#14 – Jurnalisme Data dan Kebenaran Absolut

Media-media sekarang ini semua mengalami perubahan. Jadi tidak usah lagi berfokus pada format seperti jurnalisme konvensional—bebaskan saja. Yang penting apa yang ingin kamu sampaikan diterima pembaca.

—Komang, Redaktur Majalah Tempo, 2017

Mengutip Bill Kovach dan Tom Rosentiel, journalism’s first obligation is to the truth. Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran.

Sejak pertama mendengar kalimat itu, pengertian saya terhadap kebenaran tidak pernah benar-benar duduk. Kovach dan Rosentiel menjelaskan bahwa kebenaran mutlak hampir tidak mungkin didapatkan, dan karena itu kita beralih pada pemahaman selanjutnya—kebenaran fungsional yang dianggap absolut oleh sebagian besar masyarakat. Dalam memperoleh kebenaran itu, katanya, jurnalis harus mampu mengambil jarak dengan objek liputan dan melakukan cover both sides. Tetapi tetap saja saya berpikir kalau objektivitas tak akan bisa sepenuhnya dimiliki oleh jurnalisme. Data lapangan adalah bentuk kebenaran paling mentah, namun kebenaran itu harus melalui proses tafsir melalui kacamata jurnalis—tidak pernah digambarkan seperti apa adanya.

Lantas kebenaran milik siapa yang dirujuk oleh Kovach dan Rosentiel? Dalam era jurnalisme konvensional, kebenaran adalah tafsir media dan para jurnalis terhadap realitas, bukan realitas yang sesungguhnya. Teknik framing dan cover both sides memiliki landasan yang sama sekali berbeda, tetapi keduanya digunakan beriringan untuk menghasilkan suatu laporan rangkuman kebenaran. Namun, apakah iya kebenaran yang disampaikan jurnalisme hanya bisa bergerak sejauh itu?

Hari ini saya mendalami jurnalisme data lebih lanjut dengan panduan dari beberapa pemateri, salah satunya Mas Komang dari Majalah Tempo. Mas Komang menjelaskan landasan fungsional tentang jurnalisme data, dan mengapa itu penting untuk diperhatikan. Katanya, jurnalisme data menjadi pelengkap kapasitas terbatas dalam pemaparan data secara objektif dari para jurnalis. Data berupa angka-angka yang terkuantifikasi dan telah melalui serangkaian proses analisis adalah bentuk kebenaran yang sesungguhnya—melebihi pemaknaan kebenaran oleh Kovach dan Rosentiel yang terdahulu.

Dalam jurnalisme data, jurnalis adalah peneliti publik. Orientasi utamanya bukanlah pada pembangunan wacana, melainkan pada penyampaian informasi secara akurat. Dalam konteks ini yang terpenting adalah penangkapan informasi seutuh-utuhnya, yang kadang malah mengabaikan pakem bercerita jurnalisme yang cenderung kaku. Gaya apa bukan menjadi masalah, yang paling penting pertanyaan tentang ‘informasi apa‘ bisa terjawab.  

Saya sudah lumayan sering membaca artikel-artikel jurnal serta buku tentang jurnalisme data, tetapi baru pada sesi ini benar-benar ngeh tentang pengaplikasiannya antara bisnis dan prinsip-prinsip jurnalisme. 

Jurnalisme data tidak berangkat dari peristiwa, melainkan angka. Angka-angka lalu diolah dan dianalisis hingga memunculkan tren yang dapat dilihat. Dari tren itu kemudian dapat dibaca—apa permasalahan mendasar dari kasus-kasus itu? Penarasian data itu juga umumnya menggunakan visual yang menarik sehingga dapat membagikan informasi secara tepat.

 

Mas Komang memberikan kami contoh-contoh hasil olah konten jurnalisme data yang menarik:

Los Angeles Times – Every shot Kobe Bryant ever took. All 30,699 of them

The Guardian – Unaffordable country: Where can you afford to buy a house?

Journalism++ – The Migrants’ Files

 

Setelah sesi dasar-dasar jurnalisme data oleh Mas Komang, saya dapat materi teknis mengenai analisis data oleh Mas Bayu AJI. Ternyata analisisnya tidak susah-susah amat, bergantung pada ketersediaan open data yang bisa dinarasikan. Membuat tulisan analisis kuantitatif tentang isu-isu pembangunan, contohnya, lebih mudah dan tepat dilakukan dengan pendekatan ini ketimbang harus memburu puluhan narasumber yang belum tentu berkapasitas di lapangan. Toh sekarang Kantor Staf Presiden sedang mengembangkan program Satu Data Indonesia yang membuat data-data publik lebih mudah dicari.

Yang berat itu masalah visualisasi—kalau itu saya angkat tangan deh ya!

 


 

Setelah sesi workshop, saya dan teman-teman dibagi ke kelompok-kelompok kecil untuk numpang magang kilat selama tiga hari. Ada lima kelompok—Tempo.co, Liputan6.com, Tirto.id, Selasar.com, dan Suara.com. Saya dan dua batangan yang kebetulan semuanya jebolan pers mahasiswa masuk ke tim Liputan6.com. 

Sorenya kami mampir ke kantor Liputan6.com di SCTV Tower. Setelah briefing dan dikenalin sana-sini, kami diajak makan, setelah itu ngemper di trotoar seberang gedung—dari nasi box, mie aceh, sampai pizza, pokoknya kenyang, dah! 

Kami bertiga ngobrol ngalor-ngidul dengan mentor magang, Mas Andri si Koordinator Liputan Liputan6.com yang dulu lama bekerja di majalah sampai portal berita online Detik. Tetapi yang paling nyangkut di pikiran saya adalah tentang pengertian berita dan tanggung jawab media. Katanya, news value tidak hanya terletak pada berita-berita hard news khas Tempo dan Kompas. Cerita-cerita paling menarik juga bisa dimulai di pinggiran jalan.

Tentang tanggung jawab media dimulai dengan pertanyaan saya ke Mas Andri seputar tulisan Allan Nairm. Katanya media harus bisa menarik garis batas yang jelas antara views dan news, bukan justru mencampuradukannya layaknya Tirto. Penarikan garis batas itu bisa dimulai dari hal-hal paling sederhana seperti pembedaan rubrik. Itulah perbedaan utama media news milik publik dengan media-media komunitas yang berbasis pada pergerakan.

Terlepas dari jenis kontennya, apapun itu, jika sudah dipublikasikan dalam produk menjadi tanggung jawab media—begitu juga implikasi sosialnya. Jadi, jurnalis tidak hanya harus bisa melihat the cold hard truth, tetapi juga melakukan filtering yang positif sehingga tidak menimbulkan kekacauan publik. Tulisan Allan Nairm adalah salah satu contoh negatif karena memberikan tuduhan eksplisit pada aktor-aktor publik tanpa penyajian data dan metodologi yang sesuai. Akibatnya, aktor-aktor yang bersangkutan menjadi pusat konflik. Contoh lain adalah pemberitaan korban kejahatan susila yang diliput sejumlah media dengan sejumlah informasi kontroversial seperti yang saya ulas di sini.

Saya benar-benar sepakat dan kagum dengan pernyataan Mas Andri. Memang benar media mengejar jumlah viewers, tetapi ternyata masih banyak praktisi media yang mengutamakan kewajiban moral dan etika di atas profit dan sensasi.

Kami juga sempat membahas mengenai ruang lingkup magang dan isu-isu yang memungkinkan untuk diliput. Seperti dugaan awal, Hari Buruh masuk dalam daftar utama peliputan. Jadi siap-siap saja menerobos kerumunan manusia besok Senin!

 

Lintang Cahyaningsih

Share

1 Comment

  1. […] saya cukup familiar di Gedung Tempo. April lalu, saya sempat berkenalan dengan Bli Komang dalam pelatihan jurnalisme data yang menjadi bagian dari beasiswa jurnalisme Aliansi Jurnalis Independen […]

Leave a Reply