Mengikat kata-kata

Bagi saya, kata-kata tidak bisa diikat—ia hidup di antara keseharian yang bisa datang dan pergi sesuka hati. Ia mengada, namun tak ada. Dan karenanya, proses menjinakkan kata-kata itu bukan suatu yang mudah untuk dilakukan. Salah satu contohnya adalah menulis.

Saya selalu beranggapan bahwa sebuah tulisan yang bagus memerlukan proses, terutama jika tulisan itu tidak termasuk dalam kategori news. Segala bentuk tulisan memerlukan focus dan angle yang didesain secara khusus untuk mencirikan diri—seperti USP dan brand positioning dalam bahasa komunikasi strategis.

Dalam tulisan berbasis ide, bukan peristiwa, proses pembangunan landasan penulisan ini lebih sulit untuk dilakukan. Tak ada alur logika atau peristiwa yang menandakan titik awal dan akhir. Semua bebas—bergantung pada keinginan sang pencerita. Namun tentu saja, kebebasan tanpa panduan terkadang menyesakkan. Menjadi Tuhan itu ternyata sulit, Kawan!

Saat ajakan mengikuti 31 Hari Menulis datang dari Si Mantan Selir Hanifa Eka Ramadhyanti, pemikiran itu membuat saya mendebatnya lumayan panjang—meskipun tetap berkali-kali lipat jauh lebih panjang mendebat diri sendiri. Kata Eka, program yang mendenda peserta 20,000 rupiah untuk tiap hari yang terlewat untuk menulis itu baik. “Biar membiasakan diri nulis”, katanya. Tapi, dalam hati, saya tetap kekeuh kalau tulisan non-news yang baik selalu membutuhkan proses inkubasi yang cukup lama. Dan setengah yakin kalau saya mengikuti programnya pasti tulisan-tulisan dirampungkan setengah matang. Mau itu atau uang melayang—either way I’ll be crying in the end huhuhu.

Tapi setelah sesi bersemedi cukup panjang (dalam pikiran) akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar. Kata Eka ada benarnya. Ibaratkan saja skripsi, yang sudah jadi dalam pikiran jelas akan kalah bila tidak dituliskan sambil dikejar deadline—cries. Jadi intinya, mungkin seharusnya program ini dilanjutkan namanya menjadi “31 Hari Menulis Skripsi”, mungkin saya akan lebih termotivasi.

Selama 30 hari ke depan blog ini akan dipenuhi tulisan secara rutin. Jenis tulisannya, di sisi lain, tidak akan sekonsisten jadwal terbitnya. Saya berniat untuk membuat program mingguan untuk konten blog—contohnya Selasa Sastra untuk review buku, Sabtu Fiksi untuk cerpen, dan sebagainya. Konten yang akan saya tulis melingkupi fiksi, review buku, review kampanye komunikasi, tips profesional (menulis CV, cover letter, menyusun attire kerja), esai mengenai isu publik, dan masih banyak lagi. Saya sadar betul kalau saya lebih mampu menarasikan fakta ketimbang fiksi, tetapi paham keberimbangan yang saya anut menjelaskan kalau pembelajaran perlu dilakukan dari beberapa arah—so please bear with my word-scraping fictious streaks for a while.

Tentang bahasa mungkin akan lebih tidak konsisiten lagi. Sebagian tulisan akan saya tulis menggunakan Bahasa Indonesia dan sebagian lagi menggunakan Bahasa Inggris—tergantung konteks konten dan kenyamanan berbahasa. Karena toh, akan lebih baik jika para pembaca blog ini, dan juga saya, dapat belajar berbahasa asing sambil menyelesaikan misi sebulan ke depan. Menarik, bukan? 😉

Doakan saja saya bisa konsisten mengikat kata-kata dan mengamankan dompet!

Lintang Cahyaningsih

Share

Leave a Reply