#18 – Pendidikan Jurnalisme

Saya adalah orang yang setengah percaya pada ungkapan practice makes perfect. Setengahnya lagi saya alokasikan untuk pandangan skeptis terhadap praktek tanpa landasan. Makanya, saya lebih suka mempelajari dasar-dasar ilmu dulu sebelum akhirnya terjun langsung untuk mengasah kemampuan—termasuk dengan jurnalisme.

Beberapa hari lalu saya terpaksa melanggar prinsip dasar itu. Masa magang yang terlewat singkat di Liputan6.com membuat saya harus langsung turun lapangan dan terus menulis dari hari pertama tanpa pembekalan mengenai karakter pemberitaan.

Ini seharusnya jadi hari terakhir saya di media itu, namun rasanya masih saja ada sesuatu yang tak tuntas. Saya dipaksa membuat feature harian, dengan waktu menulis kurang dari tiga jam untuk seribu kata. Jika tidak sesuai kemudian harus ditulis ulang. Benar-benar learning by doing!

Lalu, apakah saya benar-benar belajar?

Jawabannya ya dan tidak. Saya belajar untuk menulis kilat, tentunya, tetapi masih saja tidak tahu apa-apa tentang karakter pemberitaan Liputan6.com yang sesungguhnya, karena tak pernah diberi panduan dari awal.

Saya sampai tidak enak hati membagikan tulisan-tulisan yang, setelah saya baca kembali di Liputan6.com, terlihat jelek bukan main. Rasanya ingin menghapus bagian itu dan mengedit sendiri.

Hampir seluruh praktisi media yang saya temui berkomentar kalau jurnalisme itu kemampuan, sehingga pendekatan berbasis praktek akan lebih cocok untuk digunakan. Tetapi bagi saya pendekatan macam itu tak bisa dilakukan secara penuh. Landasan pengetahuan tentang dasar-dasar kegiatan jurnalistik tetap perlu diberikan dalam tahapan awal, termasuk mengenai karakter media.

Hari ini saya ikut pelatihan berita dengan teman-teman Liputan6.com yang diisi oleh Pak Masmimar Mangiang, jurnalis senior sekaligus Dosen UI. Pendekatan Pak Masmimar sangat practice-based sehingga bisa diterapkan oleh praktisi lapangan, namun memberikan landasan konseptual mengenai praktik-praktik jurnalisme.

Salah satu yang menjadi bahasan dalam pelatihan itu adalah praktik penulisan jurnalisme online yang suka menghadirkan kisah sepotong-sepotong dengan tautan sebagai pelengkap. Katanya, tidak mungkin menerima pengetahuan utuh dalam koten-konten media onlne.

Dalam konteks ini saya lagi-lagi harus setengah setuju. 

Lebih lanjut tentang materi pelatihan Pak Masmimar Mangiang akan saya lanjutkan dalam tulisan ini esok hari.

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Lintang Cahyaningsih 

Share

Leave a Reply