Batik sebagai Bentuk Kecintaan Budaya

Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bekerja sama dengan Kelompok Anak Muda Pencinta Batik (KLAMB) menggelar peragaan busana berjudul ‘Fashion on The Street – Batik: Sebuah Peradaban,’ Sabtu (26/10). Acara yang diselenggarakan mulai pukul empat sore hingga sepuluh malam ini merupakan bagian dari rangkaian acara peringatan hari batik nasional, Sabtu (02/11). Peragaan busana ini menggunakan Jalan Prawirotaman sebagai panggungnya. Panitia menutup kedua akses masuk ke jalan tersebut supaya kendaraan-kendaraan bermotor tak menghalangi jalannya acara.

Peragaan busana ini mengambil batik sebagai tema utama. Kain batik yang digunakan diolah menjadi pakaian bergaya anak muda.  “Kami ingin mematahkan anggapan masyarakat bahwa batik itu hanya pantas dipakai orang tua,” tutur Lia Mustafa, Ketua APPMI DIY. Menurutnya, batik pantas untuk digunakan masyarakat dengan berbagai usia, dari orang tua hingga anak muda. Lia berpendapat bahwa kecintaan terhadap budaya dapat dicerminkan melalui pemakaian busana batik. Karenanya, anak muda harus terbiasa mengenakan batik. “Jangan mengaku anak muda kalau enggak punya batik,” pungkasnya.

Tri Kirana, istri Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, berpendapat serupa. “Dengan batik kita dapat mengangkat budaya lokal Yogyakarta,” jelasnya. Ia menilai bahwa anak-anak muda yang menggunakan busana batik dengan gaya bervariasi patut diapresiasi. “Hal ini merupakan bentuk kreativitas anak-anak muda Yogyakarta,” ungkap Ana.

Acara ini bertempat di Desa Prawirotaman karena daerah tersebut dinilai memiliki sejarah yang berkaitan erat dengan batik. “Dulunya desa ini terkenal dengan julukan ‘Desa Batik’,” ujar Suhartono, salah seorang warga Prawirotaman. Ia menjelaskan bahwa dulu banyak terdapat pengusaha kecil batik tulis di desa tersebut. Meski begitu, sekarang Desa Prawirotaman lebih dikenal sebagai ‘Desa Turis’ karena menjadi sasaran wisata turis-turis asing yang berlibur ke Yogyakarta. “Kami harap acara ini dapat mempromosikan batik sebagai budaya nasional sekaligus Desa Prawirotaman sebagai tujuan wisata,” ungkapnya.

Acara dibuka dengan tarian kontemporer oleh lebih dari seratus wanita anggota Universal Line Dance Yogyakarta. Pembukaan dilanjutkan dengan tarian salsa secara berpasangan yang dibawakan Salsa Community Yogyakarta. Selain dalam bentuk tarian, pembukaan juga diisi dengan karnaval sepeda onthel berupa iring-iringan sepeda oleh Komoenitas Onthelis Yogyakarta.

Selesai pembukaan, peragaan busana pun dimulai. Panggung berupa jalan desa sepanjang 125 meter itu digunakan sebagai tempat berjalan para peraga busana. Busana-busana yang dipamerkan para peraga busana tersebut merupakan hasil rancang sepuluh perancang busana muda yang tergabung dalam KLAMB dan APPMI DIY. Beberapa di antara mereka adalah Lili Gunawan, Riris Aprilia dan Dani Wilastri.

Busana-busana yang ditampilkan memiliki konsep dan cerita yang berbeda. Busana bergaya muslimah rancangan Lili, contohnya, berkonsep berbeda dengan busana bersemburat coklat kehitaman rancangan Dani. Meski berkonsep berbeda, seluruh busana itu menunjukkan keinginan para perancangnya untuk mempopulerkan batik di kalangan anak muda. “Saya harap inovasi-inovasi rancangan seperti ini dapat menghidupkan cinta anak muda terhadap batik,” tutur Dani.

Rani Widyowati, salah seorang pengunjung mengaku tak lagi memandang batik sebagai busana resmi khas orang tua setelah menonton peragaan busana tersebut. “Model-model hasil rancang mereka cocok untuk dipakai remaja sehari-hari,” ungkapnya.

Pukul enam sore peragaan busana berakhir. Toko-toko kecil di sepanjang Jalan Prawirotaman pun digunakan sebagai tempat berlangsungnya acara selanjutnya yang berupa bazar, konser mini dan pameran batik. Hingga pukul sepuluh malam, rangkaian acara tersebut dapat dinikmati secara gratis di sepanjang Jalan Prawirotaman.

20130708021014Foto: ANTARA News

Sebenarnya ini tulisan untuk uts take home Dasar-Dasar Penulisan Oktober kemarin. Awalnya sih ini niatnya mau sekalian buat www.balairungpress.com, tapi berhubung nggak ada fotografer yang bisa alhasil gagal deh. Berhubung tulisannya straight, harusnya udah basi sih, tapi ya mendingan dipost aja daripada cuma jadi salah satu dokumen di laptop merah mudaku.

Share

Leave a Reply