#20 – Jatuh Kesekian Kali

If I failed, that simply meant that I was not, nor have I tried, good enough. In any circumstances, the best prevails, though not all who do so are the best.

Entah ini sudah kegagalan kali berapa yang saya alami. Tapi rasanya ini salah satu yang paling dalam. Mungkin karena seluruh orang yang kenal baik dengan saya bilang kalau untuk yang satu ini, saya tak akan kalah. Ternyata masih juga begitu.

Dengar-dengar pertimbangan pemilihan kali ini didasarkan pada latar belakang peserta—secara geografis, pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin, dan isu yang dipilih. Tapi tetap saja bagi saya kegagalan tidak akan pernah bisa dijustifikasi. Namanya gagal ya gagal—you’re simply not any better than them.

Masalahnya lagi itu di bidang yang saya benar-benar yakin tak akan kalah, baik tentang kemampuan teknis maupun semangat.

Sakit hati? Jelas iya. Saya sedih bukan main sampai tidak bisa menulis berhari-hari karena ini. Tapi toh mau bagaimana lagi.

 

 

 

Sebenarnya saya sudah janji pada diri sendiri, kalau yang ini berhasil akan kembali menekuni jurnalisme, yang dulu saya kejar-kejar hingga rela menambah satu tahun kuliah. Tetapi apa daya sudah begini.

 

 

 

 

Kapan lagi Kau bisa berpikir

Angin bisa mendentangkan jeruji

Tak terlihat namun terdengar berbisik

Kala itu juga batin diakhiri

 

 

Lintang Cahyaningsih

Share

Leave a Reply