#1 – Anggrek dan rintik air hujan

“Kau tahu—tante itu kata serapan dari Bahasa Perancis. Nanti kalau sudah besar, ma chère juga akan memanggilmu begitu. Tante Sila. Cantik, bukan?”

 

Tiga tahun empat bulan. Itu kalau aku tidak salah hitung.

 

“Dek Sisilia, sudah jangan ngalamun saja. Ini piring-piringnya disiapkan terus dibagikan ke tamu yang baru datang. Ibu masih ndak mau keluar kamar—adek jangan malah ikut-ikutan.”

Bayang-bayang wanita yang baru saja terbangun dari lamunan itu cantik bukan main. Sosoknya tinggi semampai, dengan rambut hitam lurus yang digerai hingga ke pinggang. Wajahnya sendu, namun tetap saja setiap orang yang melihatnya tak pernah lupa memberikan pujian terhadap keindahan wajah mungil sang wanita—meski seringkali sebatas diucapkan dalam hati.

Kali ini wanita itu memilih untuk duduk terdiam di antara bingkai-bingkai jendela raksasa ruang tamu. Sila, begitu ia seringkali disapa, tak lagi memedulikan tatapan serta keriuhan mereka yang sejak tadi berjalan melintasi. Seluruh empati, ungkapan berduka cita, serta seruan menata diri itu tak sedikitpun bisa menarik perhatiannya. Hanya bayang remang-remang seorang gadis kecil berambut kemerahan yang meraja di pikirannya.

 

Satu lagi perempuan paruh baya datang menghampiri.

“Dek Sila, sebentar lagi acaranya mulai. Ayo ke sana, duduk yang bener. Mamanya dikuatin.”

Sila tetap diam. Sepasang matanya tetap tertuju ke sebatang anggrek bersemburat keunguan yang menginangkan diri pada pohon mangga tua di halaman depan rumah bergaya Belanda. Anggrek menjadi pengawal kedekatannya dengan si gadis cilik keturunan Perancis. Namun ironis, bunga itu juga yang menjadi saksi terbenamnya tawa malu-malu itu.

 

“Sila.”

Kali ini suara yang datang lebih familiar—dalam dan tajam, namun disampaikan dengan penuh kelembutan selayaknya mencoba mendekatkan diri pada kucing liar yang bisa sewaktu-waktu melarikan diri jauh-jauh.

Leo, I’m so sorry.” Kalimat itu diucapkan Sila pelan-pelan di antara sengguk dan usahanya menahan tangis—benar-benar hampir tak kentara. “Aku tahu nggak seharusnya aku di sini,” lanjut Sila, kedua matanya masih terkunci pada kuncup bunga anggrek di halaman depan.

“Ini bukan salahmu. Ingat, semuanya sudah tertulis,” ujar lelaki berdarah Perancis yang kini merunduk menjajari Sila. Ia merangkul bahu wanita dihadapannya dan mengusapnya pelan, mencoba menenangkan. “And I know you’re hurting too…

Serentak sengguk Sila terhenti. Ia mengalihkan pandangan, diam-diam mencuri pandang ke sosok yang telah menjadi kakak iparnya selama lebih dari sepuluh tahun itu. Rambut ikal kemerahannya sudah sedikit kepanjangan dan tak beraturan. Semburat itu mengingatkan Sila pada si gadis cilik kesayangannya, Amelia.

Tangan kanan Sila bergerak perlahan tanpa dikomando, mendarat di sisi kiri kepala laki-laki di hadapannya, dan mengusap rambutnya pelan.

“Sila…”

Spontan kesadaran Sila terhentak dari lamunan dan ia buru-buru menarik tangan kanan kembali ke pangkuan. Wanita itu mengusap kedua matanya dan kini benar-benar yakin kalau yang ada di hadapannya itu Leo, lelaki berdarah campuran yang dinikahi kakak perempuannya saat bersekolah di Perancis—bukan Amelia.

 

Sila menarik napas dalam-dalam.

“Dulu kakakku pernah bercerita, meski Bahasa Indonesia dan Bahasa Perancis itu jauh berbeda, ada beberapa kata serapan yang menelan bulat-bulat maknanya secara tepat—salah satunya tante. Baginya, itu berarti dalam keadaan apapun, aku akan menjadi sosok tante yang hebat untuk Amel. Tetapi justru aku yang menghentikan tawa-tawa mungil itu dan mengambil kebahagiaan kalian. Aku bahkan belum meminta maaf baik-baik, dan sekarang ia juga pergi. Aku harus bagaimana?”

Nada Sila meninggi. Kini ia setengah berteriak. Leo, masih merundukkan diri di depannya, hanya bisa diam. Ia pun tak tahu harus berkata apa.

 

Dari jendela tempat Sila bersandar terlihat kuncup anggrek bersemburat ungu yang kini sedang melawan rintik air hujan. Samar-samar terdengar suara surat Yasin dibacakan, mengeras seiring dengan datangnya hujan. Kembali, segalanya mengingatkan Sila pada si gadis cilik bernama Amelia.

 

Di suatu kala aku bercerita
pada hujan dan rintik debu dalam udara yang dibasuhnya
tentang rindu yang tak pernah pulang
dan rasa yang tak tercerna dalam hampa

 

Segala yang asing
menyesap, kemudian hilang dan pergi
meninggalkan ruang untuk sang penyair
sembari berbisik, “aku tak akan kembali”

—Sila

 


 

Ini adalah coretan fiksi pertama saya setelah bertahun-tahun lamanya. Tulisan ini adalah upaya saya memperjelas coretan-coretan fiksi lainnya yang nampaknya tidak jelas dalam halaman ini—meskipun sebenarnya juga masih tidak jelas! Supaya lebih jelas terhadap alur ceritanya, silakan cek tautan ini.

Cheers!

Lintang Cahyaningsih

Share

Leave a Reply