Trump – Catatan Pinggir Tempo 14-20 November 2016

Donald Trump adalah gejala penyakit kambuhan Amerika. Penyakit ini dimulai dari sederet ketimpangan.

Ada ketimpangan sosial antara yang kaya dan yang miskin, antara yang “sudah sangat kaya” dan “belum kaya”. Di sini, garis pemisah makin tegas dan tebal dalam tiga dasawarsa terakhir. Memang diyakinkan berulang-ulang sahihnya “Impian Amerika”, impian yang jadi sejenis iman, bahwa siapa pun di negeri itu, bila bekerja keras, bisa mencapai kehidupan yang jaya. Tapi sebagaimana layaknya mimpi, ia dimulai dari tidur. Dan masyarakat Amerika lama tertidur: mereka tak melihat bahwa gerak ke atas dalam mobilitas sosial sangat terbatas; yang miskin umumnya tetap miskin. Pada saat yang sama, kian miskin seseorang, kian terbatas modal informasi (terkadang disebut “modal budaya”) untuk menang bersaing.

Maka timpang juga kesetaraan dalam kesiapan persepsi. Di sebelah sini hidup mereka yang lebih mengenal dunia yang rumit dan aneka warna; di sebelah sana berjubel mereka yang tak kenal, bahkan menolak, dunia itu. Dalam kancah yang egosentris itu, tiap yang “asing”, dari “luar”, un-American–sosialisme, komunisme, Yahudi, Islam–membangkitkan waswas. Apa yang belakangan ini disebut sebagai “populisme” berkecamuk dengan paranoia, rasa terancam, dan kebencian.

Populisme pun jadi suara parau membentuk dan dibentuk antagonisme, terutama ketika suatu situasi terasa menekan dan kekuasaan yang menjaganya dianggap berkepala batu. Kelompok-kelompok politik mulai terbentuk. Hasilnya satu mata rantai ketidakpuasan. Mereka memandang diri sebagai “Kami”, “Rakyat” yang padu, menghadapi “Yang Lain” yang isinya mereka bayangkan berdasarkan amarah saat itu. Mereka melihat lembaga-lembaga sosial-politik yang ada selama ini tak membawa suara “Rakyat”. Partai politik dan politikusnya dikuasai “Yang Lain”, yakni kaum elite. Media massa serta media sosial dikendalikan orang-orang di atas. Mereka melawan.

Beberapa bulan sebelum kemenangan, Donald Trump dikecam para pembesar Partai Republik–partai politik yang notabene mendukungnya dan mencalonkannya. Tapi di hari pemilihan ia justru dengan gemuruh dipilih langsung oleh “Rakyat”.

Pelbagai kecenderungan “populis” yang memusuhi “Yang Lain tampak tergabung di sini. “Yang Lain” bisa berarti para pemimpin politik di ibu kota. “Yang Lain” bisa berarti imigran Meksiko, Muslim, orang Hitam, kaum gay, para intelektual, dan seniman yang membela minoritas-minoritas ini dengan bahasa yang jauh dari “Rakyat”. “Yang Lain” juga bisa berarti pendukung “perdagangan bebas” dan “globalisasi” yang bagi suara populis ini hanya menguntungkan “bukan kami”.

Tampak, populisme ini tak bisa disebut “kanan” ta pula bisa dicap “kiri”. Penamaan dan label lama sudah tak bisa berlaku.

Tapi pada saat yang sama, bayang-bayang kemarahan dan kebencian masa lalu muncul kembali. Penyakit-penyakit lama kambuh mencari antagonisme baru. Rasisme Putih yang menampik dan mencurigai orang Hitam, Kuning, Cokelat lahir dari sedimentasi purbasangka abad lalu ketika kata “Negro” berarti penghinaan. Semangat feminis yang menegaskan hak perempuan untuk mengelola fungsi keibuan kaum wanita–termasuk dalam memilih untuk tak melahirkan–dicurigai sebagai penyebab susutnya penduduk kulit putih dan guncangnya nilai-nilai keluarga yang dianggap jadi benteng Mayoritas. Demikian juga homoseksualitas dimusuhi dengan doktrin-doktrin agama yang cemas dari abad ke abad.

Tak mengejutkan bila populisme dengan cepat bertaut dengan konservatisme.

Donald Trump adalah pengingat bahwa proses demokrasi memang bisa membuat perubahan, tapi perubahan tak dengan sendirinya berarti kemajuan, tak pula berarti perbaikan. Dengan catatan, bila pengertian “maju” dan “lebih baik” masih tetap seperti yang disepakati sejak dunia modern menetapkan diri.

Modernitas melihat sejarah ibarat arus sungai ke arah muara kemerdekaan manusia–dan itu dianggap arah yang lebih baik. Populisme abad ke-21 menunjukkan pandangan yang sebaliknya: arah yang lebih baik itu omong kosong. Kemerdekaan (yang dilihat sebagai hidup yang liar dan centang-perenang) adalah kemerosotan. Persaudaraan antarmanusia hanya bisa secara terbatas, atau bila tidak, akan merusak kemurnian etnis atau nilai-nilai “Kami”. Dengan itu populisme menggabungkan konservatisme dengan sikap reaksioner yang meledak-ledak.

Amerika kini menampakkan diri sebagai masyarakat yang macam itu–memandang dunia dengan kelam dan tak punya kemampuan berharap. Yang mencemaskan bukanlah kepemimpinan Donald Trump; ia hanyalah symptom. Yang mencemaskan ialah bahwa sebuah negeri yang punya lembaga pendidikan terbaik di dunia, ilmuwan yang teruji, karya sastra dan seni yang tak henti-hentinya kreatif, ternyata dengan gampang jatuh jadi katak yang meradang tapi setia di bawah tempurung.

— Goenawan Mohamad, dalam Catatan Pinggir Tempo edisi 14-20 November 2016

Share

Leave a Reply