Menapaki Bayang-Bayang Lalu (Review Novel (Bukan) Salah Waktu – Nastiti Denny)

InstagramCapture_99c53c71-b4a3-46bd-b4c4-fb6e48adeb3a_jpg

Betapapun kencangnya kau berlari, kenangan akan selalu menghantui. Sekelibat potongan masa lalu yang belum tuntas direnungkan itu menolak untuk ditinggal  pergi. Mengikuti cepat, sesuai ritme langkah kaki tanpa memerlukanmu berhenti sejenak dan menengok ke belakang. Ia melekat pada setiap senti tubuhmu, mendominasi dan di saat lain terhapuskan cahaya. Kenangan itu hadir dalam bentuk bayang-bayang. Terus menghantui bagai bom atom yang dapat seketika memorak-porandakan seluruh duniamu,

Bagaimana jadinya bila potongan kelam masa lalu yang telah kau kubur dalam-dalam seketika bangkit kembali? Seperti membuka buku harian lampau dengan rahasia kecil yang telah kau tutup rapi-rapi dan sembunyikan di bawah kasur, begitu rasanya. Mendadak, lembaran-lembaran yang tertimpa tinta hitam memudar itu dapat menarikmu kembali, menjauhkan realitas yang kau bangun dalam sekali jadi. Begitu juga yang terjadi pada kehidupan Sekar dan Prabu. Setelah dihampiri masa lalu, kehidupan pernikahan mereka tak sama lagi.

Semula, permasalahan terbesar Sekar adalah pengetahuan terbatasnya dalam mengurus rumah tangga. Gara-gara latar belakang sebagai wanita karir, banyak orang menyindir keputusannya untuk menjadi Ibu Rumah Tangga. Kemampuannya memasak pas-pasan, tak kuat membersihkan rumah dan parahnya– pembantunya pulang kampung! Alhasil, Sekar mati-matian berusaha mengurus rumah yang kini hanya menaungi dua orang itu– ia dan suaminya, Prabu.

Berangkat dari permasalahan sederhana, keadaan rumah tangga Sekar dan Prabu menjelma menjadi sekelumit persoalan yang tak bisa dibedakan pangkal dan ujungnya. Kehadiran beberapa tokoh dari masa remaja Prabu kemudian memancing pertengkaran– semua karena masa lalu! Mulai dari Bram, sosok misterius yang selalu mencari-cari alasan mendekati Sekar, dan Laras, kakaknya, yang rajin bertemu dengan Prabu secara diam-diam.

Rangkaian konflik dalam pernikahan Sekar dan Prabu itu hadir dalam novel pertama Nastiti Denny, (Bukan) Salah Waktu. Mengandalkan konflik pasangan pernikahan sebagai tema sentral buku, Nastiti menghadirkan berbagai persoalan yang sering ditemui dalam kehidupan nyata. Segalanya berbasis pada satu hal– kenangan, alasan klasik yang menyebabkan pertengkaran dalam hidup berpasangan. Menandingkannya dengan rasa percaya terhadap patner hidup, Nastiti berhasil menampilkan kompleksitas hubungan dalam kehidupan sepasang pengantin muda.

Kemenarikan tema yang jarang diusung dipadu dengan rangkaian alur cerita yang sulit ditebak membuat (Bukan) Salah Waktu mampu membangun konsep yang cukup menarik, khususnya bagi para wanita muda di usia dua hingga tiga puluhan. Konsep tersebut kemudian dikemas dalam judul, desain sampul dan format yang menarik mata namun tetap representatif. Bila dilihat sepintas, novel ini memiliki daya tarik yang membuat wanita langsung ingin membeli dan membacanya.

Meski mengusung konsep yang cukup menarik, kecenderungan penulisan membuat pembaca mudah merasa bosan dan mengantuk. Narasi yang terlalu panjang disertai pemaparan detil-detil yang kurang penting justru membuat porsi pembahasan tema utama cerita– mengenai permasalahan pernikahan Sekar-Prabu– tak dibahas secara mendalam. Selain menimbulkan tanda tanya, pemaparannya gagal membuat pembaca meresapi dan merasakan emosi serta latar yang terkandung dalam cerita.

Kegagalan pembangunan fantasi pembaca itu juga dipengaruhi pengambilan sudut pandang yang cenderung inkonsisten. Secara keseluruhan, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga. Namun, jalan cerita terpotong oleh pemikiran tiap tokoh pada tiap-tiap paragraf. Kecenderungan ini ‘mengganggu’ dan membingungkan pembaca sehingga pemahaman cerita tidak bisa dilakukan secara sempurna. Kesalahan pada detil-detil waktu yang dipaparkan juga membuat novel ini terkesan setengah matang.

 

Share

Leave a Reply