#15 – Siapa Bilang Ahok Minoritas?

Di Indonesia itu tidak ada agama pribumi. Semua agama datangnya dari luar, sama saja dengan sebagian besar ras campuran. Jadi tidak ada yang namanya mayoritas-minoritas. Kalau mau tahu agama asli orang-orang Indonesia, silakan tanyakan pada Homo Sapiens dan Homo Wajakensis dulu.

—Asep, Pendiri Komunitas Historia, 2017

Hari ini saya dan teman-teman pelatihan yang diadakan AJI dan British Council Indonesia main ke Kota Tua. Yang bikin saya senang bukan bagian Kota Tua-nya—karena sesungguhnya saya lebih tertarik pada kompleks-kompleks bangunan tua kecil di Jalan Malioboro—tetapi justru perjalanan menuju ke sana. Saya berangkat dari Hotel Morrissey di daerah Kebon Sirih, dan untuk menuju Kota Tua harus melewati kompleks rumah-rumah pemerintahan Ibukota. Akhirnya saya bisa lihat juga karangan bunga Ahok-Djarot yang tenar itu!

Kata pemandu kami, Mas Asep, karangan bunga yang dipasang sampai jalan-jalan sekitaran Monas itu kalau dijumlah harganya sampai lebih dari 3 Miliar rupiah. Saya sampai merinding baca ucapan-ucapan penuh kasih di sepanjang jalan. Ahok jelas akan menjadi salah satu tokoh yang dibahas dalam buku pelajaran sejarah politik kontemporer Indonesia.

Salah satu karangan bunga yang menarik perhatian saya adalah yang membahas tentang karakter Ahok sebagai orang keturunan Tionghoa. Kiranya begini bunyinya, “Tetap semangat, Pak Ahok. Andalah ‘Pribumi’ yang sesungguhnya!” Tulisan Pribumi dalam rangkaan itu dicetak di tengah papan besar-besar, pakai huruf kapital semua, dan diberi tanda kutip. Sayang benar saya tidak sempat foto karena busnya keburu melaju.

Gara-gara tulisan itu saya jadi kepikiran—sebenarnya apa dan/atau siapa sih yang biasa disebut pribumi? Hasil pencarian singkat saya di KBBI mengatakan kalau pribumi berarti penghuni asli. Tetapi, lagi, siapa yang bisa dikatakan sebagai penghuni asli Indonesia? Apa iya, saya, yang sering menyebut diri sebagai wong Jowo itu bisa disebut sebagai pribumi?

Mengakhiri perjalanan kami ke Kota Tua, Mas Asep bercerita tentang apa yang menurutnya, seorang sejarawan, pikirkan tentang konsep pribumi. Katanya tidak ada orang yang benar-benar bisa disebut sebagai pribumi. Pribumi bukanlah kata yang digunakan sebagai pandangan analitis-historis dalam mengkaji kebudayaan, melainkan justru salah satu sekat politis untuk mengeksklusifkan satu kaum atas lainnya. 

Saya benar-benar sepakat dengan pendapatnya. Konsep pribumi hanyalah salah satu bumbu dalam isu mayoritas-minoritas. Ia diciptakan, bukan benar-benar ada. Konsep pribumi dikenal kuat di masa-masa penjajahan, untuk memberikan konteks atas yang dijajah dan yang menjajah. Dalam film Pocahontas, yang diberi julukan sebagai pribumi adalah Native Amaricans yang dideskripsikan sebagai ignorant savages. Tetapi apa iya penggunaan kalimat dengan makna tersebut sesuai konteksnya dengan kasus Ahok?

Kata Mas Asep, lagi, kaum Tionghoa datang ke Indonesia jauh sebelum tentara-tentara Eropa—ribuan tahun lamanya. Jadi, layaknya orang-orang India dan Arab, kelompok itu berasimilasi cukup lama dengan para penduduk asli yang notabene adalah keturunan manusia-manusia purba khas Indonesia. Tetapi uniknya, tidak ada yang pernah menyebut-nyebut Aceh sebagai penjajah atau non-pribumi. Jadi sebenarnya siapa yang benar-benar asli?

Indonesia bukan negara Islam dan tidak akan menjadi negara Islam—begitu pula masalah ras, suku, dan sebagainya. Tidak ada manusia yang menjadi representasi atas sebenar-benarnya Indonesia, tetapi kita semua orang Indonesia.

Betapa menyenangkannya bila semua orang bisa berpikir seperti itu.

Masih mau berpikir Ahok bukan orang pribumi?

 


 

Hari ini saya mulai dapat plotting penugasan reportase dari Liputan6.com. Rencananya, selama tiga hari akan ada sejumlah konten yang dimasukkan, kalau bagus ya akan diterbitkan. Konten yang dimaksud meliputi tulisan, foto, dan video—di sini saya sungguh bersyukur karena dikelompokkan dalam tim bersama videografer dan fotografer! Besok saya akan liputan ke sejumlah wilayah, jadi jangan kaget kalau mendadak isi blog ini akan beralih ke tulisan-tulisan hasil reportase. 

Good luck, me!

 

Lintang Cahyaningsih

Share

Leave a Reply