#bridgingcourse 04: Jeratan Konsepsi Nasionalisme Tak Beralasan

TANAHSURGAKATANYA

Poster Resmi Film Tanah Surga… Katanya

Judul Film            : Tanah Surga… Katanya

Penulis                : Danial Rifki

Sutradara            : Herwin Novianto

Produser             : Deddy Mizwar, Gatot Brajamusti, Bustal Nawawi

Durasi                 : 90 menit

Tahun Keluar       : 2012

“Pak, tanah kita tanah surga, ya?”

“Maksudnya itu negeri kita subur, alamnya kaya raya.”

“Tapi, mengapa ayah saya pindah ke Malaysia?”

“Mungkin di sana hidupnya lebih senang, lebih sejahtera.”

“Kalau begitu, tanah kita bukan tanah surga, Pak.”

Percakapan antara Salman dengan dr. Anwar pada menit ke 52.47 hingga 53.14

Hasyim tak ingin berpindah rumah ke Malaysia. Ia menolak tawaran anaknya, Haris, untuk tinggal bersama. Padahal, ia sakit-sakitan. Ditemani Salman, cucu lelakinya, ia tetap tinggal di daerah pedalaman Pulau Kalimantan. Daerah itu merupakan daerah perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia.

Penolakan Hasyim atas tawaran Haris tersebut merupakan salah satu adegan dalam film Tanah Surga… Katanya. Film ini mengangkat permasalahan nasionalisme yang cukup rumit di daerah perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia. Hasyim, seorang mantan pejuang konfrontasi Indonesia melawan Malaysia, menolak segala hubungan dengan negeri tetangga tersebut. Karena rasa cintanya pada Indonesia, ia menganggap semua yang berhubungan dengan Malaysia sebagai pengkhianat. Hasyim bahkan menolak berbicara pada anaknya sendiri karena Haris memilih untuk menjadi warga negara Malaysia. Kecintaannya pada Indonesia ia coba tanamkan pada Salman melalui kisah-kisah peperangan yang diceritakannya sehari-hari.

Jauh berbeda dengan Hasyim, masyarakat desa lainnya di daerah tersebut tak menaruh perhatian besar terhadap sentimen kebangsaan. Hal tersebut digambarkan dengan keadaan mereka yang tak mengenal mata uang, lagu maupun bendera Indonesia. Mereka berdagang menggunakan mata uang ringgit. Seorang anak justru kebingungan saat diberi lima puluh ribu rupiah oleh dr. Anwar, dokter muda yang baru ditempatkan di desa tersebut. Saat dr. Anwar meminta anak-anak desa untuk menyanyikan lagu nasional, mereka pun kompak menyanyikan lagu Tanah Surga yang dipopulerkan group band Koes Plus pada  awal tahun tujuh puluhan.

Krisis Identitas yang terjadi di desa itu diceritakan karena kurangnya perhatian pemerintah pusat. Mereka tak diberi fasilitas memadahi sehingga hidup serba kekurangan dan jauh dari peradaban. Gedung sekolah pun digambarkan dengan sebuah bangunan kayu kecil berlantai rusak. Akhirnya, banyak dari penduduk desa yang memilih untuk mengadu nasib di Malaysia.

Dengan menitikberatkan pada keterasingan masyarakat terhadap negaranya sendiri, film ini mencoba membawakan gaya satir. Namun, seperti film garapan Deddy Mizwar sebelumnya, sebut saja Alangkah Lucunya Negeri Ini, gaya satir selalu digunakan bersamaan dengan pendekatan komedi. Dalam film ini, akibatnya fatal. Humor-humor yang diselipkan itu justru mendominasi di beberapa adegan. Salah satu contohnya adalah tindakan-tindakan para pejabat pemerintahan serta kepala desa yang selalu digambarkan secara berlebihan. Pada akhirnya, humor-humor itu menghilangkan sisi tragis dari tragedi nasionalisme di daerah perbatasan.

Dari awal hingga akhir film, kisah-kisah tragedi kebangsaan yang digambarkan, sebut saja keadaan desa yang jauh dari modernisasi Jakarta, membuat nasionalisme penonton berada dalam titik terendah. Ironisnya, film ini justru mencoba membangkitkan semangat nasionalisme penonton. Tingginya kecintaan Hasyim pada Indonesia tanpa menghiraukan keadaannya sendiri seperti mencoba mengajarkan nasionalisme secara buta pada penonton. Tanah Surga… Katanya seakan meminta para penonton untuk mencintai Indonesia dengan segala keburukannya, tanpa memberikan alasan yang jelas. Akhir ceritanya pun tak member solusi terhadap permasalahan yang dipaparkan.

Konsep nasionalisme yang diusung secara kontradiktif membuat film ini membingungkan dan tak mudah dimaknai. Berbeda dengan film-film yang mengangkat konsep nasionalisme seperti Merah Putih, Tanah Surga.. Katanya tak memiliki pandangan yang jelas. Dalam Merah Putih, konsep nasionalisme yang diusung sejalan. Film tersebut memberikan alasan-alasan yang jelas terhadap perlunya rasa nasionalisme pada bangsa, sesuatu yang terlupakan di film Tanah Surga… Katanya. Hal tersebut membuat Tanah Surga… Katanya gagal sebagai film yang mengangkat tema nasionalisme. Bukannya meningkatkan rasa cinta penonton, film ini justru menghancurkan semangat kebangsaan dengan konsepsi nasionalisme tak beralasan.

vlcsnap-2013-02-11-14h27m33s207Adegan Salman berlari mengibarkan bendera di perbatasan Indonesia – Malaysia pada menit ke 72.48

Share

Leave a Reply