[Catatan Pemred] Hari 3: Dapur Umum

“Kenapa Tempo ingin buka dapur? Apa tidak takut ketahuan dan ditiru media lain?”

“Kenapa takut? Selama itu bisa meningkatkan kualitas media-media di Indonesia tidak masalah. Lebih bagus kalau mereka bisa belajar dari kita.”

—Saya dan Budi Setyarso

 

Saya kira pasti bukan hanya saya yang penasaran dengan dapur Tempo. Buktinya, selama empat hari ini sudah lebih dari dua puluh orang yang bertanya pada saya tentang alur kerja Tempo. Pertanyaannya macam-macam—dari apa saja kerja Pemred, bagaimana ritme kerja di harian cetak, rencana digitalisasi, hingga isu yang akan dibahas serta pertimbangan memilihnya. Jumlah itu pun masih terlepas dari banyak lainnya yang menanyakan tentang perasaan saya mencicipi kursi pimpinan salah satu produknya.

Waktu dulu saya mampir ke kampus dengan buku “Di Balik Investigasi Tempo 01” pun banyak yang langsung menyatakan diri ingin meminjam—bahkan di luar komunitas pers mahasiswa dan teman-teman Departemen Ilmu Komunikasi UGM.

Dari buku-buku yang membahas dapur Tempo itu saya jadi punya sedikit gambaran tentang praktik kerja jurnalistik di media nasional.

Ternyata, Tempo ingin membuka dapurnya lebih luas lagi—di balik bundel-bundel buku. Salah satunya ya dengan program “Rebut Kursi Pemred” ini, yang memungkinkan saya menjelajah ke rapat-rapat perencanaan dan melihat langsung proses pengerjaan produk. Ke depannya, penjelajahan saya ini akan ditayangkan di Tempo Channel sehingga mereka yang tertarik bisa mengintip dapur fisik Tempo.

Saya sempat menanyakan pertimbangan Tempo membuka dapur. Agenda itu, meski mungkin terdengar keren, secara bisnis juga memungkinkan media-media kompetitor untuk mendapatkan insights tentang operasional Tempo. Bukannya justru akan semakin tidak menguntungkan bila kompetitor bisa mengantisipasi manuver bisnis perusahaan?

Jawaban Mas Buset, seperti yang saya kutip di atas, cukup mengagetkan saya.

Siapapun yang mengamati Tempo pasti paham kalau media ini punya garis api yang lebih mengarah pada keredaksian dan nilai-nilai kelembagaan. Uniknya, dengan pertimbangan garis api justru keuntungan dinomorduakan. Dalam konteks ini, Tempo lebih memilih mengedukasi jurnalis dan publik ketimbang menyimpan sendiri formula pengembangan produk.

Sudah tiga orang yang berkata ke saya kalau Tempo ini tidak mungkin benar-benar kaya.

Tetapi bagi saya, semangat untuk terus mencipta karya berkualitas untuk kepentingan banyak lainnya ini sangat pantas mendapatkan apresiasi sebesar-besarnya.

 


 

Pagi ini perwakilan BPJS datang ke kantor. Agendanya, tentu saja, media visit untuk meluruskan rangkaian laporan pemberitaan Tempo belakangan. Hari sebelumnya, Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian RI, yang mampir ke sini. Kantor media memang tidak akan pernah bisa benar-benar sepi. 

 

Selain rapat perencanaan bahan harian Koran Tempo, hari ini saya juga ikut dalam rapat opini bersama Tim Evaluator Independen Tempo. 

Proses evaluasi di Tempo ini menurut saya sangat menarik karena benar-benar berorientasi pada publik. Selain melakukan proses evaluasi internal, Tempo juga rutin mengadakan evaluasi mingguan bersama Tim Evaluator Independen, yang terdiri atas tokoh publik dengan kapasitas penguasaan isu-isu terkini serta praktik pemberitaan yang bisa memberikan penilaian penuh secara independen. Tim ini bertugas untuk mengevaluasi keberpihakan media dalam editorial—untuk memastikan bahwa logika pikir di dalamnya benar-benar berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.

Tim evaluator ini terdiri atas Rahman Tolleng, Yopie Hidayat, dan Amarzan Loebis. Dalam rapat kali ini Amarzan Loebis tidak datang. Belakangan saya baru tahu kalau beliau terkena stroke baru-baru ini.

 

Rapat evaluasi opini di Tempo sedikit mengingatkan saya pada rapat-rapat evaluasi di pers mahasiswa dulu. Bedanya, editorial di Tempo menjadi poin krusial yang anglenya selalu dibicarakan dalam rapat dan mendapat evaluasi, sedangkan di BPPM Balairung UGM dulu justru editorial menjadi rubrik yang paling tidak pernah kena evaluasi. Rubrik itu menjadi kuasa para pengurus inti (biasanya ditulis oleh Pemred) dan karenanya jarang mendapat evaluasi, karena yang menjabat dianggap lebih paham dibandingkan lainnya. Kesalahan fatal, memang, karena editorial sejatinya mencerminkan sikap kelembagaan yang tak bisa terwakili satu-dua orang. 

Padahal di Tempo saja opini Budi Setyarso bisa dibantai habis-habisan.

 

Tentu saja hari ini saya tidak lupa ngopi—setengah gelas Gayo dan setengah gelas Lintong. Saya sebenarnya tidak biasa minum kopi setiap hari, apalagi single origin, tetapi ya kapan lagi saya bisa diseduhkan kopi oleh direktur dan redaktur Tempo! 

Burhan Sholihin, Direktur Tempo.co (sekarang di bawah PT Info Media Digital), adalah salah satu yang paling rajin menyeduhkan kopi. Kopi pertama yang saya minum di Tempo adalah hasil seduhan Mas Burhan, digiling tangan dan dituang-tuang jarak jauh dengan tarikan seperti teh tarik gaya Aceh. Mas Burhan ini hampir selalu bisa saya temukan sedang nyeduh bersama pimpinan-pimpinan lain di lantai empat.

 

Setelah ngopi saya dan Mas Buset duduk-duduk saja di ruangan—tetapi tentu dengan saya yang duduk di kursi panas. Saya mengerjakan proposal untuk Pak Toriq yang sepertinya tidak kelar-kelar, sedangkan Mas Buset menggarap tugas opini sesuai keputusan rapat tadi siang.

“Kamu kalau ngerjain suka dengar lagu atau enggak?” 

Ia lalu memainkan lagu yang rasanya terdengar sangat familiar. Ternyata adaptasi “Somebody to Love” dari Queen, salah satu lagu yang masuk ke daftar putar favorit saya. Setelah beberapa lagu, saya baru sadar, pilihan musik Mas Buset ternyata mirip-mirip dengan saya—dari Queen, The Beatles, Payung Teduh, dan sejumlah lainnya yang tak terhitung. 

Jadi ini selera musik saya yang ketuaan atau malah Mas Buset yang kemudaan?

 

Lintang Cahyaningsih

 

(*) Catatan ini ditulis pada 08 Desember 2017 atas peristiwa 06 Desember 2017. Demi kenyamanan membaca, pencatatan tanggal dilakukan berdasarkan jatuhnya peristiwa.

Share

Leave a Reply