa pernah merasa benar-benar gagal. 

Ya, Anda masih membaca tulisan tentang cara membuat CV yang baik, bukan salah satu sesi inspiratif Mario Teguh.

Keterlibatan saya sebagai salah satu siswa XL Future Leaders selama dua tahun juga sangat membantu dalam proses pengembangan diri secara profesional. Dalam program itu, saya diajarkan softskills yang diperlukan dalam dunia kerja. Beberapa skills yang saya pelajari meliputi business pitching, teknik presentasi, menulis email dan CV standar bisnis, public speaking, professional grooming, cara bersikap dan berpakaian di kantor, project management, leadership skills, teknik mengambil keputusan, dan pembuatan Individual Development Plan. Dalam program ini, saya dan teman-teman lainnya dituntut untuk learning by doing. Gagal di kelas tidak masalah, asal di luar sukses dan membanggakan. And for the record, saya adalah salah satu siswa yang paling sering gagal di kelas XL Future Leaders. 

Kombinasi antara skills yang dibangun melalui XL Future Leaders, pengalaman seleksi, pengalaman kerja, dan keterlibatan dalam berbagai kegiatan di luar kampuslah yang membuat saya sering dicari sejumlah teman untuk konsultasi karir. Jadi, sekali lagi, yang akan saya bagikan bukanlah berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan formal pelatihan karir, melainkan dari pengalaman saya sebagai mahasiswa yang sering riwa-riwi dan sudah cukup familiar dengan dunia kerja.

Alhamdulillah sudah cukup banyak teman-teman saya yang lolos seleksi beasiswa, exchange, dan kerja setelah berkonsultasi dengan saya sebelumnya.

 

Menulis Curriculum Vitae (CV): Bagian Pertama

Anything could happen. Semua bisa terjadi sewaktu-waktu, dan saya sudah membuktikan itu.

Saya pernah ditawari pekerjaan setelah mengobrol dengan laki–laki di samping saya saat sedang mengantri cetak tugas di salah satu printing center. Setelah itu saya langsung diminta untuk mengirimkan CV dan portfolio ke emailnya. Untung saja saya selalu menyimpan CV terbaru dan portfolio karya-karya selama ini. Kalau tidak, saya akan kesulitan bukan main melengkapi CV dan menyortir karya saat diminta langsung mengirimkan hari itu juga. Karena itu, peraturan pertama saya, selalu siapkan CV terbaru yang bisa dikirimkan sewaktu-waktu.

Tentang apa yang saya bicarakan sehingga bisa mendapat tawaran kerja dan teknik networking akan saya bahas dalam sesi selanjutnya.

 

CV selalu menjadi kekhawatiran utama tiap aplikan. Biasanya pertanyaan yang paling sering saya terima adalah tentang format CV. “Formatnya gimana ya?” Padahal, sebenarnya, banyak hal yang lebih penting dibandingkan format.

Bagi saya, yang paling penting dalam menulis CV adalah kemampuan untuk mengenali diri.

Lho, memang ada manusia yang tidak kenal diri sendiri?

Jawabannya iya—banyak.

Yang saya maksud dengan mengenali diri di sini adalah sikap kritis dan menghargai usaha-usaha yang telah kita lakukan sebelumnya. Banyak teman saya yang sebenarnya kemampuan dan prestasinya bagus bukan main, tetapi kalau diminta membuat CV selalu kebingungan. “Aku nggak berprestasi eh, bingung mau tulis apa.”

Itulah salah satu penyakit terfatal manusia—kegagalan mengenali dan mengapresiasi diri. 

Saya tidak percaya ada orang yang benar-benar tidak berguna dan tidak bisa melakukan apa-apa. Setiap orang memiliki kemampuan dan keunggulannya masing-masing, yang diperlukan hanyalah mengidentifikasinya dan menarasikannya dalam sebentuk CV. Bagi saya, CV bukan sekadar formalitas untuk mendaftar, tapi juga bisa menjadi refleksi apresiasi terhadap diri. 

 

Berikut adalah beberapa pointers untuk membantu menulis draft CV:

  • Tuliskan semua kegiatan kepanitiaan, volunteer, organisasi, pementasan, beasiswa, exchange, lomba, kerja, seminar, pelatihan, usaha, proyek, dan berbagai kegiatan lainnya sejak mulai kuliah. Urutkan semua pengalaman tersebut dengan yang terbaru berada di paling atas.
  • Beri deskripsi tentang tiap pengalaman yang sudah diurutkan. Deskripsi tersebut setidaknya harus menjawab: what did you do, who collaborated, where and when did it took place, and how did it turned out (what did you accomplished). Beri jawaban konkrit yang bisa diukur dan sebisa mungkin melibatkan angka. Contoh: meningkatkan followers dari … hingga …; kegiatan diikuti oleh … peserta.
  • Di kolom lain, tuliskan skills yang digunakan atau diperoleh dalam pengalaman-pengalaman itu serta yang Anda terima dari kuliah.  Contoh: project management, publiic speaking, dll.
  • Kalau ada, tuliskan riwayat publikasi akademik (publikasi ilmiah) maupun non akademik. Bagian ini meliputi publikasi-publikasi di media massa juga, seperti kolom opini atau kolom mahasiswa. 
  • Tuliskan juga penghargaan-penghargaan yang pernah Anda peroleh jika ada.
  • Pastikan Anda menuliskan semua yang telah Anda lakukan atau peroleh setidaknya dari awal masa kuliah. Hal ini penting untuk membuat sebuah master CV dan dokumentasi pribadi sebelum akhirnya membuat CV ringkas sesuai standar perusahaan.
  • Tuliskan semuanya dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris yang baik dan benar. Saya menyarankan menggunakan Bahasa Inggris karena beberapa perusahaan mewajibkan pengiriman CV menggunakan Bahasa Inggris. Jangan lupa gunakan KBBI dan/atau Merriam-Webster untuk mengecek kebahasaan Anda.
  • Minta salah satu teman dekat Anda untuk melihat draft tersebut dan secara kritis memberi pertanyaan yang relevan dengan tiap poin. Contohnya, saya sering menanyakan detil pekerjaan yang lupa untuk dicantumkan, seperti jumlah anggota yang dalam organisasi yang dipimpinnya, dan sebagainya.

 

Seperti yang saya bilang sebelumnya, banyak dari teman-teman yang minta saya untuk mereview CV kurang bisa mengapresiasi diri. Suka kelewatan menuliskan kalau sudah melakukan sesuatu, padahal tenaga dan waktunya sudah habis duluan. Tips paling efektif untuk mengatasi ini adalah dengan meminta bantuan seorang teman yang kritis untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang diri Anda. Keberadaan pihak ketiga akan membantu Anda untuk lebih dalam lagi mengeksplorasi diri.

Saya pernah bilang pada seorang teman, kalau sebenarnya CV itu lebih ideal jika ditulis oleh pihak ketiga, layaknya seorang jurnalis menulis artikel sosok. Seringkali seseorang tidak menyadari pencapaiannya karena menganggap itu sebagai hal yang lumrahpadahal tidak. Seringkali, bila memillih orang yang tepat, pihak ketiga itulah yang justru akan lebih mampu menarasikan diri Anda ketimbang Anda sendiri. Karakter manusia memang sesuai dengan pepatah “Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak.”

Mengenai format CV akan saya bahas di sesi selanjutnya.

 

Sudah hampir tengah malam, postingan saya akan berubah jadi labu kalau telat diunggah untuk #31HariMenulis. Jadi, sampai jumpa di sesi berikutnya!

Lintang Cahyaningsih

Share

1 Comment

  1. […] Sebelum membaca tulisan ini, pastikan Anda sudah membaca tulisan saya sebelumnya di sini. […]

Leave a Reply