Menggali Cerita di Pinggiran Metro Manila: Jervs / Mabel Pocketbooks Store

 

“Try reading books written by Russian writers—they often portray stories with such complex and unconventional perspective when discussing popular issues. They can give you new perspectives.”

—Ed ke saya

 

Saya tidak pernah menyangka akan menghabiskan siang menjelang malam Natal dengan diskusi-diskusi panjang tentang Dostoevsky dan Tolstoy, di lantai bawah tanah bangunan mal tua dengan dinding-dinding beton yang retak di sana-sini. Selama tujuh hari saya dijadwalkan terdampar di distrik utama Filipina, negara yang sering dipandang sebelah mata oleh kawan-kawan Indonesia, dan beginilah cara saya menghabiskan waktu. Ini hari keempat dan saya masih dalam quest pribadi untuk mencari buku-buku bekas berkualitas berbahasa Inggris untuk dibawa pulang. Kali ini saya menemukannya di sebuah garasi bawah tanah kecil di Guadalupe Commercial Complex, Metro Manila.

Ed, sang pemilik, membagikan selembar kertas kecil berukuran 7x10cm berisi informasi kontak pada saya. Namanya Jervs / Mabel Pocketbook Store, tetapi entah mengapa banyak yang salah kaprah dan menuliskannya sebagai Jerbs Bookstore seperti di siniyang pada akhirnya juga membuat penamaan lokasi di Google Maps salah! 

 

 

Sambil menyisir jajaran buku satu per satu dan mengatur napas (saya bolak-balik kompleks pertokoan karena toko milik Ed ini sulit bukan main untuk ditemukan), Ed mengajak saya ngobrol. 

So what kind of books do you like to read?” tanya Edgardo Perea, teman Facebook baru saya yang tampaknya sudah berusia lebih dari enam puluh lima.

Saya katakan saja sejujur-jujurnya—bahwa saya suka membaca dari buku-buku teks politik tebal hingga komik-komik anak, dari fiksi thriller yang dingin ala John Grisham hingga novel-novel romansa khas Austen yang membuat banyak perempuan berangan-angan, dari buku-buku agama, baik Islam maupun yang lainnya, hingga peristiwa-peristiwa brutal berdarah seperti Perang Dunia Kedua.

Paparan singkat saya ternyata jadi pembuka obrolan panjang tentang Perang Dunia, kondisi politik Indonesia, perkembangan kaum fundamentalis di Asia Tenggara, dan masih banyak lagi. Ed sangat bersemangat untuk membagikan pengetahuan dari buku-buku yang ia baca sekaligus mendengarkan cerita dari para pengelana, sedangkan saya dalam hati berharap obrolannya cepat rampung. Ed was really well-versed in any of the topics we talked abouttetapi tetap saja saya ingin waktu sendiri untuk membenamkan diri di antara judul-judul buku yang terasa asing itu.

 

Difoto oleh Kimberly Dela Cruz, diambil dari arsip Ed di sini

 

Saya kemudian menyerah karena toh toko-toko buku selalu berhasil membuat saya terasing dengan judul-judul yang tak familiar dan susunan acaknya. Ed tampaknya melihat kebingungan saya, dan mulai mengambil beberapa judul buku dari rak-rak dinding itu—yang pada akhirnya saya bawa pulang semua ke Indonesia. 

“This book, it tells the story of a American-Jewish historian, and this one about the underexposed Japanese Americans,” jelasnya.

Ia mengambilkan buku-buku itu setelah saya bercerita panjang tentang perjalanan ke Amerika dulu yang membuat saya makin tertarik dengan Perang Dunia Kedua, salah satunya tentang Holocaust. Saya juga menceritakan tentang gaya narasi orang pertama khas Wiesel yang enak dibaca. 

Dari satu buku kemudian menjadi satu tumpukan tinggi. Saya yang selalu bingung saat berada di toko buku—bekas maupun baru—baru kali ini menemukan buku-buku bagus berkualitas dengan cepat dan mudah, belum lagi disertai diskusi-diskusi yang menyenangkan. Saya mengantongi (dengan kantong belanja pribadi yang sangat besar, tentunya) buku populer semacam “Slumdog Millionaire”, filsafat India dalam “Life of Pi”, novel bencana “Under the Eye of the Storm” dari John Hersey, buku tebal V.S. Naipaul “Among the Believers” tentang perjalanan enam bulannya mengelilingi Asia Tenggara mempelajari perkembangan Islam fundamentalis yang cetakannya sulit sekali ditemukan di Indonesia, catatan-catatan Holocaust “From That Place and Time” dan “Farewell to Manzanar”, sebuah buku cerita bergambar tentang ulat kecil yang mengalami krisis jati diri “Hope for the Flowers”, “The O’reilly Factor” tulisan jurnalis televisi Amerika yang pro-demokrat, dan masih banyak lagi. Sepuluh buku bagus dan langka saya bawa pulang dengan harga miring di bawah 700 piso.

Dari semua judul itu, yang membuat saya paling tidak sabar untuk membaca begitu sampai kamar sewaan justru si buku cerita bergambar yang ujung-ujungnya sudah tak keruan. Semua itu gara-gara testimoni singkat Ed. Katanya, buku ini bukan hanya untuk anak-anak. Cerita di dalamnya justru lebih cocok untuk orang-orang dewasa. Dan benar saja—

 

“There must be ore to life than just eating and getting bigger. It’s getting dull.”

—Stripe, si ulat bulu, dalam “Hope for the Flowers”

 

Setelah lama berdiskusi setengah serius tentang kondisi politik Indonesia, Ed memberikan saya buku itu dan mulai bercerita tentang perjalanannya hingga mendirikan toko buku bekas kecil ini. “I used to work in construction,” katanya. Saya memastikan dengan melihat halaman Facebooknya yang menuliskan kalau ia lulusan teknik universitas ternama di Filipina. Tetapi akhirnya ia memilih untuk melepas pekerjaannya dan mendirikan toko buku kecil ini.

Because I want to do what I like, reading books, while talking to fellow readers.”

Saya merasa tertohok, sungguh. Meski dulu saya sempat belajar konstruksi dan minggat di tahun pertama karena lebih menyenangi komunikasi, saya benar-benar tidak menyangka ada yang melepas karir mapan di tengah jalan. Ya, tentu saja saya merasakan keraguan dan kejenuhan yang mungkin mirip dengan Ed, tetapi pilihannya mengurusi buku-buku bekas dengan istrinya di ruang bawah tanah bangunan yang mau ambruk itu bagi saya sungguh bernyali. Dan ia sama sekali tak kelihatan menyesal waktu menceritakannya.

Kisah Ed dan toko buku kecilnya ini begitu menarik sampai sering diulas berbagai  media.

 

Daily Tribune, 27 November 2017, diambil dari arsip Ed di sini

 

Saya rasa mungkin kalau saya tinggal di Filipina, dengan iklim penerbitan yang maju dan buku-buku berbahasa Inggris yang bisa ditemukan di mana-mana, saya bisa saja memilih menjadi seperti Ed. Hidup melarut ke dalam catatan-catatan panjang dari satu sudut dunia kemudian menyeberang ke lainnya, menyelami pikiran-pikiran yang bertentangan, dan mengkoleksi ilmu-ilmu yang kemudian dibagikan pada siapa saja yang membutuhkan—sungguh sangat menyenangkan!

Satu kali benar-benar tidak cukup. Saya sudah ingin kembali lagi ke pertigaan ramai yang dipenuhi dengan cabang-cabang restoran cepat saji dan kerumunan kelas menengah ke bawah itu. Saya ingin kembali berdiskusi dan mengulak-alik isi buku.

Saya memang sempat mengunjungi toko-toko buku bekas lain di Filipina seperti Booksale yang bisa ditemukan di mal-mal terdekat. Tapi tetap saja, tidak ada yang benar-benar mengerti bukunya seperti Ed dan toko buku kecil itu. Saya bisa melihat ia benar-benar mencintai buku, dan karenanya buku-buku itu menjadi hidup dan menarik pengelana cerita seperti saya.

Buku-buku yang saya dapatkan dari Ed akan mendapat giliran untuk diulas dalam blog ini. Doakan saja saya bisa kembali mengunjungi Ed dan istrinya sebelum buku-buku itu habis terbaca. Kalau Anda yang duluan mampir ke sana, saya titip salam, dari Lintang, Indonesia.

 

Lintang Cahyaningsih

 

(*) Catatan ini ditulis pada 06 Januari 2018 atas peristiwa 24 Desember 2017. Demi kenyamanan membaca, pencatatan tanggal dilakukan berdasarkan jatuhnya peristiwa.

Share

Leave a Reply