#bridgingcourse 04: Kritik Tak Melulu Bersifat Eksplisit

Judul               : Penembak Misterius

Penulis             : Seno Gumira Ajidarma

Cetakan           : IV, 2007

Penerbit           : Galangpress

Tebal               : VIII+214

Pada masa pemerintahan Orde Baru, banyak terjadi penolakan terhadap pemerintah. Yang melawan tak hanya demonstran, namun juga sastrawan. Seno Gumira Ajidarma adalah seorang di antaranya. Ia melawan melalui kumpulan karya sastra.

Saat Soeharto menjabat menjadi presiden Republik Indonesia, kejahatan menjadi-jadi. Preman-preman yang berada di kota-kota besar Indonesia, sebut saja Jakarta, Bandung dan Yogyakarta, tak ragu melakukan pencurian. Kebanyakan dari mereka adalah penjahat kelas teri. Karena maraknya penjarahan, Soeharto membentuk sebuah operasi rahasia. Secara umum, operasi tersebut bertujuan untuk menangkap dan membunuh orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan dan ketentraman masyarakat. Tim yang tergabung pada operasi itu dikenal dengan julukan penembak misterius.

Penggambaran operasi pada masa pemerintahan Orde Baru itu menjadi tema utama yang diangkat Seno Gumira Ajidarma dalam bagian pertama buku kumpulan cerita pendek (cerpen), Penembak Misterius. Buku ini dibagi dalam tiga bagian besar, yaitu Penembak Misterius: Trilogi, Cerita untuk Alina dan Bayi Siapa Menangis di Semak-Semak? Lima belas cerpen yang tergabung dalam Penembak Misterius merupakan karya Seno dari tahun 1985 hingga 1990. Sebagian besar di antaranya pernah dipublikasikan secara terpisah melalui beragam surat kabar di Indonesia.

Bagian pertama Penembak Misterius bercerita tentang keadaan di masa pemerintahan Orde Baru. Penembak Misterius: Trilogi terdiri atas tiga cerpen lepas namun seluruhnya menceritakan tentang penembakan-penembakan yang terjadi pada masa pemerintahan Soeharto. Ketiga cerpen itu adalah Keroncong Pembunuhan, Bunyi Hujan di Atas Genting dan Grhhh!

Dalam Bunyi Hujan di Atas Genting, Seno menceritakan kekhawatiran Sawitri, seorang wanita muda yang menunggu kekasihnya untuk lekas pulang. Pamuji, kekasihnya, adalah seorang preman bertato. Pada masa itu, banyak ditemukan mayat-mayat bertato di pinggir jalan. Sawitri khawatir. Ia terus mencari informasi tentang mayat-mayat yang ditemukan, berharap Pamuji bukan seorang di antaranya.

Berbeda dengan cerpen-cerpen sebelumnya yang bersifat realis, Grhhh! mengangkat konsep imajinatif. Dalam Grhhh!, Seno mengisahkan peristiwa kebangkitan mayat-mayat para penjahat kelas teri yang menjadi korban para penembak misterius. Mayat-mayat itu dapat berjalan layaknya zombie dan melakukan penjarahan di kota-kota. Mereka hanya bisa dimusnahkan menggunakan rudal.

Cerpen-cerpen yang dimuat dalam Penembak Misterius menggunakan bahasa yang lugas dan mudah dimengerti. Penggunaannya pun memungkinkan pembaca untuk merasa dekat dengan tulisannya. Gaya penulisan itu merupakan ciri khas Seno, berbeda dengan karya-karya sastra pada masa itu yang identik dengan penggunaan kata-kata kiasan.

Hal tersebut dikarenakan pengalamannya dalam bidang jurnalisme. Sebelum menjadi seorang sastrawan, Seno dikenal sebagai seorang jurnalis. Ia pun turut merasakan masa pemerintahan orde baru dimana segala tindakan pers dibatasi oleh pemerintah. Karenanya, ia beralih ke sastra. Ia memilih sastra sebagai media alternatif penyuaraan kritik sosial yang tak dapat ditembus pemerintah. Seno terkenal dengan pernyataannya, “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.”

Karena latar belakangnya memasuki dunia sastra, hampir seluruh karya Seno merupakan pengungkap keadaan sosial Indonesia. Ia mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah melalui karyanya. Seringkali, kritik sosial yang ditanamkannya ditegaskan di akhir cerita. Grhhh! contohnya, berakhir dengan Reserse Sarman, sang tokoh utama, menjelaskan fenomena kebangkitan mayat-mayat itu pada petingginya. Ia bercerita tentang banyaknya preman-preman korban penembakan misterius yang sudah tak lagi menjarah. Menurutnya, mereka dendam. Pembantaian massal itu adalah suatu kesalahan besar.

penFoto: Lintang Cahyaningsih

Share

1 Comment

  1. […] ulang, diberi sampul baru, dengan harga yang baru pula. Pokoknya berbeda sekali dengan buku ramping Penembak Misterius yang dulu saya beli seharga 15.000 rupiah […]

Leave a Reply