[Catatan Pemred] Hari 1: Mari Belajar Menggali Bumi!

“Kamu itu pernah nulis nggak sih?”

 

Saya masih ingat jelas pertanyaan salah satu senior saya di pers mahasiswa dalam proses editing berita pertama lima tahun silam. Rasanya selama lima tahun berkenalan dengan jurnalisme, pertanyaan satu itu yang meninggalkan kesan paling tajam. Saya juga masih ingat perasaan saya waktu dikomentari begitu—kesal, sedikit gemas, dan putus asa, tapi semua itu tertutup dengan rasa malu luar biasa. Menulis struktur kalimat standar saja waktu itu saya kewalahan—sungguh bikin malu kalau diingat-ingat! Siapa sangka bocah yang tidak bisa menghubungkan subjek-predikat itu duduk di kursi Pemred Koran Tempo mulai hari ini?

 

Saya menggusur Budi Setyarso dari kantor dan kursi panasnya dengan persetujuan seluruh masyarakat Gedung Tempo.

Bukan hanya menggusur kantor saja, julukan “Pemred” (dengan tanda kutip) juga saya curi dengan perizinan Dewan Direksi.

Beberapa jam belakangan saya masih membiasakan diri untuk menoleh saat dipanggil “Bu Pemred”, termasuk yang datang dari suara-suara yang kedengarannya jauh lebih sepuh dan senior dari saya.

 

Tahun-tahun awal saya berada di pers mahasiswa, saya rajin membaca buku kecil hitam yang terlewat sering menjadi rujukan penulisan berita gaya feature, “Seandainya Saya Wartawan Tempo.” Saya suka menjulukinya dengan akronim SSWT dan menambahkannya dalam daftar bacaan wajib awak redaksi BPPM Balairung UGM. Buku yang ditulis Goenawan Mohamad itu sampai robek-robek saking seringnya digunakan sebagai alat bantu awak redaksi. Sekarang sepertinya saya lebih perlu membaca versi terbaru yang seharusnya menjadi pekerjaan rumah Budi Setyarso sebelum menyerahkan kursinya—“Seandainya Saya Pemimpin Redaksi Tempo.”

Belakangan saya dengar kalau penulis buku aslinya menitipkan ucapan selamat menjabat untuk saya, meskipun hingga kini belum bertemu langsung.

 


 

Pagi ini saya berangkat ke Gedung Tempo dengan perasaan luar biasa tak beraturan—semangat membuncah bertumpah ruah karena akhirnya bisa mengintip dapur media yang dulu artikel-artikelnya suka saya kliping, namun juga takut bukan main karena meskipun pura-pura, selama lima hari saya akan mendapat label “Pemred” yang seakan dicetak besar-besar dan ditempel di dahi. 

Saya juga berangkat dengan pengharapan kecil. Sangat tidak mungkin komentar dan masukan seorang Lintang Cahyaningsih akan dipertimbangkan oleh media sekelas Tempo—paling hanya diminta berkenalan dan foto-foto saja, ikut rapat itu formalitas!

Ternyata saya salah.

Ya sebagian saja salahnya karena saya mendadak punya empat orang fotografer-videografer pribadi yang mengikuti saya ke mana-mana hari ini, ibarat Najwa Shihab dengan tim pribadinya

Sesampainya di kantor, saya langsung diberi arahan oleh Philipus Parera, Redaktur Eksekutif Koran Tempo. Dari sana saya dapat bocoran tentang sistem kerja beberapa media outlet Tempo, alur pengerjaan Koran Tempo berikut deadline yang cukup menakutkan, dan deskripsi pekerjaan yang langsung memantik bayangan Budi Setyarso dengan beban dua puluh kilo di pundak. Dalam pembicaraan singkat itu terungkaplah dapur Tempo yang selama ini hanya saya bayangkan saja.

Setelah itu saya bertemu dengan Wahyu Dhyatmika, Pemimpin Redaksi Tempo.co yang akrab disapa Bli Komang. Bli Komang ini adalah satu dari sejumlah kecil yang wajahnya bagi saya cukup familiar di Gedung Tempo. April lalu, saya sempat berkenalan dengan Bli Komang dalam pelatihan jurnalisme data yang menjadi bagian dari beasiswa jurnalisme Aliansi Jurnalis Independen (AJI). 

Jadi, gimana kira-kira idemu kemarin kapan bisa dijalankan?

Saya tentu kaget. Saya sampai perlu mengingatkan diri kalau yang dimaksud Bli Komang adalah ide yang saya presentasikan untuk kompetisi Rebut Kursi Pemred dalam Tempo Media Week dua pekan lalu, yang juga mengantarkan saya ke Palmerah Barat hari ini.

Saya tidak menyangka kalau media nasional seperti Tempo akan sangat terbuka terhadap masukan-masukan dari mahasiswa seperti saya.

Ide saya akan siap dieksekusi bulan depan, sejalan dengan agenda Tempo untuk membuka dapurnya bagi masyarakat luas.

Setelah berdiskusi panjang dengan Bli Komang, saya mampir ke ruang sebelah dan dikenalkan dengan orang-orang yang selama ini hanya saya kenal melalui nama dalam media-media besar. Ada Toriq Hadad, Arif Zulkifli, dan Sri Malela Mahargasarie—ketiganya adalah bagian dari Dewan Direksi Tempo Media Group yang sungguh ingin saya temui sejak beberapa tahun lalu.

Sayangnya kali ini saya belum sempat berdiskusi lebih lanjut dengan ketiganya karena terdesak agenda selanjutnya, Rapat Pemeriksaan Bahan Koran Tempo.

Budi Setyarso tidak datang di rapat kali ini. Bukan karena merasa aman digantikan saya, tentunya, tetapi karena ada agenda perusahaan lain yang harus dihadiri. 

Jadi siapa yang memimpin rapat?

Katanya sih saya….

Kenyataannya, tentu saja, saya terlalu kikuk berada di antara para redaktur senior Koran Tempo. Banyak pengetahuan spesifik dalam desk yang tidak saya mengerti, termasuk di antaranya alur pengajuan praperadilan dan skema pembiayaan program-program pemerintahan. Akhirnya, saya lebih banyak mendengarkan karena takut memberikan masukan yang tidak relevan, meskipun sebenarnya selalu dimintai pertimbangan dan masukan di sela-sela rapat.

Saya memberikan masukan untuk isi infografis cover—yang ternyata langsung ditindaklanjuti. Saya sungguh diperlakukan setara dengan anggota-anggota rapat lainnya.

Agenda ketok palu tiap rencana pemberitaan diserahkan pada saya, dan saya, dengan kikuk dan malu-malu, memberikan persetujuan. 

Menjelang sore hari, saya lebih banyak berkeliling dan berkenalan dengan staf-staf Tempo Media Group. Sesekali saya ditarik, diajak foto, diskusi singkat, dan tidak lupa orang-orang memberikan kalimat pamungkas, “Baru kali ini lho Koran Tempo punya Pemred wanita.” No pressure, people!

Lepas Maghrib, saya turun satu lantai untuk mengecek desain ilustrasi halaman depan Koran Tempo edisi Selasa (05/12). Yang mengerjakan ilustrasinya ternyata Kendra Paramita, yang namanya sering saya lihat berseliweran di cover Majalah Tempo dan dalam pameran ilustrasi-foto Tempo Media Week—katanya sih ilustrator pinjaman. Saya yang selama ini bingung mengira-ngira Kendra ini Mas atau Mbak jadi tahu, “Oh, ternyata mas-mas.”

Setelah cek cover saya bersiap pulang. Tentu, kerja Pemred sebenarnya masih berjalan sampai lewat tengah malam nanti untuk cek akhir sebelum cetak. Ke depan, setelah minta izin dari Budi Setyarso untuk masuk ke grup Whatsapp Koran Tempo, saya juga akan membantu proses cek akhir.

Saya jadi teringat proses cek akhir dulu saat masih menjabat di pers mahasiswa—berjam-jam membaca tulisan sambil terkantuk-kantuk di akhir pekan dalam rumah tua yang kesannya bila dilihat dari luar sudah siap ambruk—para pegiat B21 pasti paham. Cek akhir di media cetak harian tentu jauh lebih berat dengan jumlah artikel yang banyak dan waktu pengerjaan yang lebih singkat.

Kegiatan saya sehari ini mengingatkan saya kalau Pemred itu bukan hanya harus memiliki kemampuan penguasaan isu yang baik, tetapi juga dedikasi luar biasa untuk mengawal pengerjaan produk dari awal hingga akhir. Saya, yang tidak akan bisa menggantikan kerja Budi Setyarso sepenuhnya, seperti belajar menggali bumi, mempelajari suatu hal yang rasanya tak berbatas dan masih mengais-ngais permukaannya.

Dan pastinya, bahwa semua (kecuali yang menduduki jabatan lebih tinggi tentunya) mengikuti keputusan Pemred—meskipun hanya Pemred lima hari.

 

Lintang Cahyaningsih

 

(*) Catatan ini ditulis pada 06 Desember 2017 atas peristiwa 04 Desember 2017. Demi kenyamanan membaca, pencatatan tanggal dilakukan berdasarkan jatuhnya peristiwa.

Share

Leave a Reply