[Catatan Pemred] Hari 2: Ancang-ancang Bermedia Tanpa Batas

Kemunculan internet adalah awal kemunduran media cetak. 

Sudah tak terhitung rasanya saya mendengar pernyataan semacam itu. Dari tenaga-tenaga pengajar, murid-muridnya, jurnalis, sampai mereka yang berada di luar industri media yang sudah pernah mencicipi kenyamanan berselancar di dunia maya—semuanya bersepakat bahwa media cetak kini mengalami kemunduran luar biasa seiring meluasnya akses internet.

Lantas kalau benar begitu, mau bagaimana?

Bagi saya jawabannya bukan lagi terletak pada perdebatan-perdebatan kecil yang sering terjadi antara pelaku industri media tentang akan mati atau tidaknya media cetak, melainkan lebih pada perancangan strategi-strategi solutif untuk merombak model transaksi bisnis yang kini masih berjalan satu arah. Permasalahan industri media jauh lebih luas dibandingkan sekadar kematian media cetak. Permasalahan-permasalahan sistemik seperti rendahnya upah jurnalis, ketergantungan media pada pengiklan, dan standar kualitas pemberitaan yang tak jelas membuat saya berpikir bahwa model bisnis seperti ini justru akan mematikan praktik jurnalistik itu sendiri. 

Sudah saatnya muncul disrupsi dalam industri media—yang karena saking besarnya bisa membuat para pelaku media keluar dari kerangka ketergantungan tak menyehatkan itu.

Tetapi, sekali lagi, bagaimana?

 


 

Akhirnya, pagi ini, saya bertemu juga dengan Budi Setyarso, Pemred Koran Tempo yang kursi dan ruangannya sudah saya ambil alih.

Udah, di situ aja.” Katanya, saya tidak boleh pindah pindah kursi sampai hari Jumat. Jadi begitulah—saya duduk di kursi Pemred, dan Pemred aslinya duduk di kursi seberang meja seperti tamu di kantor sendiri. 

Mas Buset ini orang sibuk bukan main—Pemred dari pagi hingga malam hari, tetapi masih saja aktif mengikuti kegiatan-kegiatan di berbagai komunitas. Kadang saya berpikir bagaimana caranya ia bisa curi-curi waktu untuk istirahat, padahal cek akhir koran saja sampai lewat tengah malam.

Malam ini pun agendanya penuh. Omah Munir mengadakan konser penggalangan dana, dan Mas Buset akan hadir sebagai salah satu donatur cum Pemred Koran Tempo.

Saya lagi-lagi mencoba berkenalan dengan dapur Tempo, kali ini lewat obrolan singkat bersama Mas Buset.

Katanya, Koran Tempo itu cukup aneh karena memiliki karakter perancangan pemberitaan yang berbeda dengan harian-harian cetak lainnya. Dalam Koran Tempo, berita utama yang ditampilkan tiap hari hampir selalu merupakan hasil perencanaan yang dimatangkan. Kecuali benar-benar penting dan berdampak besar, halaman cover Koran Tempo akan mengikuti rancangan yang sudah disepakati sebelumnya.

Mas Buset memberi contoh saat Indonesia kedatangan Raja Salman. Hampir seluruh media cetak harian menaruh peristiwa itu sebagai sampul halaman, tapi tidak begitu dengan Tempo. Alih-alih mengikuti tren, Tempo malah melanjutkan pemberitaan tentang e-KTP seperti yang telah direncanakan sebelumnya. 

Biar orang bisa punya pilihan mau berita apa dan tidak lupa dengan berita yang benar-benar penting,” ujarnya.

 

Sambil menunggu rapat selanjutnya, saya mampir ke meja-meja para redaktur dan akhirnya menemui beberapa orang yang bisa saya ganggu. Salah satunya Bagja Hidayat, Redaktur Pelaksana Majalah Tempo. 

Saya pikir Tempo memang tidak mau berubah.”

Tidak, Tempo terbuka dengan perubahan karena target pembaca kami juga semakin muda. Jadi gimana menurutmu sebagai anak muda?

Saya berdiskusi lumayan panjang dengan Mas Bagja, dari membahas media cetak yang hampir mati, paywall yang membuat malas mengakses berita, dan model majalah dan koran yang lebih cocok untuk menghadapi generasi milenial. Dari sana saya jadi tahu kalau ternyata Tempo memiliki agenda digitalisasi besar-besaran yang membuatnya jadi terbuka dengan ide-ide inovasi inkonvensional.

Katanya, disrupsi digital itu penting, termasuk dalam industri media. 

Diskusi kami tentang medium digital terpaksa terpotong singkat karena saya harus mengikuti rapat pemeriksaan bahan rutin untuk Koran Tempo edisi esok hari.

 

Sore hari, saya akhirnya mengikuti salah satu agenda sakral tim Tempo—kumpul-kumpul santai sambil menyesap seduhan kopi single origin manual brew. Saya masih ingat rasa kopi yang saya minum hari itu—kemasaman dan kekentalannya pas di lidah saya. Sayangnya, saking seringnya saya diajak mampir untuk ngopi bareng, saya jadi lupa bijih kopi yang satu itu asalnya dari mana. 

Informasi tambahan, koleksi perlengkapan nyeduh dan bijih maupun gilingan kopi di Tempo itu luar biasa banyak. Koleksi, kayaknya.  Saya yang belum paham jenis-jenis kopi dan alat-alat seduhnya katanya harus dilatih sampai bisa.

Ada kesepakatan tidak tertulis antara masyarakat Gedung Tempo—Pemred harus bisa nyeduh.

Kapan lagi kan bisa ngopi bersama direktur, Pemred, dan redaktur Tempo?

 

Setelah lumayan melek karena sepertiga gelas kopi seduhan—ya, sesedikit itu—saya ikut rapat dengan Tim Transformasi Digital. Tim yang dipimpin oleh Bli Komang ini bertugas merencanakan kesiapan Tempo menghadapi dunia yang semakin terdigitalisasi. Saya yang bekerja di digital startup pendidikan dengan ketertarikan di jurnalisme jadi sangat tertarik dengan perencanaan yang dibangun tim ini. Kami membicarakan banyak hal yang luar biasa menarik untuk dikembangkan yang sayangnya tidak bisa saya ceritakan.

Saat mengikuti rapat digital, saya mendadak jadi teringat rapat-rapat saya dengan tim PrivatQ saat membahas rencana pengembangan produk. Ide-ide inovatif ditampung kemudian dijadikan kemungkinan-kemungkinan yang akan dinilai kesesuaiannya lebih lanjut—ibarat brainstorming tak berbatas. 

Kultur pengembangan produk yang identik dengan usaha-usaha khas startup ini memang sudah sepantasnya mulai diadaptasi oleh media. Perusahaan media masa kini tidak akan mungkin hanya bisa berkembang bila hanya bertindak sebagai produsen konten. How we consume menjadi salah satu faktor penting dalam pertimbangan konsumsi.

Semoga saja, dengan rencana-rencana yang sudah disiapkan, Tempo bisa menembus kultur media tanpa batas dan bertahan hingga berpuluh tahun lagi.

 

Malamnya, saya mengikuti ajakan Mas Buset untuk datang ke konser penggalangan dana revitalisasi Museum Hak Asasi Manusia yang dikelola Omah Munir. Toh Pemred memang bukan pekerjaan kantoran saja.

Banyak musisi terkenal yang hadir dalam acara itu, namun favorit saya tetap saja sesi pembacaan cerpen secara teaterikal khas Butet Kertaradjasa. Malam itu Butet membawakan cerpen “Saksi Mata” karya Agus Noor yang diadaptasi untuk menyesuaikan kasus pembunuhan Munir.

“Seorang aktivis terbunuh, tapi kematiannya menjadi misteri tak terpecahkan.”

Salah satu cerpen karya Agus Noor favorit saya yang mulanya tidak bisa saya kenali karena adaptasi awal yang sangat berbeda, namun tetap dibawakan secara luar biasa. 

Saya juga bertemu dengan beberapa tokoh penggerak HAM seperti Suciwati, istri mendiang Munir yang hingga kini masih aktif mengawal advokasi keadilan dalam kasus Munir. 

Saya jadi mendadak teringat pada kutipan Susilo Bambang Yudhoyono saat masih menjabat menjadi presiden dalam tentang kasus ini. “A test to our history“—tidak ada yang mengerti betul apa yang dimaksud SBY pada saat itu, namun frasa yang diucapkan dalam Bahasa Inggris dan terdengar keren tersebut rasanya masih belum memiliki tindak lanjut dengan perwujudan nyata semenjak mandeknya Tim Pencari Fakta kasus Munir. 

Apa iya kasus ini akan mangkrak seperti banyak kasus-kasus pelanggaran HAM lainnya?

Lebih lanjut tentang konser penggalangan dana Omah Munir dapat dibaca di sini.

 

Sesampainya di kos, sekitar pukul sepuluh lewat, smartphone saya mulai berdering. Bunyinya saling berkejaran dan malah seperti serangkaian lagu panjang yang tak kelar-kelar. Itu tanda waktunya cek akhir untuk Koran Tempo edisi esok hari. Telepon saya hanya akan berhenti berdering saat lewat tengah malam.

Sambil membaca-baca salinan awal pemberitaan esok hari, saya kembali teringat pada pertanyaan Mas Philip kemarin. 

Apa menurutmu sistem kerja seperti ini masih bisa dipakai?

Dalam hati saya geleng-geleng saja. Bukannya tidak bisa, namun pola kerja harian cetak nasional yang seperti ini menurut saya masih belum memanusiakan pekerja media, khususnya bagi yang tinggal bersama keluarga. Pola bekerja yang masih rigid dalam rentang waktu tak rasional, ditambah dengan gaji pas-pasan pada akhirnya justru menyulitkan kesempatan regenerasi.

Jadi kita kembali pada pertanyaan di atas—jika media cetak harian sudah tak ideal, lantas apa?

Bagi saya preferensi wadah bermedia memang wajar jika silih berganti. Yang menjadi permasalahan adalah lantas praktik jurnalistik itu, berikut banyaknya para pekerja media cetak harian seantero jagad, mau dibawa ke mana?

 

Saya menulis ini sambil mencorat-coret rancangan wadah bermedia baru yang harapannya dapat menyelesaikan permasalahan sistemik praktik pemberitaan. Teknologi seharusnya tanpa batas, dan karena itu tidak sepantasnya bila kehadirannya justru memberikan batasan-batasan yang menyulitkan praktik jurnalistik.

Mau tak mau media harus dipaksa untuk melek teknologi agar tidak tertinggal dan lenyap dalam the age of information overload.

 

Lintang Cahyaningsih

 

(*) Catatan ini ditulis pada 07 Desember 2017 atas peristiwa 05 Desember 2017. Demi kenyamanan membaca, pencatatan tanggal dilakukan berdasarkan jatuhnya peristiwa.

Share

Leave a Reply