[Catatan Pemred] Hari 5: Sekian dan Terima Kasih

Pertama, ambil segenggam kecil biji kopi, giling hingga halus (sedang saja, tidak sehalus bila ingin membuat espresso).

Kedua, rebus air dengan suhu antara 89-90 atau 91-92 derajat celsius bergantung jenis dan warna kopi (biji kopi berwarna terang dengan suhu lebih tinggi).

Ketiga, siapkan alat seduh V60 di atas teko dan pasang filter kertas yang sesuai di corongnya, jangan lupa dilipat dulu.

Keempat, saat air sudah mencapai suhu yang diinginkan, tuang air dengan gerakan melingkar untuk membasahi filter dan teko (tidak ada yang tahu secara persis kenapa tradisi ini terus dilakukan, konon untuk membersihkan dan menghangatkan alat), buang airnya.

Kelima, tempatkan kopi yang sudah digiling ke dalam alat seduh dan filternya, posisikan ia berada di tengah.

Keenam, tuangkan air dengan suhu yang sesuai ke alat seduh, filter, dan gundukan kopi dengan gerakan memutar dari tengah sebanyak 50ml. Tunggu sejenak untuk membiarkan proses blooming terjadi (tepatnya saya lupa, tetapi banyak yang mengatakan sekitar 45 detik).

Ketujuh, tuang air kembali sesuai dengan persentase kopi:air yang diinginkan (umumnya 1:12 atau 1:14) dikurangi air yang digunakan untuk blooming tadi. Jangan lupa gunakan teknik memutar perlahan (sepertinya arah tuangan juga berpengaruh, tapi saya menuang biasa saja sudah kewalahan).

Kedelapan, kopi Anda kini sudah tersedia di teko, tetapi untuk menurunkan suhu sekaligus gaya-gayaan bisa dilanjutkan dengan proses tuang-menuang dari satu teko ke lainnya ala penjual teh tarik Aceh. Anda akan tahu kopi Anda siap dinikmati saat suhu luarnya tidak terlalu panas dan gelembungnya sudah cukup banyak untuk dikatakan keren.

Kesembilan, kopi Anda siap dibagikan ke teman-teman kantor. Ingat, jangan sering-sering kecuali budget kopi longgar dan lambung sehat.

Kesepuluh, jangan lupa ingatkan rekan kerja Anda untuk menyeruput keras-keras kemudian dengan lantang berkata “Uenaaakkk…” saat mencicipi kopi seduhan Anda.

Inilah sepuluh tahapan pelajaran menyeduh sesungguhnya yang saya dapatkan dari Mas Lendra, Mas Burhan, dan para penikmat kopi lainnya di Tempo yang mendewakan manual brew V60. Postingan sebelum ini hanya berupa clickbait untuk melihat antusiasme pembaca di topik terkait.

 

Jangan terlalu serius!

 


 

It was overwhelming.

Saya sungguh kesulitan mencari padanan kata yang bisa membawa pemaknaan istilah tersebut secara utuh untuk menggambarkan lima hari yang saya habiskan di Tempo. Asyik, penuh kejutan, menantang, luar biasa. Saya merasa seperti sebuah sponge yang dicemplungkan ke ember besar penuh air—terlalu banyak yang harus diserap dan dipelajari!

Saya, yang seperti mendapat akses VIP untuk bertualang ke seluruh bagian Tempo, malah seperti terlarut dalam kumpulan pengetahuan baru yang tampaknya tak berbatas itu. Jika saya ingin mengetahui sesuatu, tinggal bertanya—pada siapa saja, termasuk pimpinan-pimpinannya. Semua siap menjawab dengan terbuka dan bisa diajak berdiskusi asyik hingga berjam-jam lamanya. Bagi saya yang menggilai pengetahuan, itu sangat berharga.

 

Hari ini saya habiskan dengan agenda perpisahan, cek akhir, kemudian obrolan-obrolan lalu yang sangat padat. 

Siang ini saya diminta untuk menyampaikan satu atau banyak hal tentang Tempo, gagasan-gagasan saya, dan kesan selama lima hari terakhir. Saya dan teman-teman dikumpulkan di Cafe Raisa, pojok nyeduh masyarakat Tempo lantai empat yang berlatar ilustrasi si artis ternama. Kemudian, selama satu sesi yang rasanya berjalan berjam-jam (dan memang seperti itu), saya semacam diinterogasi untuk curhat

Saya ceritakan tentang kekaguman sedikit-sedikit saya pada banyak hal di Tempo, termasuk orang-orangnya, isu yang dibahas, sistem kerja, dan masih banyak lagi. Saya ceritakan tentang panduan-panduan singkat yang diberikan para senior dalam obrolan-obrolan sederhana. Saya ceritakan tentang pikiran saya yang menjadi luar biasa liar membayangkan langkah-langkah strategis yang bisa diambil Tempo. Saya ceritakan betapa saya benar-benar merasa beruntung bisa melihat langsung kerja media yang selama ini selalu menjadi bagian dari Ivy League-nya kegiatan jurnalistik Indonesia.

Dan saya benar-benar berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis.

Konyol mungkin, karena jika benar-benar diperhatikan saya baru menghabiskan lima hari di Tempo, bukan lima tahun atau lebih banyak lagi. Tetapi sekali lagi, saya menggilai pengetahuan, pemikiran tajam, dan integritas luar biasa—semua yang ternyata bisa saya temukan di Tempo. Saya merasa masih belum cukup menyerap ilmu dari para pakar media ini—yang memperlakukan saya layaknya adik, bukan anak TK dalam kegiatan study tour. Bimbingan yang diberikan tidak main-main.

 

Saya pernah cerita pada Mas Buset, saya sebenarnya paling malas ikutan acara-acara ambassador yang dibingkai dengan kedok kompetisi di bidang jurnalisme. Itu karena dulu saya pernah ditolak saat mendaftar konferensi jurnalisme internasional yang katanya ditujukan untuk meningkatkan kemampuan dan memotivasi aspiring young journalists di seluruh dunia. Saya, yang waktu itu benar-benar menjadikan kelolosan konferensi sebagai pertimbangan akan berkarir di PR atau jurnalisme, sangat gondok ketika tahu pemenangnya justru banyak yang tidak familiar dengan dasar-dasar jurnalisme pun berniat berkarir di media—apalagi saya kenal dengan mereka karena sempat dibuat serangkaian workshop pendahulu. Saya jadi benar-benar skeptis dengan segala kompetisi, konferensi, maupun kegiatan-kegiatan sejenis yang mengatasnamakan jurnalisme. Kesannya, kok, murah sekali istilah itu untuk diobral?

Ya memang jadi terdengar seksi sih.

Padahal saya murni ingin belajar ilmunya dari para pakar dunia, bukan hanya ingin jalan-jalan. Saya sebelumnya pernah cerita pada teman saya, betapa kesempatan kami untuk mempelajari model jurnalisme internasional sangatlah minim di dalam negeri. Saya juga sempat sangat tertarik dengan Google Newslab, salah satu institusi yang akan mengisi di konferensi itu. Benar-benar patah hati rasanya.

 

Tetapi akhirnya saya daftar juga kompetisi semacam itu lagi, dengan pertimbangan, sekali lagi, itu Tempo.

Saya rasa saya benar-benar beruntung dapat kesempatan ini dengan proses seleksi yang terlewat singkat. Sungguh beruntung. Tetapi saya rasa Tempo juga cukup beruntung karena yang mendapat kesempatan mengobrak-abrik dapur ternyata juga berminat kuat di jurnalisme. Jadi, meskipun ambassador-ambassadoran, saya rasa program “Rebut Kursi Pemred” ini cukup sukses. Kami sama-sama beruntung.

 

Setelah sesi cerita-cerita dengan model duduk melingkar (sebagian terhalangi tiang Raisa, meja, dan kamera video yang selalu terfokus pada saya), saya diberi kenang-kenangan ilustrasi karya Mas Imam Yuni yang ditandatangani para pegiat Koran Tempo. Gambarannya, saya lagi memegang Koran Tempo dan tersenyum sumringah. Oh ternyata itulah alasan Mas Imam mendadak minta saya pose buat difoto tadi selepas rapat checking!

 

Tentu saja untuk penutupnya dimulailah acara seduh-seduh kopi. Kali ini saya yang jadi baristanya, dipandu oleh Mas Lendra yang katanya sudah didapuk jadi brewer paling andal di Gedung Tempo. 

Saya, yang kemampuan motoriknya sungguh lemah bukan main, jelas gelagapan begitu diminta menyeduh kopi. Menuang saja saya belepotan dan tumpah ke mana-mana, alirannya terlalu deras dengan waktu yang tak sesuai. Akibatnya, kopi Strawberry Fields yang katanya premium itu malah rasanya jadi tak keruan. Keasamannya amburadul, hiks.

Tapi dengan ini, saya resmi pernah menjadi Pemred Tempo lima hari!

 

Prosesi perpisahan selesai, saya mengerjakan tulisan-tulisan yang tertunda di ruangan Mas Buset. Saya memang merasa kalau yang namanya menulis itu luar biasa adiktif, sekali dimulai susah untuk benar-benar berhenti—bahkan untuk skripsi! Jadi ya, saya suka mengalokasikan waktu di mana saya benar-benar kosong supaya bisa menulis dengan lega dan tidak mengganggu kesibukan lainnya.

Makanya mohon dimaklumi bila tulisan ini terbit berhari-hari dari waktu yang diceritakan. Saya takut keasyikan menulis dan kerjaan lainnya tertelantarkan.

Ini saja saya buru-buru menulis sebelum mengurus acara pernikahan klien wedding organizer kakak. Ya, masih sempat.

 

Malam hari, saya dan Mas Philip baca-baca berita yang telah ditata untuk cek akhir sekaligus makan di warung tenda dekat kantor. Di sana, saya malah dapat petuah banyak dari Mas Philip.

Pertanyaan paling besar saya selama lima hari di Tempo saya tanyakan, “Kenapa orang-orang bisa bertahan sampai puluhan tahun bekerja di Tempo?” Katanya, jajaran Redaktur Utama rata-rata sudah bekerja di Tempo lebih dari dua puluh tahun.

Tidak ada berita yang tidak bisa ditulis di Tempo,” ujar Mas Philip “selama masih memenuhi standar layak berita.”

Memang tidak bisa disanggah—orang-orang yang bekerja di Tempo adalah mereka yang benar-benar peduli pada pemberitaan berkualitas. Mas Philip sempat bercerita bagaimana staf redaksi dulu ada yang pindah ke perusahaan media lainnya dan langsung direkrut menjadi Redaktur Utama—meloncat dua jabatan fungsional yang bisa memakan lebih dari tujuh tahun bila disamakan di Tempo.

Jajaran pimpinan redaksi pun, katanya, sudah pernah mendapat tawaran pekerjaan dengan gaji berkali-kali lipat, tetapi ditolak.

Saya ini berpikir, kalau saya keluar, apa yang akan terjadi dengan Tempo?

Pemikiran ini familiar, sungguh familiar. Dulu semasa kepengurusan saya dan teman-teman di pers mahasiswa, logika yang sama membuat kami bertahan meski kuliah jadi keteteran (jangan dicontoh). Kami ingin idealisme dalam pemberitaan yang benar-benar kritis, berpihak pada rakyat, dan benar-benar perlu menjadi konsumsi tetap hidup. Tetapi rasanya sungguh luar biasa saat pemikiran semacam itu masih hidup dalam dunia kerja.

Saya jadi tidak terlalu skeptis lagi dalam memandang industri media sebagai dunia kerja.

 

Saya bertanya lagi pada Mas Philip tentang sistem advancement kerja yang selama ini banyak membuat para jobseeker ciut hati.

Tempo, katanya, hanya menerima jurnalis-jurnalis yang benar-benar menjadi binaan perusahaan dari masa Calon Reporter. Tidak menerima transferan jurnalis dari perusahaan lain. Itu untuk penulis.

“Kami pernah coba rekrut dulu, tapi jauh dari standar Tempo.” Saya dalam hati membenarkan saja.

Jenjang kerja di Tempo berlapis-lapis. Dari masa menjadi Calon Reporter selama dua tahun, Staf Redaksi, Redaktur, hingga Redaktur Utama, paling cepat dilakoni selama tujuh tahun. Tujuh tahun. “Itu kalau benar-benar bagus.”

Saya mendadak jadi makin salut dengan para jurnalis tempo. Luar biasa hebat.

 

Selepas cek akhir, saya dititipkan ke Agoeng Wijaya, yang katanya sedang menjalani sesi magang Redaktur Utama. Entah mengapa Cak Goeng ini bisa diajak ngobrol dengan luwes oleh anak-anak muda—saya diam-diam mengkalkulasi umurnya dengan cerita-cerita semasa ia apel pacar (dulu) di Jogja. 

Sekitar pukul dua, Cak Goeng mengajak saya ke burjo dekat kantor, katanya ingin dikenalkan ke reporter-reporter nasional.

Ada tiga orang di situ, satu mantan nasional dan dua lainnya masih reporter nasional—Mbak Indri, Mas Indra, dan Mas Iko. Ketiganya asyik bercerita tentang peliputan-peliputan sebelumnya, staf-staf yang menghilang, dan masih banyak lagi, sementara saya lebih asyik mendengarkan dan menyerap informasi-informasi baru.

Mereka cerita banyak tentang kasus-kasus investigasi dulu, salah satunya investigasi Pizza Hut dan Marugame Udon yang menggunakan bahan-bahan kadaluwarsa.

Katanya, untuk memperoleh bahan yang cukup, ada reporter yang mendaftar dan menyamar jadi pegawai restoran. Proses penyamarannya pun tidak main-main—cukup lama sehingga ia bisa dapat akses ke sampah-sampah dapur. Sampah itu kemudian dibawa ke kantor dan diteliti satu per satu tanggal kadaluwarsanya.

Sungguh, luar biasa. 

Saya rasa kok jurnalis-jurnalis Indonesia kurang mendapat apresiasi untuk peliputan-peliputan investigatif semacam ini.

Investigasi semacam inilah yang membuat Tempo terus hidup.

 

Praktik investigasi macam ini belakangan coba dikembangan Tempo supaya lebih relevan, menjangkau masyarakat luas, dan benar-benar independen dari pengiklan.

Tempo.co bekerja sama dengan Change.org dan Kitabisa.com membuat program kolaboratif bernama “Bongkar” yang memungkinkan masyarakat luas untuk memilih topik investigasi sesuai preferensinya dan memberikan pendanaan pelaksanaan (yang ternyata memakan dana sangat besar). Dengan begitu, kultur investigasi masih akan bisa bertahan hidup bahkan dalam portal berita online.

Teknis program, seperti dilansir dari Change.org adalah sebagai berikut.

  • Lewat Change.org kamu bisa pilih topik-topik yang layak dan menarik untuk dibongkar
  • Lalu kamu bisa ikut urun dana lewat Kitabisa.com agar investigasinya terlaksana
  • Kemudian TEMPO.co akan bergerak investigasi, dan hasilnya disebar lagi ke warga

Untuk info lebih lanjut silakan simak video di bawah ini.

 

Saya pulang dari Tempo sekitar pukul setengah empat pagi. Niatan awal saya menunggui deadline majalah, tetapi ternyata katanya bisa sampai siang hari. Tiket kereta jam delapan pagi, kosan yang masih berantakan, dan mata yang sudah ngantuk-ngantukan membuat saya tidak tahan lagi. Padahal, sudah ngopi tiga kali.

Saya pulang membawa ilustrasi dipigura, setumpuk buku dari Tempo Publishing (yang selalu ingin saya beli tapi sulit dicari), dan ilmu yang tak terganti. Bagi saya hadiah paling indah adalah pengetahuan, dan Tempo sudah lebih-lebih memberikannya pada saya selama lima hari terakhir. 

Tidak ada kata lain selain terima kasih.

Saya harap saya masih bisa bertemu dengan orang-orang yang luar biasa hebat dengan ketajaman pikir dan idealisme tak tertandingi ini kembali di masa depan.

 

Lintang Cahyaningsih

 

(*) Catatan ini ditulis pada 16 Desember 2017 atas peristiwa 08 Desember 2017. Demi kenyamanan membaca, pencatatan tanggal dilakukan berdasarkan jatuhnya peristiwa.

Share

Leave a Reply