[Catatan Pemred] Hari 4: Pelajaran Menyeduh

“Tergantung mau jadi apa—Lexus, Toyota, atau malah Daihatsu.”

—Burhan Sholihin

 

Saya dan teman-teman di kampus pernah berandai-andai, mungkin tidak sih Tempo akan tutup dalam beberapa tahun ke depan?

Kami bertaruh dengan angka. Ada satu teman saya yang menebak lima tahun, lainnya sepuluh tahun.

Alasannya sederhana—kami, para mahasiswa yang suka nyinyir mengkomentari praktik bermedia di Indonesia, menilai Tempo terlalu konvensional dan kesannya benar-benar enggan mengadopsi kultur digital. Padahal, Tempo Interaktif dulu menjadi pelopor portal berita online dengan ekstensi .com.

Setelah saya masuk dapur Tempo barulah saya paham kalau perusahaan ini bukannya enggan berubah, tetapi justru terengah-engah. Kultur digital yang menomorduakan relevansi dan kualitas pemberitaan membuat tulisan-tulisan dengan standar layak Tempo tenggelam di antara postingan viral yang kebanyakan clickbait. Garis api Tempo yang jelas mengarah pada kerja-kerja keredaksian membuatnya sulit menjangkau pembaca di ranah baru. Berita online pun harus melewati standar keredaksian yang ketat, termasuk dalam tata bahasa—yang pada akhirnya kalah dalam perebutan peringkat mesin pencari.

Lalu apa yang bisa dilakukan saat Google lebih berpihak pada berita-berita sensasional?

 


 

Saya mengawali hari ini dengan sekumpulan ide yang cukup gila—benar-benar gila!—yang tiba-tiba muncul dan mengganggu upaya saya untuk tidur selepas tengah malam. Saking semangatnya, saya tuliskan ide-ide itu hingga ke turunan teknisnya dalam buku catatan kecil yang saya bawa-bawa ke manapun saya pergi. Dari model bisnis, alur kerja, hingga posisi-posisi yang harus diisi dalam gambaran bisnis fiktif itu saya tuliskan semua. 

Sesi brainstorm tengah malam itu baru berakhir sekitar pukul lima pagi. Saat saya mencoba tidur setelahnya pun pikiran saya masih terus berjalan ke sana ke mari tak beraturan—seperti dengungan lebah yang sarangnya ditimpuk batu. Kalau sudah diajak berpikir tentang ide-ide gila begini memang otak saya jadi tidak bisa diam.

Pukul sepuluh, saya sudah duduk rapi di ruangan Mas Buset. Saya benar-benar tidak sabar menceritakan ide-ide gila tadi—yang sebenarnya mungkin hanya akan mendapat lirikan satu kali kemudian dibuang jauh-jauh. 

Begitu Mas Buset datang, saya langsung saja dengan semangat menceritakan coretan-coretan tengah malam itu. 

Ide besarnya kira-kira begini—menciptakan suatu platform shared economy di bidang media yang sekaligus berfungsi sebagai perluasan newsroom dengan model pemberitaan on-demand. Gila, saya tahu, tapi saya rasa memang industri media perlu dipancing dengan ide-ide gila semacam ini untuk terus maju. Detil kerjanya saya siapkan dalam bentuk catatan-catatan kecil.

Saya rasa masa kerja saya di digital startup benar-benar merombak pemikiran saya—tidak ada limitasi dalam pengembangan industri apa saja dengan hadirnya teknologi,

Mas Buset kemudian meminta saya untuk menuliskan kembali catatan-catatan kecil itu dalam bentuk  proposal sederhana. 

 

Setelah puas menyampaikan gagasan-gagasan yang cukup gila itu, saya dan Mas Buset berangkat ke acara makan-makan bersama syukuran Tempo Media Week. Di sana saya jadi kenalan dengan banyak orang Tempo Institute yang pada akhirnya membuat saya bisa merebut kursi Mas Buset. Terima kasih!

Dan dari situ juga saya jadi tahu acara tiga hari itu ternyata cukup dadakan dan membuat pusing lumayan banyak orang.

 

Setelah makan siang, kami (atau sebagian dari kami) balik ke kantor dan kembali ke pekerjaan masing-masing. Selain merecoki pimpinan-pimpinan Tempo, saya jadi punya tugas lain—membuat proposal ide-ide yang saya ceritakan sebelumnya.

 

Menjelang malam, saya celingukan mencari pelaku Tempo.co yang bisa diajak berdiskusi. Ketemulah saya dengan Mas Burhan, Direktur Tempo.co.

Saya ceritakan ide-ide yang tadi saya tuliskan dalam proposal, yang kemudian ditanggapi Mas Burhan dengan menyalakan ekstensi televisi dan menghubungkannnya ke laptop. Mas Burhan lalu menunjukkan perencanaan bisnis digital Tempo berikut proyeksi pembacanya dan grafik-grafik berisi angka lainnya. Ternyata, Tempo bukannya enggan memasuki dunia digital, tetapi memang sedang berancang-ancang untuk mengembangkan diri lebih baik lagi.

Mendadak saya jadi teringat omongan teman saya, “Ah, Tempo itu tidak akan bertahan lama,” dan mulai menyanggah sendiri dalam hati. Set data yang saya lihat cukup meyakinkan saya kalau Tempo masih akan ada setidaknya sepuluh tahun lagi.

Saya rasa tiap perusahaan media pasti memiliki kekhawatiran berlipat-lipat dalam melihat model free market yang ditawarkan internet. Semua bisa menjadi pelaku usaha, tetapi konglomerasi semakin menjadi-jadi. Penempatan iklan yang menjadi pemasukan utama media pun kini makin mengarah pada model monopolistik perusahaan-perusahaan sosial-teknologi raksasa seperti Google dan Facebook—semua dengan pengeluaran yang bisa diatur secara efektif dan terpantau. Akibatnya, pendapatan iklan melalui penempatan produk baik berupa spot maupun advertorial jadi makin minim.

Tiap kali saya berdiskusi tentang perkembangan teknologi dengan jurnalis atau pengamat media di mana saja, kesimpulannya pasti sama. Teknologi memberikan tantangan luar biasa bagi pekerja media, titik. Termasuk juga bayang-bayang kematian media cetak. Konotasinya negatif.

Karenanya, bagi saya upaya Mas Burhan dan teman-teman Tempo untuk terus berupaya mellihat kesempatan strategis, baik dalam bidang kerja sama, pelayanan konsumen, ataupun inovasi konten, sangat perlu diapresiasi.

 

Saya tidak hanya berdiskusi asyik tentang perencanaan strategi bisnis ke depan bersama Mas Burhan, tetapi juga tentang konten dan kultur bermedia di kalangan jurnalis Tempo. 

Saya pernah bilang kalau diskusi-diskusi singkat dengan para petinggi Tempo sering membuat saya teringat dengan masa pengurusan pers kampus dulu. Dan lagi-lagi, saya kembali diingatkan dengan yang satu itu. 

Dulu saya sering bergurau dengan teman-teman pers mahasiswa di Jogja. Nikmatilah masa-masa mahasiswa, katanya, karena selepas dari kampus yang namanya idealisme itu akan kalah dengan agenda monetisasi. Kami memang skeptis, dan bagi kami tidak ada perusahaan media yang bisa benar-benar independen, termasuk Tempo.

Barulah saat saya benar-benar menjelajah dapur Tempo hal-hal besar yang dulu sering kami bicarakan itu seakan hidup. Idealisme mengalahkan pertimbangan pemasaran—luar biasa!

Dan di sinilah baru benar-benar terasa beban kerja Mas Burhan—untuk tetap menghidupi sekumpulan orang yang ingin mencari uang dari idealisme sederhana itu. Sulit, sangat sulit.

Mas Burhan tahu tentang apa yang diinginkan warganet, dibuktikan dengan tulisan uji cobanya tentang Warunk Upnormal yang bisa dibaca di sini. Tapi ia juga tahu, Tempo selalu ada standar pemberitaan yang jelas untuk dijaga. Saya jelas bakal kaget jika mendadak Tempo membuat artikel clickbait dengan judul-judul sensasional seperti “Terungkap, 7 Fakta Hubungan Tersembunyi Ayu Ting-Ting.” Kaget, syok, dan mungkin akan langsung memblokir situsnya untuk beberapa tahun ke depan.

Tempo hanya akan menjadi Tempo dengan gaya investigasi mendalam dan garis api condong ke kerja keredaksian. 

Untuk mengakali digital presencenya, Tempo membuat alur pengerjaan yang cenderung unik. Setelah berita, Tempo.co khususnya, selesai edit dan dicek kebahasaannya, metadata berupa judul dan cuplikan isi diedit sehingga lebih SEO friendly. Jadi jangan heran kalau berita yang Anda klik punya judul berbeda dengan cuplikannya di media sosial atau mesin pencari.

Masih banyak lagi pelajaran-pelajaran menarik yang saya dapat dari Mas Burhan, tetapi tentu saja terlalu panjang untuk diceritakan dan banyak yang masih jadi rahasia perusahaan (sepertinya, saya tidak pernah benar-benar mengkonfirmasi apakah perencanaan itu boleh disebarluaskan).

Saya sampai-sampai harus memotong obrolan karena sepertinya tidak akan pernah rampung—selalu saja ada sesuatu untuk dibicarakan dan dipelajari lebih lanjut. Ternyata, Mas Burhan tidak hanya bersemangat memberikan pelajaran menyeduh saja.

 

Saya baru berani mengecek jam tangan lagi begitu keluar dari kantor Mas Burhan. Hampir jam sembilan malam. Buru-buru saya balik ke ruangan Mas Buset untuk mengecek apakah Pemred sungguhan itu masih di sana.

Ternyata masih

Ceritanya ini adalah hari terakhir saya didampingi oleh Mas Buset sebagai Pemred Koran Tempo, makanya jam-jam menjelang cek akhir ini justru jadi sesi perpisahan saya dan Mas Buset. Perpisahan awal, katanya, karena toh kita akan ketemu lagi di sela-sela liburan keluarga Mas Buset di Jogja minggu ini dan waktu saya mau ke Toraja Januari depan. 

 

Setelah sesi perpisahan yang menurut saya terlewat sederhana, saya didampingi Mass Philip, Redaktur Eksekutif Koran Tempo, mempir ke lantai empat dan mulai proses cek akhir koran edisi esok hari.

Benar-benar tidak ada kata lain yang bisa mendeskripsikan proses cek akhir bagi saya selain asyik. Kata Mas Philip, itu karena saya baru mampr sekali-dua kali. Coba sudah ratusan dan ribuan kali, yang ada hanya capek dan bosan melihat tulisan-tulisan!

Tetapi bagi orang awam yang baru pertama kali mengikuti proses cek akhir harian cetak, asyik.

Pertama, kami mampir dulu ke beberapa Redaktur Utama, Mas Sunu dan Kang Jajang. Setelah keliling dengan pertanyaan rutin “Gimana tulisan, lancar?” kami pun mampir di bagian desain.

Agendanya, cek cover dan kesesuaian layout artikel dalam halaman-halaman koran.

Baru sekali berjaga sampai malam, ternyata saya langsung dapat pengalaman cukup unik. Judul di halaman depan diganti, tidak sesuai rapat perencanaan siang tadi. Akibatnya, ilustrasi yang sudah diwarnai dan tinggal diatur tata letaknya jadi kurang representatif.

Headline kali ini “KPK Siapkan Lima Bukti Peran Setya” tetapi ilustrasinya menggambarkan Setya Novanto yang sedang kebingungan karena anak tangga yang dinaikinya berjatuhan. Awalnya ilustrasi itu digunakan untuk menggambarkan judul semula yang berfokus pada kebingungan Setya setelah strategi yang dibangunnya mulai ambruk. Data yang baru didapatkan di sore hari justru mengubah angle berita utama dan membuatnya tak lagi relevan.

Kami mendadak dituntut jadi kreatif. Penggalan kutipan berita lanjutan yang berbunyi “Gugatan Setya dinyatakan gugur jika hakim pengadilan kasus e-KTP dengan terdakwa Setya memulai sidang.” Kutipan itu diletakkan di ruang kosong tengah-tengah ilustrasi. Lebih relevan?

Selain mengecek cover dan berita utama, saya juga dapat kesempatan memotong berita yang karakternya melebihi batas layout. Sejak pertama belajar struktur segitiga terbaik, saya selalu ingin mencoba memotong struktur berita yang katanya memungkinkan pemotongan lebih mudah dari bawah itu. Dan ternyata, memang benar.

Pasti banyak wartawan-wartawan Tempo yang kesal kalau tahu anak ingusan ini potong-potong berita mereka………….

 

Setelah cek akhir, saya dan Mas Philip mampir menghampiri Yosep Suprayogi, Kepala Pengembangan Produk Digital yang sekarang sedang sibuk mengurusi Teras.id, portal kurasi berita baru dari Tempo. Mas Yosep ini benar-benar unik—sulit untuk dideskripsikan. Begitu juga dengan pekerjaannya.

Kata Mas Yosep, anak zaman sekarang tidak lagi harus dituntut berpikir outside the box, karena benar-benar hidup tanpa batasan boks itu lagi.

Yep, benar sekali. Saya tumbuh dengan ajaran utama bahwa teknologi tak memiliki limitasi, dan karenanya inovasi produk pun tak terbatas.

Saya sering menjuluki milenial sebagai generasi pancaroba—di mana kita mulai meraba-raba batasan perkembangan teknologi dan mulai mendefinisikan ulang segala kegiatan manusia. Makanya, wajar saja jika ide-ide kami terlewat gila. 

 

Lewat tengah malam, Mas Philip pamit pulang, dan saya duduk-duduk santai saja di tengah para pekerja desain yang mengejar deadline dan redaktur-redaktur yang masih betah berselancar di internet. 

Saya lalu iseng-iseng saja merecoki para penata visual yang sedang sibuk sambil melihat-lihat kerjaan di komputer mereka. Ujung-ujungnya, saya malah dapat pelajaran sejarah ngopi Tempo dari Mas Hindrawan. Katanya, Tempo itu unik karena punya cafe dan komunitas kopi sendiri.

Namanya Ngopi di Kantor. Konon katanya komunitas ini sudah cukup tenar sampai sering dipanggil ke luar kantor, luar kota, dan luar pulau untuk menyeduh. Inisiatornya Mas Eko, dan sebagian besar warga Tempo pun langsung semangat ikut karena sama-sama doyan ngopi. Mereka yang berminat mula-mula patungan untuk beli alat penggiling biji kopi, dan keterusan sampai-sampai meja olah kopi itu penuh dengan alat-alat tinggalan para anggotanya. Tak heranlah jika Tempo akhirnya bisa menghasilkan sejumlah brewer andal yang tiap hari menyeduh kopi secara cuma-cuma di dapur Tempo.

Komunitas itulah yang akhirnya mendatangkan banyak kantong-kantong biji kopi single origin sumbangan dari beragam wilayah Indonesia. Benar-benar seperti koleksi kopi!

Malam ini saya pulang dengan membawa sekantong kopi yang jadi kenang-kenangan awal waktu bermain saya di Tempo dari Mas Hindrawan. Saya yang sudah diseduhkan kesekian kalinya pun jadi kepengin coba keasaman lekat-lekat tiap jenis biji kopi seduh dengan perbandingan 1:12.

 

Lintang Cahyaningsih

 

(*) Catatan ini ditulis pada 09 Desember 2017 atas peristiwa 07 Desember 2017. Demi kenyamanan membaca, pencatatan tanggal dilakukan berdasarkan jatuhnya peristiwa.

Share

Leave a Reply